Telaah | 28 Agustus 2015 15:11 WIB

Memahami Devaluasi Tiongkok


Nilai tukar mata uang Tiongkok, yuan renminbi, telah beberapa kali mengalami penyesuaian. Penyesuaian nilai tukar tersebut tidak hanya menyangkut besarannya, melainkan mencakup sistem nilai tukar yang dianut.


Sejarah mencatat bahwa negeri tirai bambu ini konsisten menerapkan kebijakan yang hati-hati dalam hal nilai tukar mata uang. Pengawasan ketat atas perkembangan nilai tukar dilakukan pemerintah Tiongkok baik untuk tujuan stabilitas ekonomi dalam negeri maupun kredibilitas mata uangnya dalam perekonomian global.

Sejak memulai keterbukaan ekonomi kepada dunia luar, Tiongkok telah menerapkan berbagai macam sistem kurs, mulai dari sistem tetap, mengambang terkendali, sistem mengambang, dan bahkan dua sistem kurs sekaligus.

Kebijakan yang ditempuh dengan sengaja untuk memperbaiki posisi nilai tukar, yakni devaluasi dan revaluasi, juga pernah dilakukan pemerintah Tiongkok. Terakhir kali, Beijing sengaja melemahkan nilai tukar yuan (devaluasi) hampir dua persen pada pertengahan Agustus 2015.

Chinese Yuan (CNY) atau yuan adalah satuan hitung dari mata uang Tiongkok. Sementara renminbi adalah nama resmi mata uang negara itu yang diperkenalkan oleh bank sentral Tiongkok pada tahun 1948. Di pasar valuta asing dikenal dengan singkatan RMB, seperti halnya IDR untuk Indonesian Rupiah. Penyebutan kedua istilah tersebut, yuan atau renminbi, atau yuan renminbi, dapat berterima.
 
Satu Sistem:
Nilai Tukar Ditetapkan Pemerintah (1970-1980)
 
Januari 1970
Tiongkok melakukan reformasi mata uang secara drastis. Mata uang 10.000 yuan lama ditransformasikan ke yuan baru yang dipatok secara resmi dengan sistem nilai tukar tetap terhadap dollar Amerika Serikat. 
 
5 Januari 1980
Pemerintah Tiongkok mengeluarkan surat keputusan yang melarang penggunaan mata uang asing sebagai alat pembayaran di Tiongkok.
 
1 April 1980
Pemerintah Tiongkok mengeluarkan sertifikat valuta asing yang disebut Waihui Quan. Nilai Waihui Quan setara dengan nilai tukar efektif mata uang yuan. Waihui Quan diterbitkan sebagai pengganti mata uang keras (uang kertas/logam) asing dan masuk ke dalam peredaran uang hanya digunakan sebatas oleh mereka yang bukan penduduk, misalnya untuk membayar hotel dan transportasi. Sertifikat valas ini juga digunakan untuk alat transaksi di friendship store, yakni toko di Tiongkok yang menjual barang secara eksklusif untuk wisatawan, orang asing, diplomat, dan pejabat pemerintah.
 
1976-1980
Setelah runtuhnya sistem Bretton Woods tahun 1976, nilai tukar yuan yang ditetapkan pemerintah kemudian dipatok dengan standar rata-rata 15 mata uang negara mitra dagang Tiongkok hingga tahun 1980. Bretton Woods adalah suatu sistem yang mensyaratkan kurs mata uang dipatok dalam emas atau dollar AS.
 
Dua Sistem:
Nilai Tukar Ditetapkan Pemerintah dan Kurs Untuk Pembayaran Perdagangan (1981-1985)
 
