Indikator | 16 Nopember 2016 20:39 WIB

Memetakan Daya Saing Industri Pariwisata Daerah


Tingkat daya saing tertinggi industri pariwisata Indonesia masih didominasi oleh kota-kota besar. Kota Denpasar menduduki peringkat tertinggi dalam Indeks Pariwisata Indonesia. Dari rentang skala indeks 0 hingga 5, kota ini mendapat skor 3,81. Aspek lingkungan pendukung bisnis, tata kelola, dan infrastruktur menjadi penopang utama keunggulan Ibukota Provinsi Bali ini.


Sebagai salah satu pintu gerbang wisata Indonesia, Kota Denpasar diuntungkan dalam banyak aspek. Kesiapan Infrastruktur dan dukungan lingkungan bisnis menjadi fondasi yang kokoh dalam pengembangan pariwisata di kota ini. Branding pariwisata Bali yang sudah kuat, memberi kemudahan bagi kota ini untuk menarik wisatawan. Meskipun dalam aspek potensi wisata alam dan buatan tidak setinggi beberapa daerah lainnya, namun jantung kota di Pulau Bali ini menjadi episentrum kedatangan wisatawan lokal dan mancanegara.
 
Posisi sebagai pusat persebaran wisatawan ini pula yang menjadi berkah bagi Kota Denpasar untuk mengoptimalkan bisnis pariwisatanya. Lingkungan bisnis yang mapan, ketersedian sumber daya manusia, serta kesiapan infrastruktur teknologi informasi menjadi pilar yang paling berkontribusi membangun lingkungan pendukung pariwisata di kota ini.

Pulau Bali masih menjadi magnet pariwisata Indonesia. Untuk itu, ikon pariwisata nasional ini kerap menjadi bagian yang tak terlepaskan dalam berbagai strategi promosi pariwisata nasional. Tata kelola pariwisata Denpasar pun menjadi penting dan tak dapat dilepaskan sebagai bagian dari tata kelola pariwisata nasional. Tak heran, skor penilaian kota ini pada aspek tata kelola cukup tinggi.

 

Dalam indeks ini aspek lingkungan pendukung bisnis dan insfrastruktur menjadi entitas yang cukup menentukan yang membuat Kota Denpasar unggul. Padahal di kedua aspek ini, posisi Indonesia dalam pengukuran indeks serupa di tingkat internasional (Travel and Tourism Competitive Index) pada tahun 2015 menjadi aspek yang lemah. Indonesia menduduki posisi ke-75 dan ke-80 dengan skor 4,46 dan 3,28, keduanya pada skala 7. Sementara dalam IPI, Kota Denpasar mendapat skor 4,12 dari skala 5. Dalam aspek ini, penilaian untuk Kota Denpasar melebihi Indonesia jika diperbandingkan.
 
Peringkat kedua setelah Kota Denpasar adalah Kota Surabaya dengan skor indeks 3,74. Sebagai kota bisnis, aktivitas wisata konvensi atau MICE (Meetings, Incentives, Conference, Exhibitions), menjadi salah satu kontribusi paling penting yang mendorong laju industri pariwisata di kota buaya ini. Aspek lingkungan bisnis pendukung dan infrastruktur menjadi modal kuat yang mendongkrak daya saing Surabaya dalam industri pariwisata nasional.


Kota Batam menduduki peringkat berikutnya dengan skor 3,73. Kota yang termasuk dalam segitiga gerbang pariwisata nasional bersama Bali dan Jakarta ini, diuntungkan dengan posisi wilayahnya yang menjadi salah pintu masuk wisatawan asing, terutama Singapura. Seperti halnya Surabaya, karakter sebagai kota industri dan bisnis mendorong aktivitas wisata konvensi sebagai kekuatan yang menghidupkan industri pariwisata di Kota Batam. Sebagai pintu gerbang nusantara sekaligus kota transit, kesiapan infrastruktur transportasi darat dan laut menjadi nilai penguat bagi kota ini.

 

Pariwisata ditempatkan sebagai salah satu sektor utama dalam pembangunan di banyak negara. Pariwisata terbukti menjadi alat efektif yang memacu peningkatan pendapatan, pekerjaan, dan menciptakan kesejahteraan masyarakat Tak heran banyak negara menempatkan pariwisata sebagai sektor paling strategis dalam agenda pembangunan.
 
Pemerintah berupaya menggenjot pertumbuhan sektor pariwisata dengan memasang target pencapaian dua kali lipat selama lima tahun sejak tahun 2014. Kontribusi sektor pariwisata yang pada tahun 2014 tercatat 4,2 persen, ditargetkan menjadi 8 persen pada tahun 2019. Begitu juga kunjungan wisatawan yang pada tahun 2014 sebanyak 9 juta wisatawan, ditargetkan melonjak jadi 20 juta wisatawan di tahun 2019. Demikian juga peraihan devisa diharapkan bisa digenjot dua kali lipat dari 120 triliun menjadi 240 triliun dalam periode lima tahun.


