Pantau Media | 20 Desember 2016 15:55 WIB

Interaksi Sosial Politik Generasi Milenial


Media sosial memunculkan fenomena lahirnya kultur baru yang membentuk model interaksi sosial dan politik yang juga baru. Ruang digital yang sebelumnya dianggap dunia maya, kini bertransformasi menjadi ruang nyata yang memiliki pengaruh besar terhadap perubahan kondisi sosial, ekonomi, dan politik masyarakat.


Kekuatan media sosial (medsos) sebagai instrumen penggerak masyarakat sudah tak diragukan lagi. Sejumlah aksi massa terkait masalah sosial dan politik berhasil digerakkan lewat jejaring sosial secara daring. Aksi massa Bela Islam yang berlangsung 4 November dan aksi lanjutanya pada tanggal 2 Desember, serta aksi-aksi gerakan kebhinekaan menjadi contoh strategi efektif penyebaran informasi secara cepat dan massif melalui medsos.

Dalam aspek sosial, berbagai gerakan komunal seperti dukungan atau bantuan terhadap warga atau kelompok masyarakat tertentu banyak digagas lewat jejaring sosial. Demikian juga dalam aspek ekonomi, peluang-peluang bisnis baru terbuka lebar bagi pengguna internet. Tak heran, pengguna jejaring sosial di Indonesia terus meningkat selama tiga tahun terakhir. Pada tahun 2016 pengguna aktif facebook di negeri ini mencapai 88 juta orang, melonjak dari 77 juta orang di tahun 2014 dan 82 juta orang pada tahun 2015.

Efektifitas ruang digital sebagai alat distribusi informasi, menjadikan medsos memegang peranan strategis dalam berbagai aspek kehidupan. Informasi publik dan perhatian masyarakat saat ini cenderung dikontrol oleh platform media sosial seperti facebook dan twitter. Di Indonesia. fenomena menguatnya pemanfaatan medsos sebagai media interaksi sosial politik masyarakat mulai tergambar jelas pada periode menjelang Pemilu tahun 2014.

Polarisasi sikap pengguna internet terhadap situasi politik Indonesia terus berlanjut pasca pemilu. Setiap gerak gerik pemerintah tak lepas dari perhatian masyarakat pengguna internet atau netizen. Hasil pengamatan terhadap percakapan netizen selama setahun pertama pemerintahan Joko Widodo, misalnya, berhasil merangkum tak kurang dari 4,7 juta percakapan yang membahas sepak terjang sang presiden. Bayangkan, rata-rata per hari ada sekitar 13 ribu cuitan netizen yang memperbincangkan aktivitas pemerintahan.

Akhir-akhir ini, fenomena serupa kembali berlangsung menyambut pemilihan gubernur DKI Jakarta. Kecenderungan ini bisa dilihat sebagai penanda bahwa aktivitas di media sosial telah menjadi model baru partisipasi politik publik, khususnya bagi generasi milenial. Diskusi-diskusi politik yang dulu oleh generasi baby boomers pada era 1980-an dan 1990-an dilakukan di ruang-ruang terbatas seperti kampus, kini dilakukan secara terbuka di ruang digital.

Masyarakat pengguna internet dapat dengan mudah mengakses informasi tanpa batas. Mereka juga dapat secara terbuka mengekspresikan pandangan terkait situasi politik yang berkembang serta merespon perubahan sosial yang terjadi. Semakin banyak publik mengonsumsi informasi maka semakin besar pula peluang keterlibatan dan keterikatan politik masyarakat tersebut.

Dominasi Generasi Milenial
Media sosial menjadi ruang sosial politik baru yang isinya didominasi oleh kelompok muda, kelas menengah, dan masyarakat perkotaan. Karakteristik netizen yang cenderung spontan dan responsif membuat ruang media sosial senantiasa riuh. Beragam isu kerap disambut aktif oleh netizen, baik dengan meneruskan tautan berita atau mengomentari isi berita. Pola distribusi yang instan ini membuat perputaran isu menjadi massif dan cepat.