1 Januari 1981
Pemerintah Tiongkok mulai menetapkan kurs resmi yuan dengan nilai 2,8 CNY per dollar AS. Nilai tukar ini ditetapkan dengan cara menggabungan dua perhitungan. Yang digabungkan adalah nilai tukar secara riil (rata-rata tertimbang dari nilai mata uang suatu negara relatif terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, disesuaikan dengan perbedaan inflasi) dan keseimbangan perdagangan (untung rugi) dari aktivitas ekspor dan impor.
Nilai tukar resmi tersebut diterapkan untuk seluruh perusahaan negara dan perusahaan swasta yang terlibat dalam kegiatan perdagangan. Sistem nilai tukar resmi juga mulai diberlakukan di Tiongkok untuk kegiatan pengangkutan barang dan asuransi ekspor.
Mulai 1 Januari 1981 juga mulai diujicobakan sistem pembayaran perdagangan menggunakan nilai tukar mata uang asing khusus untuk perusahaan negara. Transaksi perdagangan itu disediakan People’s Bank of China (PBoC) atau Bank Sentral Tiongkok di sejumlah wilayah, yakni Beijing, Guangdong, Hefei, Shanghai, dan Tianjin. Dengan batasan kuota tertentu, sebuah perusahaan negara yang memiliki atau menyimpan mata uang asing diizinkan untuk menjual mata uang asing tersebut ke perusahaan negara lainnya. Proses jual beli mata uang asing harus dilakukan dengan perantaraan PBoC  dan dikenakan biaya 0,1-0,3 persen dari nilai transaksi.
 
1 Januari 1985
Sistem nilai tukar riil digunakan untuk mengatur semua bentuk perdagangan. Akan tetapi, pemerintah Tiongkok masih mempertahankan sistem batasan kuota mata uang asing pada perusahaan negara untuk sebagian devisa hasil ekspor.
 
20 November 1985
Otoritas moneter Tiongkok memperbolehkan warga negaranya untuk memegang mata uang asing. Warga negara Tiongkok boleh membuka rekening dan melakukan transaksi perbankan dengan menggunakan mata uang asing.
 
Dua Sistem:
Nilai Tukar Ditetapkan Pemerintah dan Nilai Tukar Swap (1986-akhir 1993)
 
1 November 1986
Pemerintah Tiongkok mengadopsi sistem swap nilai tukar yuan dengan mengacu pada kesepakatan kurs antara pembeli dan penjual. Pemerintah menyediakan 100 pusat transaksi swap untuk perusahaan swasta dan asing serta empat zona ekonomi khusus (Shantou, Shenzhen, Xiamen, and Zhuhai) untuk transaksi swap perusahaan negara.
 
Kurs swap merupakan sistem nilai tukar yang membuka kesempatan perusahaan untuk mempertukarkan satu valuta dengan valuta lain pada kurs dan tanggal tertentu dengan menggunakan bank sebagai perantara kedua belah pihak yang ingin melakukan transaksi swap. Salah satu keuntungan utama dari pemberlakuan sistem ini adalah mengurangi risiko kerugian transaksi jual beli akibat perubahan nilai tukar uang di masa depan.
 
1988
Seluruh lembaga dalam negeri Tiongkok memperoleh kewenangan untuk memegang pendapatan devisa dalam bentuk mata uang asing.
Sepanjang periode ini, dua sistem kurs menimbulkan dampak tekanan depresiasi. Nilai kurs resmi ditetapkan lebih rendah dari kurs swap sehingga secara implisit sebenarnya harga kurs resmi dinilai terlalu mahal atau overvalued. Saat itu terjadi ketidakseimbangan antara nilai kurs resmi dengan kurs swap yang terjadi di pasar.
Hal yang selanjutnya terjadi adalah banyak transaksi gelap nilai tukar. Hasil investigasi yang dilakukan cabang PBoC di Shenzen, kota industri di selatan Tiongkok, menemukan sedikitnya 60 perusahaan terlibat dalam transaksi gelap nilai tukar dengan nilai perdagangan mencapai 148 juta dollar AS atau 55,8 persen total ekspor dari kota itu.
 
Akhir 1993
Nilai tukar yuan tercatat mencapai 5,8 CNY per dollar AS, terdepresiasi 52 persen dari sebelumnya 2,8 CNY per dollar AS pada awal tahun 1981.
 
Transisi Penyatuan Sistem Nilai Tukar (1994-1997)
 
1 Januari 1994
Tiongkok memulai rezim nilai tukar resmi yang baru. Pemerintah Tiongkok melalui People’s Bank of China (PBOC) mengumumkan kurs referensi Yuan dipatok terhadap Dollar AS, Dollar Hong Kong dan Yen Jepang berdasarkan harga kurs rata-rata tertimbang yang diperoleh dari transaksi pasar valuta asing di hari sebelumnya.
 
