Pustaka | 4 Mei 2015 13:07 WIB

Revitalisasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara, 2 Mei, ditetapkan sebagai hari pendidikan nasional. Ini merupakan penghargaan kepada Bapak perintis pendidikan yang telah meletakkan fondasi pendidikan yang berlandaskan pada nilai-nilai keluhuran manusia. Di tengah situasi pendidikan saat ini yang sangat memprihatinkan, terasa betapa pentingnya agar dunia pendidikan kembali mengacu pada nilai-nilai yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara. Penting untuk merevitalisasi pemikirannya, seperti yang terangkum dalam buku karya Bartolomeus Samho berjudul Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Tantangan dan Relevansinya (Kanisius, 2013).
Pendidikan Memerdekakan 
Pemikiran Ki Hadjar di masa itu merupakan ekstraksi dari pengalaman sebagai bangsa terjajah dan tanggapan kritisnya terhadap kebutuhan pendidikan kaum terjajah. Ki Hadjar yakin bahwa dunia pendidikan merupakan jalan mendasar untuk membangun bangsa, jalan menuju terciptanya masyarakat adil dan makmur. 
 
Bagi Ki Hadjar pendidikan itu idealnya harus memerdekakan manusia. Bukan hanya merdeka dari penjajahan, tapi memerdekakan dari segala belenggu yang memasung dan menghambat manusia untuk mengaktualisasikan potensi diri (hal 55). Visinya ini tetap dan semakin relevan di masa kini, di tengah dunia yang carut marut. Di tengah merajalelanya korupsi, keserakahan, ketidakadilan, kekerasan, konflik, fanatisme dan sektarian, sikap pragmatis, dan ketidakpedulian. Sistem pendidikan yang terlalu menekankan pada aspek intelektual sedikit banyak berpengaruh pada situasi ini. Padahal yang penting adalah karakter pribadi, keluhuran budi, hati nurani, dan jiwa sosial. 
 
Melalui perguruan Taman Siswa yang didirikannya pada tahun 1922, Ki Hadjar ingin membentuk manusia Indonesia yang mempunyai integritas dan sadar siapa dirinya. Di perguruannya ini, siswa dididik untuk mengembangkan setiap potensi diri – intelektual, emosional, sosial, dan spiritual – secara integral.
 
Nilai-nilai pendidikannya dikembangkan berdasarkan pada nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia sehingga menjadi pendidikan yang khas Indonesia. Tiga semboyannya yang sangat terkenal, Ing Ngarsa Sung Tulada (pendidik sebagai pemberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (pendidik berada di tengah anak didik sebagai motivator), dan Tut Wuri Handayani (pendidik sebagai pendorong dan pemberi arahan), sangat khas Indonesia (Jawa). Metode pendidikan Ki Hadjar sangat sesuai dalam pembentukan kepribadian generasi muda Indonesia, yaitu momong, among, dan ngemong. Mengasuh, mendidika, dan memberi kebebasan (hal 78).
 
Pendidikan dan Kebudayaan
Ki Hadjar Dewantara adalah seorang visioner. Visinya mengenai pendidikan yang mengambil inspirasi pada kearifan lokal tetap relevan hingga kini. Hal itu tercermin dari hasil penelitian bidang pendidikan yang dipublikasikan dalam buku berjudul Korelasi Kebudayaan & Pendidikan: Membangun Pendidikan Berbasis Budaya Lokal (Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014).

korelasi-kebudayaan.jpg
 
Kearifan lokal yang dimaksud tidak terbatas pada narasi-narasi dari tanah Jawa tetapi juga dalam khazanah budaya Melayu. Setiap cerita rakyat mengandung nilai-nilai moral. Misalnya pada kisah Hang Tuah, cerita rakyat Melayu yang begitu dikenal masyarakat Sumatera (hal 151). Moral cerita dari kisah yang mengandung ajaran budi pekerti dan moral, seperti kejujuran, kebenaran, dan patriotisme ini dapat dijadikan bahan pengajaran. Sungguh penting melestarikan dan mengembangkan cerita rakyat sebagai ekspresi budaya dalam dunia pendidikan.
 
Hal ini sejalan dengan salah satu asas dari lima pancadharma (asas pendidikan) Ki Hadjar, yaitu kebudayaan sebagai asas pendidikan yang bersandar pada kodrati manusia sebagai makhluk berbudaya.