286 (57%) kabupaten/kota berada
di bawah skor rata-rata nasional

Indonesia memiliki potensi dan daya tarik wisata yang sangat kaya. Namun daya saing industri pariwisata Indonesia masih kalah oleh negara-negara tetangga. Angka kunjungan wisatawan asing ke Indonesia memang terus meningkat, namun pertumbuhannya masih jauh tertinggal dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Thailand. Salah satu kesimpulan dari Indeks Pariwisata Indonesia ini pun mempertegas adanya problem kesenjangan yang cukup kuat dalam berbagai aspek pendukung industri pariwisata daerah di Indonesia.
 
Aspek Pengukuran
Kesiapan Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan pariwisata tidak terlepas dari kesiapan daerah dalam mengelola potensi wisata yang ada. Selain itu, integrasi pembangunan sektor-sektor lain yang menopang industri pariwisata juga menentukan keberhasilan Indonesia dalam meningkatkan daya saingnya di tengah persaingan industri pariwisata global.
 
Indeks Pariwisata Indonesia disusun untuk memetakan secara umum kesiapan dan daya saing bidang pariwisata setiap daerah pada tingkatan kabupaten/kota. Hasil pengukuran ini setidaknya mampu menggambarkan kelebihan dan kekurangan daerah dari aspek-aspek pembangunan pariwisata yang diukur secara berkesinambungan. Lebih jauh, indeks ini juga dapat digunakan sebagai acuan dasar dalam mengembangkan pariwisata daerah dan nasional.

peta.png
 
Salah satu kesimpulan dari hasil pengukuran Indeks Pariwisata Indonesia menggambarkan kesenjangan antardaerah yang cukup tajam pada aspek penopang industri pariwisata. Infrastruktur menjadi kunci utama aksesibilitas menuju daya tarik wisata. Pilar penopang aspek ini adalah infrastruktur transportasi udara, infrastruktur transportasi darat dan laut, serta infrastruktur pendukung wisatawan. Sayangnya, aspek-aspek tersebut menunjukkan tingkat kesenjangan antardaerah yang paling tinggi.
 
Dominasi daerah perkotaan pada aspek ini, menunjukkan ketersediaan infrastruktur pendukung pariwisata masih terpusat di kota-kota besar. Daerah yang berada di peringkat lima besar pada aspek ini adalah  Kota Makassar, Kota Bandung, Kota Denpasar, kota Surabaya, dan Kota Palembang. Sebagai “hub” atau kota penghubung/transit menuju kota-kota dan pulau lain di Indonesia Timur, Kota Makassar memiliki kekuatan paling menonjol dalam infrastruktur pendukung pariwisata.
 
10 Daerah Peringkat Tertinggi dalam Aspek Infrastruktur
KAB/KOTA SKOR PERINGKAT
Kota Makassar 4,39 1
Kota Denpasar 4,12 2
Kota Bandung 4,12 3
Kota Surabaya 3,89 4
Kota Palembang 3,75 5
Kota Yogyakarta 3,28 6
Kota Semarang 3,27 7
Kota Medan 3,27 8
Sleman 3,24 9
Kota Surakarta 2,94 10
 
Ilustrasi kesenjangan kondisi antardaerah juga tergambar pada aspek tata kelola. Peran pemerintah daerah dalam mengembangkan industri pariwisata menjadi pokok penilaian pada aspek ini. Pada aspek tata kelola, sebanyak 67 persen daerah memperoleh skor di bawah skor rata-rata nasional. Daerah yang menduduki ranking teratas pada aspek tata kelola adalah Kota Surakarta, Kota Denpasar, Badung, Kota Makassar, dan Kota Yogyakarta.
 
10 Daerah Peringkat Tertinggi dalam Aspek Tata Kelola
KAB/KOTA SKOR PERINGKAT
Kota Surakarta 3,99 1
Kota Denpasar 3,79 2
Badung 3,68 3
Kota Makassar 3,59 4
Kota Yogyakarta 3,54 5
Kota Bukittinggi 3,42 6
Kota Batam 3,34 7
Gianyar 3,33 8
Kota Palembang 3,31 9
Kota Bogor 3,29 10
 
 
Sementara itu, aspek lingkungan pendukung merangkum lima pilar penilaian, yaitu lingkungan bisnis, keselamatan dan keamanan, sarana kesehatan dan kebersihan, sumberdaya manusia dan pasar tenaga kerja, serta kesiapan infrastruktur teknologi informasi.  Aspek ini menjadi poin penting bagi pelaku industri dalam mengembangkan bisnis pariwisata di daerah. Daerah yang memiliki skor penilaian tertinggi dalam aspek ini adalah Kota Denpasar, Sleman, Kota Semarang, Kota Surabaya, dan Bantul.
 
