Kronologi | 17 April 2015 19:25 WIB

Konferensi Asia Afrika 2015


Indonesia menjadi salah satu ikon pemersatu Benua Asia dan Afrika melalui Konferensi Asia Afrika atau KAA. Sebagai salah satu pemrakarsa sekaligus tuan rumah konferensi pertama tahun 1955, Indonesia berperan besar dalam membingkai makna keberadaan negara-negara yang dilabeli sebagai “negara dunia ketiga” dalam konstelasi politik ekonomi dunia.


Awal Mula KAA
KAA merupakan  konferensi antara negara-negara di Benua Asia dan Afrika yang sebagian besar baru saja memperoleh kemerdekaan. KAA pertama yang diselenggarakan 60 tahun silam diprakarsai oleh Indonesia, Myanmar (dahulu Burma), Sri Lanka (dahulu Ceylon), India, dan Pakistan dan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung antara 18-24 April 1955, di Gedung Merdeka, Kota Bandung. Konferensi ini bertujuan mempromosikan kerja sama ekonomi dan kebudayaan Asia Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Sovyet, atau negara imperialis lainnya.

Peserta konferensi saat itu adalah 29 negara Asia Afrika, terdiri atas 23 negara Asia dan enam negara Afrika. Negara-negara itu adalah:
A.    Asia Barat
1.     Afganistan                   6. Libanon
2.     Yordania                     7. Suriah
3.     Arab Saudi                  8. Irak
4.     Mesir                           9. Iran
5.     Turki
B.    Asia Timur
1.     Pakistan                       3. Nepal
2.     India                            4. Sri Lanka
C.    Asia Tenggara
1.     Burma                         5. Vietnam Selatan
2.     Kamboja                      6. Filipina
3.     Laos                             7. Thailand
4.     Vietnam Utara             8. Indonesia
D.    Asia Timur
1.     Jepang                         2. RRC
E.    Afrika
1.     Libya                           4. Liberia
2.     Sudan                          5. Ghana
3.     Ethiopia                       6. Yaman

Tujuan Konferensi Asia Afrika pertama adalah mempromosikan kerja sama ekonomi dan kebudayaan Asia Afrika dan melawan kolonialisme Amerika Serikat, Uni Sovyet, dan negara imperialis lainnya.

Lima kepala negara dan kepala pemerintahan dalam  KAA tahun 1955 yang menjadi tokoh yaitu:
1.     Soekarno                     (Presiden Indonesia)
2.     Gamal Abdel Nasser   (Presiden Mesir)
3.     Kwame Nkrumah        (Presiden Ghana)
4.     Jawaharlal Nehru        (Perdana Menteri India)
5.     Josip Broz Tito           (Presiden Yugoslavia)
Kelima tokoh dunia ini kemudian dikenal sebagai para Pendiri Gerakan Non Blok

Sementara pemrakarsa KAA pertama adalah:
1.   Indonesia:  Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo
2.   India    :     Perdana Menteri Jawaharlal Nehru
3.   Pakistan:    Perdana Menteri  Muhammad Ali Bogra
4.   Sri Lanka:  Perdana Menteri Sir John Kotelawala
5.   Burma :      Perdana Menteri U Nu
 
Konferensi ini juga merefleksikan apa yang dipandang oleh negara-negara Asia dan Afrika sebagai:
§  Ketidakinginan negara Asia Afrika terhadap kekuatan-kekuatan Barat untuk memengaruhi Asia pada masa Perang Dingin;
§  Kekhawatiran negara Asia Afrika terhadap ketegangan antara Republik Rakyat Tiongkok dan Amerika Serikat;
§  Keinginan mereka untuk membentangkan fondasi bagi hubungan yang damai antara Tiongkok dengan mereka dan pihak Barat;
§  Penentangan mereka terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Perancis di Afrika Utara dan kekuasaan kolonial Perancis di Aljazair;
§  Keinginan Indonesia untuk mempromosikan hak mereka dalam pertentangan dengan Belanda mengenai Irian Barat.

Pada konferensi KAA pertama ini, hasil kesepakatan tertuang dalam apa yang disebut Dasasila Bandung, yang berisi tentang "pernyataan mengenai dukungan bagi perdamaian dan kerja sama dunia". Dasasila Bandung memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip-prinsip Jawaharlal Nehru.