Pergerakan nilai tukar yuan terhadap dollar AS selanjutnya tidak boleh menyimpang (lebih atau kurang) maksimal 0,3 persen dari kurs referensi yang sudah ditetapkan tersebut. Untuk nilai tukar yuan terhadap yen Jepang, batas penyimpangan ditetapkan maksimal 1 persen dari kurs referensi yang sudah dibentuk. Sementara untuk kurs yuan terhadap mata uang lainnya tidak boleh menyimpang maksimal 0,5 persen dari kurs referensi.
Dengan sistem baru ini, maka kurs resmi yuan menjadi 5,8 CNY per dollar AS dan kurs di pasar swap  menjadi 8,6 CNY per dollar AS. Karena saat itu 80 persen transaksi valuta asing mengacu pada pasar swap, maka terjadi devaluasi 6,7 persen.
 
1997
Perubahan patokan kurs berdampak pada penguatan nilai tukar yuan. Sepanjang 1994-1997, Nilai tukar yuan secara nominal dan riil menguat masing-masing 10,9 persen dan 30,2 persen. Penguatan nilai tukar yuan sekali lagi memunculkan ekspektasi bahwa nilai kurs yuan akan kembali terdepresiasi.
 
Mempertahankan Nilai Tukar Saat Krisis Asia (1998-2001)
 
1998
Tekanan devaluasi kian menguat menyusul peristiwa krisis moneter Asia tahun 1998. Untuk mencegah keluarnya modal asing dan dampak ekonomi lain yang lebih luas, pemerintah Tiongkok memutuskan untuk tidak melakukan devaluasi. Otoritas Tiongkok memberlakukan nilai tukar di pasar 8,28 CNY per dollar AS. Pemerintah Tiongkok juga mengambil langkah kebijakan untuk meredam guncangan di pasar ekspor, antara lain dengan mengembalikan pajak hasil ekspor.
Sepanjang periode krisis, yuan tercatat sebagai salah satu mata uang yang masih “perkasa” di pasar global saat nilai mata uang lain rontok menghadapi dollar AS. Nilai tukar nominal dan riil yuan meningkat masing-masing 10,9 persen dan 5,5 persen.
 
2001
Upaya mempertahankan nilai tukar yuan masih berlanjut meskipun terjadi peristiwa serangan teroris 11 September 2001 di AS dan merebaknya penyakit epidemik Sindrom Pernapasan Akut Berat atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) di Tiongkok dan sejumlah negara Asia.
 
Kurs Tetap Menghadapi Periode Depresiasi (2002-2004)
 
Upaya pemerintah Tiongkok mempertahankan nilai tukar yuan mencapai batasnya. Setelah masa krisis yang memaksa Tiongkok menerapkan sistem defisit anggaran pemerintah dan tekanan serangan AS serta penyakit SARS, yuan akhirnya terdepresiasi. Nilai tukar nominal yuan melemah 9,3 persen dan nilai tukar riil Yuan melemah 11 persen.
 
Kurs Mengambang Terkendali dengan Kebijakan Revaluasi (2005-Pertengahan 2010)
 
21 Juli 2005
Pemerintah Tiongkok menerapkan sistem nilai tukar mengambang terkendali. Pemerintah juga melakukan revaluasi, yakni tindakan pemerintah secara sengaja untuk untuk menaikkan nilai mata uang negaranya. Nilai tukar yuan terhadap dollar AS direvaluasi sebesar 2,1 persen, dari 8,28 CNY menjadi 8,11 CNY per dollar AS. Sepanjang Juli 2005-Juli 2008, nilai tukar yuan terhadap dollar AS tercatat menguat 18 persen dari 8,28 CNY menjadi 6,8 CNY per dollar AS.
 
Akhir Tahun 2006- Juli 2008
Pemerintah Tiongkok kembali melakukan revaluasi nilai tukar yuan secara gradual seiring membaiknya perekonomian negara tersebut. Revaluasi terjadi pada akhir tahun 2006 (1 dollar AS senilai 7,69 CNY), akhir tahun 2007 (1 dollar AS setara 7,27 CNY), dan April 2008 nilai tukar yuan menjadi 6,99 per dollar AS.
 
