Pustaka | 25 Mei 2015 19:15 WIB

Rohingya, Terusir Dari Negeri Sendiri

Konflik sektarian antara etnis Rohingya yang mayoritas muslim dan masyarakat Buddha di Myanmar telah berlangsung selama lebih dari 7 dekade. Tahun 1942 terjadi pembantaian massal etnis Rohingya oleh Buddha Arakan yang menelan 20.000 korban tewas. Saat ini eskalasi konflik etnis di negara tersebut kian memanas dan menyebabkan eksodus ribuan Muslim Rohingya keluar dari Myanmar. Ada yang menyebar ke berbagai negara Asia lainnya, adapula yang ke Timur Tengah. 
Tak sedikit dari pengungsi Rohingya yang mati karena kelaparan atau tenggelam di laut. Sebagian negara tujuan menolak menjadi penampungan gelombang pengungsi. Situasi terus memburuk karena kebijakan pemerintah Myanmar yang terus menekan warga etnis Rohingya yang sebagian besar tinggal di negara bagian Rakhine (perbatasan Bangladesh). Hal ini diperparah dengan munculnya kalangan warga budhis militan yang dipimpin Wirathu, yang memperoleh restu dari pemerintah untuk melakukan kampanye anti-Muslim.

Etnis Rohingya merupakan penduduk minoritas di Myanmar yang memiliki populasi sebesar 5 persen dari seluruh jumlah penduduk. Sementara itu pengikut Buddha merupakan mayoritas dengan jumlah populasi 70 persen. Walaupun minoritas warga muslim Rohingya dianggap sebagai orang asing yang mengancam eksistensi penganut Buddha, sehingga harus disingkirkan.

Leluhur Rohingya sebagian besar berasal dari Bengal (sekarang Bangladesh). Sejak abad ke-18, mereka bermigrasi ke wilayah Arakan. Pada awalnya hubungan antara Muslim dan Buddha tidak bermasalah. Namun hubungan ini berubah drastis selama Perang Dunia II. Sejak saat itulah hubungan antara Muslim Rohingya, Buddha, dan pemerintah Myanmar berubah menjadi konflik yang tidak terselesaikan hingga saat ini.

Tuntutan Rohingya
Kaum muslim di Myanmar sebetulnya tidak homogen. Muslim Kaman dan Panthay kebanyakan sudah berasimiliasi dengan masyarakat Myanmar, sehingga hubungan mereka tidak bermasalah. Beda halnya dengan etnis Rohingya yang tidak pernah diakui oleh pemerintah Myanmar. Walaupun mereka memisahkan diri, mereka bukan separatis yang ingin membentuk negara sendiri. Mereka justru menuntut pengakuan dari negara. Hal ini terungkap dalam buku Rohingya, Suara Etnis yang Tidak Boleh Bersuara (PAHAM – Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya Arakan, 2013).

Tuntutan etnis Rohingya - yang dikemukakan oleh Organisasi untuk Front Patriotik (1976) - adalah perjuangan melawan rasialisme, tekanan politik dan sosial, fanatisme agama, eksploitasi ekonomi, penangkapan arbitrer, pemerkosaan, genosida, pembatasan kebebasan, penguasaan hak tanah, ketidakadilan, dan pemusnahan dari tanah air (hal 58).

Dalam buku karya Bilveer Singh berjudul Myanmar’ Rohingyas: Challenges Confronting a Persecuted Minority and Implications for National and Regional Security (Gadjah Mada University Press, 2013), Rohingya di Myanmar ini disebut-sebut sebagai komunitas etnis minoritas yang paling teraniaya tidak hanya di Asia, tapi juga di dunia. Sejak Myanmar (dulu Burma) mendapatkan kemerdekaan dari Inggris di tahun 1948, Rohingnya secara brutal diusir dari tanah airnya.



Represi dan pengusiran etnis minoritas ini menimbulkan kekhawatiran akan timbulnya radikalisme dan terorisme. Tidak hanya mengancam keamanan di tingkat nasional tapi juga di kawasan. Rohingya telah menjadi incaran kaum Mujahidin untuk kepentingan jihad-nya baik di dalam maupun di luar Bangladesh.