Isi Dasasila Bandung:
1.     Menghormati hak-hak asasi manusia sesuai Piagam PBB.
2.     Menghormati kedaulatan wilayah setiap bangsa.
3.     Mengakui persamaan semua ras dan bangsa.
4.     Tidak campur tangan dalam persoalan negara lain.
5.     Menghormati hak tiap-tiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian atau kolektif.
6.     Tidak menekan terhadap negara lain.
7.     Tidak melakukan agresi terhadap negara lain.
8.     Menyelesaikan masalah dengan jalan damai.
9.     Memajukan kerja sama dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya.
10.  Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.
Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada tahun 1961.
 
Semangat Gerakan Non-Blok
KAA tahun 1955 menjadi tonggak penting dalam sejarah bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Para delegasi yang berasal dari 29 negara peserta konferensi berkumpul di Bandung, Indonesia untuk membahas perdamaian, keamanan, dan pembangunan ekonomi di tengah-tengah beragam masalah yang muncul di berbagai belahan dunia.

Sebagian besar permasalahan tersebut disebabkan oleh dua blok yang “membelah” dunia, masing-masing memiliki kepentingan berbeda dan bertentangan ideologi. Kedua blok tersebut adalah Blok Barat dan Blok Timur yang melakukan “Perang Dingin”. Masing-masing blok berusaha memperoleh dukungan dari negara-negara di Asia dan Afrika. Situasi dunia, khususnya di Benua Asia dan Afrika, juga dipengaruhi oleh berbagai bentuk kolonialisme. Selain itu, beberapa negara Asia dan Afrika mengalami konflik yang muncul sebagai akibat dari kolonialisme dan politik divide et impera. Pada saat itu, PBB tidak mampu menangani permasalahan tersebut.

Hal-hal inilah yang menjadi alasan utama bagi pemerintah Burma (Myanmar), India, Indonesia, Pakistan, dan Sailan (Sri Lanka) untuk menyelenggarakan KAA. Kelima negara ini mengajak negara-negara lain di Asia, Afrika, dan Timur Tengah untuk menciptakan etos baru hubungan antara bangsa-bangsa, yang disebut “Bandung Spirit”. Para pemimpin di KAA juga mendeklarasikan “Dasasila Bandung” yang mencerminkan komitmen bangsa-bangsa untuk mempraktikkan toleransi dan kedamaian hidup satu sama lain sebagai tetangga yang baik.
 
KAA 2005: Deklarasi Kemitraan Strategis
Lima puluh tahun setelah konferensi, Indonesia kembali menjadi tuan rumah peringatan 50 tahun KAA. Bandung Spirit kembali dihidupkan dan berbagai rencana disusun untuk menjalin kerja sama antara dua benua. Seluruh peserta yang berkumpul pada tanggal 22-24 April 2005 di Jakarta dan Bandung meyakini bahwa Bandung Spirit senantiasa menjadi dasar yang kokoh untuk memelihara hubungan yang lebih baik di antara bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta untuk menyelesaikan isu-isu global. Peringatan KAA tersebut mengarah pada penciptaan Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika atau National Association of Secondary School Principals (NAASP).

Secara resmi ditandatangani oleh Indonesia dan Afrika Selatan—sebagai tuan rumah bersama KTT—Deklarasi NAASP berfungsi sebagai cetak biru bagi kolaborasi kedua benua dalam memerangi kemiskinan dan keterbelakangan yang dianggap sebagai masalah utama di Asia dan Afrika. Kesepakatan ini ditujukan untuk memperkuat multilateralisme, mencapai pertumbuhan ekonomi, meningkatkan perdamaian dan keamanan global, dan mengupayakan jalur pertumbuhan berkelanjutan antara kedua kawasan. Selain itu, para pemimpin yang hadir juga mengesahkan dokumen capaian mengenai pengentasan kemiskinan, terorisme, senjata pemusnah massal, dan pengembangan sistem peringatan dini tsunami.
 
KAA 2015: Penguatan Kerja Sama Selatan-Selatan
Dalam peringatan ke-60 KAA dan peringatan ke-10 NAASP, Indonesia akan menjadi tuan rumah serangkaian acara tingkat tinggi dengan tema "Penguatan Kerja sama Selatan-Selatan dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" di Jakarta dan Bandung pada 19-24 April 2015. Sebanyak 109 negara Asia dan Afrika, 16 negara pengamat, dan 25 organisasi internasional diundang untuk berpartisipasi dalam acara penting ini.

Forum ini bertujuan untuk menjembatani negara-negara Asia dan Afrika dalam mengejar kemitraan yang lebih kuat dan sarana berbagi pengalaman dalam meningkatkan pembangunan ekonomi kedua kawasan. Forum ini juga menjadi kesempatan untuk membahas solusi dan cara mengatasi tantangan bersama melalui penguatan kerja sama Selatan-Selatan.