Agustus 2008-Desember 2009
Sehubungan dengan menguatnya krisis global, pemerintah Tiongkok menerapkan kebijakan kurs mengambang terkendali dengan dipatok terhadap dollar AS pada rentang yang sempit, yakni 6,81-6,838 CNY per dollar AS.
Dengan kebijakan yang ditempuh itu, sepanjang 2008-2009 Tiongkok mencatat surplus ekspor terbesar dunia hingga melampaui 300 miliar dollar AS. Tahun 2009 tercatat cadangan devisa Tiongkok menumpuk hingga 2,5 triliun dollar AS. Inilah cadangan devisa terbesar di dunia, jauh di atas peringkat kedua Jepang dengan 1 triliun dollar AS. Di tahun yang sama, cadangan devisa Indonesia baru 74 miliar dollar AS.
 
Desember 2009-Pertengahan 2010
Pemerintah Tiongkok masih menerapkan sistem nilai tukar mengambang terkendali yang dipatok terhadap dollar AS dalam rentang sangat sempit. Patokan nilai tukar yang ditetapkan adalah 6,828-6,838 CNY per dollar AS.
 
Sistem Kurs Mengambang Terkendali dan Apresiasi Nilai Tukar
 
19 Juni 2010
Pemerintah Tiongkok memutuskan, kebijakan kurs yuan kembali pada sistem mengambang terkendali yang pernah dilaksanakan selama tiga tahun (2005-2008) sampai sebelum krisis keuangan melanda AS pada kuartal III-2008. Tiongkok akan kembali kepada kebijakan moneter lamanya yang ditinggalkannya sejak tahun 2008 sebagai bagian dari penanganan krisis.
Keputusan itu diikuti pengumuman PBoC. Bank Sentral Tiongkok tersebut mengumumkan kebijakan pengelolaan mata uangnya. Pergerakan nilai tukar yuan secara bertahap dilepas dari dollar AS. Artinya, kurs yuan tidak lagi tetap (fixed) terhadap dollar AS. Bank Sentral menetapkan tingkat paritas tengah nilai tukar atau titik tengah batas perdagangan mata uang yang diperbolehkan adalah pada 6,8275 yuan per dolar Amerika Serikat
 
Februari 2012
Nilai tukar yuan terus menguat menjadi 6,2884 CNY per dollar AS.
 
Maret 2012
Pemerintah Tiongkok memulai langkah untuk menjadikan yuan sebagai mata uang internasional dengan mengizinkan semua perusahaan di negara itu untuk membayar kegiatan ekspor dan impor mereka dalam mata uang yuan.
 
2 Mei 2013
Nilai tukar yuan menguat ke level tertinggi dalam 19 tahun terakhir setelah PBoC menetapkan patokan yuan 0,2% lebih kuat menjadi 6,2082 CNY per dollar AS. Nilai tukar yuan di pasar boleh bergerak dengan rentang hingga 1 persen dari kurs patokan tersebut.
Kebijakan pergerakan nilai tukar yuan terhadap dollar AS pada rentang yang lebih longgar (1 persen) ini mulai diberlakukan sejak 14 April 2012.
 
Sistem Kurs Mengambang Terkendali dengan Devaluasi Nilai Tukar
 
11-13 Agustus 2015
Nilai tukar yuan menjadi terlalu kuat. Tiongkok kembali melakukan kebijakan devaluasi nilai tukar. Pada 11 Agustus 2015 Bank Sentral Tiongkok mendevaluasi nilai tukar yuan dari 6,116 CNY menjadi 6,229 CNY per dollar AS. Hanya berselang sehari, yuan kembali didevaluasi menjadi 6,3306 CNY per dollar AS, diikuti pemangkasan berikutnya sehingga nilai tukar yuan menjadi 6,4010 CNY untuk satu dollar AS.
 
 
Sumber:
Pemberitaan Kompas, laman Asian Development Bank Institute,   pemberitaan New York Times, Reuters, International Financial Statistics terbitan International Monetary Fund, IMF (1997 dan 2004), China's ExchangeRate Policy oleh Yingfeng Xu dalam jurnal China Economic Review 11 (2000)

Update/pembaruan: 28 Agustus 2015
 

  • Artikel Terkait
blog comments powered by Disqus