Telaah | 6 Mei 2014 17:23 WIB

Memilih dengan Rasional


Mahasiswa tak sembarang memberikan suara pada Pemilu Legislatif 9 April lalu. Dengan pertimbangan rasional, mereka memilih calon wakil rakyat yang dianggap akan mampu memecahkan persoalan bangsa. Begitu yang terbaca dari hasil angket Litbang Kompas.


Responden survei berjumlah 426 orang. Mereka adalah mahasiswa empat perguruan tinggi di Jakarta. Peserta survei ini masuk kategori pemilih muda. Hasil sensus penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik tahun 2010 memperlihatkan, jumlah penduduk usia 15-19 tahun mencapai 20,87 juta, sementara warga berusia 20-24 tahun ada 19,88 juta. Jadi, jumlah pemilih muda sedikitnya 40 juta orang.

Benarkah responden telah memanfaatkan hak mereka? Tiga dari empat mahasiswa mengatakan ya. Namun, responden yang mengaku tak ikut memilih alias golongan putih (golput) juga tidak sedikit. Alasan mereka umumnya tak terdaftar sebagai pemilih.

Ikut memilih menjadi salah satu cara mereka untuk ikut menentukan nasib bangsa Indonesia. Itulah saatnya menyingkirkan orang yang tidak cakap bekerja, lalu menggantinya dengan mereka yang lebih kompeten dan bertanggung jawab.

Wakil rakyat hasil pemilu legislatif diharapkan mampu menyelesaikan beragam persoalan bangsa. Oleh sebab itu, dalam menentukan pilihan, responden yang menggunakan hak pilih mereka menggunakan pertimbangan rasional. Pilihan dijatuhkan berdasarkan track record atau rekam jejak calon anggota legislatif (caleg). Namun, ada pula mahasiswa yang memilih karena mengenal si caleg.

Menurut sebagian besar responden, masalah paling berat yang dihadapi bangsa kini adalah korupsi. Setelah korupsi, masalah berikutnya adalah pengangguran, ketiadaan daya saing bangsa, serta karakter bangsa yang dianggap buruk, seperti enggan kerja keras, konsumtif, dan ketidakmampuan kita menjaga milik umum.

(BE JULIANERY/LITBANG KOMPAS)

Sumber: Harian “Kompas” Selasa, 6 Mei 2014 halaman 34

  • Artikel Terkait
blog comments powered by Disqus