Indikator | 11 September 2015 21:00 WIB

Rupiah Melemah, Bencana atau Berkah Bagi Indonesia?


Setiap kali terjadi gejolak nilai tukar rupiah selalu mengundang perdebatan soal untung ruginya bagi Indonesia. Kali ini, rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Kembali pula terbentuk dua opini utama. Yang kontra dan yang pro sama-sama punya alasan mendasar yang dipandang berterima.


Pihak yang kontra terhadap melemahnya nilai tukar rupiah meyakini kondisi itu menjadi ancaman serius bagi industri nasional. Sementara kubu yang pro beranggapan sebaliknya. Bagi mereka, pelemahan ini bisa membawa dampak positif bagi perekonomian nasional.

Kedua pihak bisa saja sama benarnya. Dalam sudut pandang ekonomi, banyak hal dan kondisi yang bisa bermakna ganda. Namun, tidak jarang pula muncul makna yang saling berseberangan. Masing-masing memakai sudut pandangnya sendiri sehingga fakta apa pun bisa disesuaikan dengan penilaian mereka.

Awal Agustus 2015 nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar AS terus melemah. Satu dolar AS telah melampaui Rp13.500. Angka ini merupakan yang tertinggi sepanjang tahun berjalan. Dibandingkan dengan awal tahun, kurs tersebut lebih tinggi sekitar Rp 1.000 seribu untuk setiap dolarnya.

Indonesia pernah mengalami pahitnya krisis ekonomi yang akut sekitar 17 tahun silam. Pemicunya ialah krisis keuangan yang ditandai dengan jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kejadian ini menjadi awal dari runtuhnya perekonomian Indonesia.

Melemahnya nilai tukar rupiah saat itu membuat beban utang luar negeri kian menumpuk. Baik kalangan dunia usaha maupun pemerintah harus menyiapkan dana lebih banyak untuk membayar utang. Di sisi lain, industri pun mejadi lesu sebab biaya bahan baku impor yang melambung tinggi.

Tahun 1998 menjadi puncak krisis ekonomi Indonesia. Saat itu, perekonomian nasional merosot hingga lebih dari 13 persen. Tahun berikutnya, dampak krisis masih kuat sehingga pertumbuhan ekonomi hanya bisa dipacu naik lebih dari satu persen.

Memang tidaklah fair membandingkan kondisi Indonesia saat ini dengan kondisi 17 tahun lampau. Terlebih lagi dengan profil ekonomi yang berbeda. Misalnya saja, cadangan devisa saat ini nilainya 4,5 kali lipat dari cadangan devisa tahun 1998. Kemudian, rasio utang luar negeri yang sekitar sepertiga dari nilai Produk Domestik Bruto (PDB). Rasio ini jauh lebih rendah dibanding tahun 1998 yang mencapai 127 persen nilai PDB.

Belum lagi indikator-indikator lainnya, seperti inflasi, rasio kecukupan modal perbankan, serta rasio kredit bermasalah. Dari parameter ekonomi dan keuangan yang mendasar tersebut, kekuatan ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih baik dibandingkan tahun 1998.

Berdasarkan kondisi fundamental tersebut, pemerintah dan otoritas moneter dalam negeri meyakini bahwa Indonesia tidak akan kembali jatuh ke dalam krisis seperti yang lampau. Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan menilai bahwa Indonesia kini telah lebih kuat dalam menghadapi guncangan keuangan.

Berbeda dengan mata uang yuan yang oleh banyak pihak diyakini sengaja dilemahkan terhadap dolar AS, pelemahan rupiah lebih didorong oleh kondisi eksternal. Yang terbesar ialah ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS, The Fed. Hal ini membuat dolar AS “pulang kampung”. Akibatnya, pasokan dolar AS di pasar menjadi berkurang sehingga harganya pun semakin mahal
 
Belajar dari Tiongkok
Apa yang dialami Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir bisa menjadi contoh terbaik bagi para pendukung melemahnya rupiah. Otoritas moneter negara tirai bambu ini “menjaga” agar nilai tukar yuan terhadap dolar AS tetap lemah. Akibatnya, industrinya memiliki daya saing yang kuat di tingkat global. Produk-produk yang dihasilkan bisa lebih murah dibandingkan dengan yang dihasilkan negara lainnya.

