Telaah | 11 April 2014 16:10 WIB

Pemilu 2014: Sirkuit Perubahan Pilihan Pemilih


Sejumlah hasil hitung cepat Pemilu Legislatif 2014 menguatkan gambaran perilaku pemilih yang sebelumnya disingkap lembaga survei. Hal itu terjadi dalam membaca kemenangan PDI-P, Golkar, dan Gerindra sebagai partai politik papan atas serta menyingkap potensi terpuruknya Partai Demokrat.


Beberapa hasil hitung cepat juga menguatkan gambaran sejumlah survei sebelum pemilu tentang ketatnya persaingan partai-partai politik di papan tengah serta perolehan suara PBB dan PKPI yang sangat minim.

Di balik kemiripan hasil survei yang dilakukan beberapa bulan menjelang pemilu, menarik diamati implikasi praktis ataupun teoretis politik yang terjadi dalam kurun waktu tersebut. Pertanyaannya, apakah pilihan pemilih sudah terbentuk jauh sebelum pencoblosan? Apakah kampanye, produksi isu negatif, penegasan calon presiden, ”puisi” berbalas puisi, ataupun survei berbalas survei tak mampu menggoyahkan pilihan?

Membandingkan dua hasil survei longitudinal Kompas dengan responden yang sama, baik survei yang dilakukan sebelum pencoblosan maupun setelah pencoblosan, teridentifikasi ada dinamika perubahan pilihan.

Sekitar sepertiga pemilih (36,9 persen) mengubah pilihan pada seminggu hingga sesaat sebelum hari pencoblosan. Jika diidentifikasi, inilah kelompok para pemilih mengambang (swing voters) pemilu, kalangan yang mudah beralih dukungan dengan orientasi politik kepartaian cenderung bersifat pragmatis.

Sekalipun signifikan jumlahnya, dinamika pemilih mengambang kali ini masih belum mampu mengusik konfigurasi pilihan parpol yang sudah terbentuk sebelumnya. Dinamika politik yang berlangsung saat ini bukanlah ”topan badai” yang mampu meluluhlantakkan peta penguasaan parpol.

Potret perubahan pilihan yang terekam lebih cenderung layaknya sebuah sirkuit, berputar, dengan sebaran dukungan yang bersifat acak. Setiap parpol pun mampu meraih dukungan pemilih secara proporsional. Kondisi demikian menunjukkan, sirkulasi pergerakan kalangan pemilih mengambang tidak tersedot kepada satu atau sekelompok kecil parpol.

Konfigurasi suara
Kendati tidak mengubah drastis konfigurasi penguasaan suara, jika ditelisik lebih jauh, terdapat perbedaan ”neraca sirkulasi” pemilih setiap parpol. Terdapat sekelompok parpol yang diuntungkan lantaran sirkulasi dukungan pemilih yang hilang tergantikan dengan lebih banyak lagi para pemilih baru. Ini antara lain dialami Nasdem, yang selama dua bulan terakhir cukup signifikan meraih peningkatan dukungan.

Jumlah pendukung Gerindra, PKS, Demokrat, PAN, Golkar, dan PKB sejak dua bulan sebelum pencoblosan tergolong tetap. Tampaknya, beragam manuver politik yang dilakukan parpol selama dua bulan terakhir belum mampu menciptakan surplus dukungan yang signifikan. Aksi-aksi ofensif kampanye Gerindra, kampanye Presiden Yudhoyono, hanya berhasil menutup larinya dukungan kalangan pemilih mengambang pada parpol ini.

Kondisi sebaliknya terjadi pada PDI-P. Di antara sejumlah parpol lain, proporsi perubahan pilihan PDI-P sebenarnya relatif kecil. Dari responden yang mengaku memilih PDI-P pada survei Februari 2014 lalu, sebanyak 71 persen mengaku tidak mengubah pilihannya. Sementara sebanyak 29 persen yang lain meninggalkan parpol ini.

Namun, sepanjang dua bulan terakhir, hilangnya dukungan kaum pemilih mengambang PDI-P tidak terbalaskan sepenuhnya oleh kedatangan pendukung baru parpol ini.

Sampai di sini, PDI-P mengalami defisit neraca dukungan massa mengambang. Penobatan Joko Widodo (Jokowi) kurang berefek terhadap peningkatan suara parpol. Bahkan, kecenderungan penurunan mulai tampak. Hanya saja, terhadap total dukungan pemilih PDI-P sendiri, peran Jokowi masih tergolong besar. Dari hasil survei, hampir 45 persen pendukung parpol itu berasal dari pendukung Jokowi.

Di sisi lain, kedua hasil survei tersebut juga menggambarkan pola yang tidak selalu sama antara pilihan parpol dan pilihan calon presiden. Tidak semua dukungan terhadap sosok Jokowi, Prabowo, ataupun Aburizal Bakrie sebagai presiden bertumpu pada parpol pendukungnya masing-masing. Begitu pun peta perubahan dukungan calon presiden di antara kalangan pemilih mengambang, yang berdasarkan hasil survei setelah pemilu masih belum mampu menggoyahkan konfigurasi dukungan terhadap Jokowi, Prabowo, dan Aburizal Bakrie.


Grafis_Sirkuit-Perubahan-Pemilih.PDF
 

  • Artikel Terkait
blog comments powered by Disqus