Pengguna aktif media sosial saat ini, didominasi oleh generasi milenial yang mulai beranjak dewasa dan mulai menjajaki dunia kerja. Generasi milenial adalah mereka yang lahir pada periode awal tahun 1980-an hingga periode akhir tahun 1990-an. Kelompok generasi yang pada saat ini berada dalam rentang usia 19-35 tahun. Sebagai generasi yang tumbuh seiring lesatan teknologi, generasi milenial menjadi kelompok masyarakat yang paling cepat beradaptasi dengan teknologi. Eksploitasi informasi yang gencar dilakukan di ruang digital paling banyak memapar netizen dari kelompok usia produktif ini.

 
Metode
Survei diselenggarakan oleh Litbang Kompas dengan metode wawancara tatap muka. Periode survei 11-18 Desember 2015. Jumlah responden yang diwawancarai 1.436 orang responden dari 600 sampel rumah tangga di wilayah DKI Jakarta. Berdasar jumlah sampel ini, diperkirakan margin of error sebesar +/-2.8% pada tingkat kepercayaan 95%.


Kelompok milenial paling banyak mengonsumsi informasi melalui media sosial. Ruang digital ini menjadi medium yang dianggap penting bagi generasi milenial untuk mendapatkan informasi terkini dengan cara cepat dan mudah. Hasil penelitian Litbang Kompas yang diselenggarakan pada Desember 2015 mencatat 85 persen dari generasi milenial yang rutin mengakses medsos setiap hari, atau paling tidak hampir setiap hari. Dari jumlah kelompok tersebut, tak kurang 67 persen di antaranya yang mengaku setiap hari mengonsumsi informasi atau berita dari berbagai platform medsos. Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan metode wawancara tatap muka terhadap 1.436 responden di wilayah DKI Jakarta.

Sejumlah penelitian lain membuktikan adanya pengaruh aktivitas di jejaring sosial daring terhadap perilaku keseharian masyarakat. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh peneliti lintas universitas di Amerika Serikat (AS) dan dipublikasikan oleh jurnal Nature edisi 13 September 2012. Penelitian eksperimen tersebut melibatkan 61 juta pengguna Facebook dan dilakukan untuk melihat dampak sosial dan mobilisasi politik melalui platform medsos pada Pemilihan Umum di Amerika Serikat tahun 2012.

Salah satu kesimpulan dari penelitian tersebut menyebutkan bahwa paparan beragam pesan di laman pengguna Facebook berpengaruh pada peningkatan partisipasi politik masyarakat pada Pemilu AS 2012. Hasil penelitian itu menyebut setidaknya ada 340.000 pemilih tambahan yang menggunakan hak pilihnya akibat terpengaruh, baik secara langsung atau tidak langsung, oleh pesan atau informasi yang ditaut rekan-rekan dalam jejaring  facebook mereka.

Hasil penelitian itu menegaskan bahwa medsos menjadi alat strategis dalam menggiring opini publik. Karakteristik pengguna medsos yang aktif dan responsif, menjadikan media digital ini sebagai platform yang efektif untuk berkampanye atau mengelola citra. Medsos menjadi instrumen penting dalam setiap kontestasi politik. Arus informasi yang tanpa batas menjadi tantangan berat bagi pengguna internet. Ketiadaan instrumen kontrol, memaksa netizen untuk memiliki kemampuan memilah sendiri informasi yang mereka terima.

Media tradisional menyuguhkan informasi kepada publik setelah melampaui proses verifikasi untuk menjaga akurasi data dan fakta. Lain halnya dengan media digital yang lebih mengutamakan kecepatan informasi. Di ruang digital, setiap individu tak hanya sekedar bisa menjadi konsumen informasi, melainkan juga menjadi sumber yang menyebarkan informasi. Pada akhirnya, proses verifikasi diserahkan pada konsumen informasi tersebut.

Untuk itu, netizen dituntut untuk memiliki literasi digital agar mampu menyaring informasi yang mereka terima. Rendahnya literasi digital pengguna internet dapat melahirkan konsekuensi munculnya konflik baru di tengah masyarakat.

  • Artikel Terkait
blog comments powered by Disqus