Tingginya permintaan atas produk-produk Tiongkok membuat industri negara ini tumbuh pesat. Kemajuan itu tidak hanya dinikmati oleh konglomerat dan kalangan pengusaha besar, namun juga oleh kalangan bawah (baca: masyarakat umum). Sebabnya ialah sebagian besar industri Tiongkok ditopang oleh usaha kecil dan menengah. Tidak hanya di kota, akan tetapi juga di desa.

“Mantra” efek menetes ke bawah dari tumbuhnya industri dan kegiatan ekonomi lainnya sungguh bisa terwujud di Tiongkok. Pertumbuhan ekonomi yang di atas tujuh persen setiap tahunnya, bahkan sempat di atas 10 persen, membuat negara ini makin kaya. Masyarakat pun turut merasakan perbaikan kesejahteraan. Dalam kasus Tiongkok, melemahnya nilai tukar yuan benar-benar bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak perekonomian dalam negeri. Semuanya merasakan berkah dari kondisi tersebut.

Memang tidak semua negara bisa seperti Tiongkok. Peluang yang muncul dari melemahnya nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang dunia, seperti dolar AS, seringkali justru jadi pemicu jatuhnya perekonomian.

Saat ini, terlepas dari apa pun penyebabnya, melemahnya nilai tukar rupiah sudah jadi nyata. Sayangnya, Indonesia belum mampu meniru Tiongkok dalam situasi yang sama. Salah satu buktinya ialah  ekspor yang cenderung menurun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia dalam semester pertama tahun ini hanya sekitar 78,3 miliar dollar AS. Turun sekitar 11,9 persen dari nilai yang dicapai pada periode yang sama tahun lalu.

Memang, penyebab terbesar turunnya nilai ekspor tersebut adalah anjloknya nilai ekspor minyak dan gas bumi (migas) sebesar 36,3 persen. Namun, perlu dicatat bahwa nilai ekspor non-migas pun turun sekitar 6,6 persen.  Hal ini mengindikasikan ketidakmampuan industri dalam negeri dalam memanfaatkan pelemahan nilai tukar rupiah untuk memperbesar pasar mereka di luar negeri.

Dalam situasi ini, industri minyak sawit memberi sedikit angin segar. Secara kumulatif volume ekspor selama lima bulan pertama 2015 masih lebih tinggi dibanding tahun lalu. Pada periode Januari-Mei 2015 ini, volume ekspor produk minyak sawit mencapai 10,1 juta ton; naik sekitar 26 persen dari ekspor pada periode yang sama tahun lalu. Sayangnya, kenaikan volume ekspor ini juga dibarengi dengan menurunnya harga minyak sawit di pasar global.

Melemahnya nilai tukar rupiah kali ini tidak mampu menghasilkan momentum bagi tumbuhnya industri nasional. Saat harga produk Indonesia relatif murah di pasar dunia, permintaan dunia ternyata juga stagnan. Penyebabnya ialah melambatnya perekonomian global. Tahun ini, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan hanya sekitar 3,3 persen. Angka ini masih di bawah tahun lalu yang mencapai 3,4 persen.

Menguat atau melemahnya nilai tukar rupiah sebaiknya tidak dipersoalkan terlalu dalam. Energi yang ada seyogianya digunakan untuk berpikir bagaimana bisa mengambil kesempatan dari situasi apa pun. Kemampuan adaptasi ini akan menjadi kunci daya tahan ekonomi nasional dari berbagai guncangan.
 
Update/pembaruan: 8 Agustus 2015
 

  • Artikel Terkait
blog comments powered by Disqus