KAA 2015 bertujuan untuk menyimpulkan tiga dokumen keluaran yaitu Bandung Message, dokumen tentang penghidupan kembali NAASP, dan deklarasi mengenai dukungan negara-negara Asia-Afrika untuk Palestina.
 
Proses Terbentuknya KAA
§  23 Agustus 1953
Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo (Indonesia) di Dewan Perwakilan Rakyat Sementara mengusulkan perlunya kerja sama antara negara-negara di Asia dan Afrika dalam perdamaian dunia.

§  25 April–2 Mei 1954
Berlangsung Persidangan Kolombo di Sri Lanka. Hadir dalam pertemuan tersebut para pemimpin dari India, Pakistan, Burma, dan Indonesia. Dalam konferensi ini Indonesia memberikan usulan perlunya adanya KAA.

§  28–29 Desember 1954
Untuk mematangkan gagasan masalah Persidangan Asia-Afrika, diadakan Persidangan Bogor. Dalam persidangan ini dirumuskan lebih rinci tentang tujuan persidangan serta siapa saja yang akan diundang.

§  18–24 April 1955
KAA berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung. Persidangan ini diresmikan oleh Presiden Soekarno dan diketuai oleh PM Ali Sastroamidjojo. Hasil dari persidangan ini berupa persetujuan yang dikenal dengan Dasasila Bandung.
 
Tema KAA dari Masa ke Masa
KTT Gerakan Non-Blok (GNB) telah diadakan sebanyak 16 kali dan bertempat di Negara-negara anggota GNB. Berikut pelaksanaan setiap KTT tersebut dan tema-tema yang diusung.

KTT Gerakan Non-Blok

KTT GNB Waktu Tempat Peserta Topik
 I 1-6 September 1961 Belgrade, Yugoslavia 25 negara Politik berdasarkan koeksistensi bersama.
II 5-10 Oktober 1964 Kairo,  Mesir 48 negara dan 10 negara pengamat Masalah ekonomi. Mulai ada pertentangan antara pemikiran moderat seperti Jawaharlal Nehru dan yang radikal seperti Soekarno dan Kwame Nkrumah.
III 8-10 September 1970 Lusaka, Zambia 54 negara dan 9 negara pengamat Rezim rasialis di Afrika Selatan.
IV 5-9 September 1973 Aljier, Aljazair 75 negara Kemiskinan
V 16-19 Agustus 1976 Colombo, Srilanka 81 negara Tata ekonomi dunia yang merugikan negara Non-Blok. Hasil: Deklarasi Colombo
VI 3-9 September 1979 Havana, Kuba 94 negara Pengaruh blok Komunis ke GNB. Burma keluar dari GNB karena menganggap GNB tidak murni lagi.
VII  7-12 Maret 1983 New Delhi, India 101 negara Sengketa antar-anggota GNB. Hasil: Pesan dari New Delhi
VIII 1-6 September 1986 Harare, Zimbabwe 101 negara KTT mendukung Afghanistan untuk menentukan nasibnya sendiri.
IX            4-7 September 1989 Belgrade, Yugoslavia 102 negara Perlunya dialog Selatan-Selatan dalam konteks runtuhnya komunisme.
X 1-7 September 1992 Jakarta, Indonesia 140 delegasi, 64 kepala negara Relevansi GNB pasca-Perang Dingin, utang negara berkembang.
Hasil: Pesan dari Jakarta
XI 18-20 Oktober 1995 Cartagena, Kolombia 113 negara Dialog Utara-Selatan.
XII 2-3 September 1998 Durban, Afrika Selatan 113 negara Demokratisasi dalam hubungan internasional.
XIII   20-25 Februari 2003 Kuala Lumpur, Malaysia 116 negara Penolakan Iran, Irak, dan Korea Utara atas sebutan Poros Kejahatan oleh Amerika Serikat.
XIV 11-16 September 2006 Havana, Kuba 118 negara Mengutuk serangan Israel atas Lebanon, mendukung nuklir Iran.
XV 11-16 Juli 2009 Sharm El-Sheikh, Mesir 118 negara Dampak  krisis moneter global, kerja sama dengan G-77 dan China.
XVI 26-31 Agustus 2012 Teheran, Iran 118 negara dan 2 negara calon anggota (Fiji & Azerbaijan) Dukungan kepada Palestina.
 
Sumber                      :   Pemberitaan Kompas dan media lain
Update/pembaruan   :   21 April 2015

  • Artikel Terkait
blog comments powered by Disqus