10 Daerah Peringkat Tertinggi dalam Aspek Pendukung Bisnis
KAB/KOTA SKOR PERINGKAT
Kota Denpasar 3,71 1
Sleman 3,42 2
Kota Semarang 3,26 3
Kota Surabaya 3,21 4
Bantul 3,19 5
Kota Medan 3,16 6
Kota Batam 3,04 7
Kota Surakarta 3,02 8
Kota Bekasi 3,02 9
Kota Padang 2,95 10
 
 
Aspek potensi wisata terdiri dari dua pilar penilaian, yakni jumlah potensi wisata alam dan  jumlah potensi wisata buatan. Tampak dari hasil pengukuran di aspek ini, Indonesia memiliki potensi yang sangat kaya dan tersebar di nyaris semua kawasan. Sebagian terbesar daerah yang mendapat penilaian tinggi pada aspek potensi wisata, cenderung tidak didukung oleh aspek-aspek yang lain. Ini menyebabkan daerah-daerah tersebut secara umum kurang memiliki daya saing untuk menarik wisatawan dan mengembangkan industri pariwisatanya.
 
Kabupaten Sukabumi meraih skor tertinggi dalam aspek potensi wisata. Jumlah dan keragaman potensi wisata alam dan wisata buatan, baik wisata bahari maupun wisata pegunungan, menjadi keunggulan utama kabupaten ini. Daerah lain yang termasuk ke dalam lima peringkat teratas dalam aspek potensi wisata adalah Kabupaten Badung, Bogor, Wakatobi, dan Raja Ampat.
 
10 Daerah Peringkat Tertinggi dalam Aspek Potensi Wisata
KAB/KOTA SKOR PERINGKAT
Sukabumi 3,79 1
Badung 3,45 2
Bogor 3,39 3
Wakatobi 3,29 4
Raja Ampat 3,25 5
Lombok Utara 3,19 6
Kota Batam 3,17 7
Bintan 3,12 8
Kep. Mentawai 3,02 9
Banyuwangi 3,00 10
 
 
Konsep Indeks
Indeks Pariwisata Indonesia ini disusun dengan mengacu konsep Travel and Tourism Competitive Index yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Proses pengukuran Indeks Pariwisata Indonesia berbasis data sekunder (data statistik) dilakukan untuk menentukan skor indeks daya saing pariwisata di 505 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Selain itu, pengukuran indeks persepsi juga dilakukan terhadap 25 daerah dengan skor tertinggi berdasarkan hasil pengukuran indeks daya saing pariwisata. Survei persepsi dengan model wawancara tatap muka ini bertujuan untuk memboboti hasil pengukuran indeks daya saing dengan penilaian masyarakat terkait pembangunan pariwisata di daerahnya masing-masing.
 

Pembangunan pariwisata tidak bisa dilepaskan dari empat aspek utama yang menjadi penopang industri ini, yaitu aspek lingkungan pendukung bisnis, tata kelola, infrastruktur, dan potensi wisata. Keempat aspek inilah yang disusun sebagai basis konsep pengukuran Indeks Pariwisata Indonesia. Sebanyak 78 indikator data dikelompokkan menjadi 14 pilar penilaian. Masing-masing pilar tersebut dikelompokkan lagi menjadi empat aspek pengukuran utama.
 
Hasil pengukuran indeks ini menjadi peta dasar kesiapan dan daya saing daerah dalam industri pariwisata. Indeks ini bisa dijadikan basis untuk melihat secara umum potensi industri pariwisata setiap daerah di Indonesia. (Litbang Kompas)
 
Metode
Indeks komposit ini terdiri dari Indeks Daya Saing Pariwisata (IDSP) dan Indeks Persepsi Pariwisata (IPP). Gabungan keduanya merupakan Indeks Pariwisata Indonesia (IPI). Pengukuran IPI dilakukan Litbang Kompas dengan menggunakan data sekunder/statistik terhadap 505 kabupaten/kota di Indonesia. IDSP disusun dari data sekunder yang dikelompokkan dalam 4 aspek, 14 pilar, dan 78 indikator. IPP disusun dari hasil survei tatap muka terhadap 4.850 responden di 25 kabupaten/kota unggulan. Konsep IPI disusun dengan melibatkan tim pakar yang terdiri dari Prof Dr Muhammad Baiquni, Prof Dr Janianton Damanik, Dr Andri Kurniawan, dan Dr Frans Teguh.

  • Artikel Terkait
blog comments powered by Disqus