Pustaka | 12 Juni 2015 12:01 WIB

Seperempat Abad Bersama Si Lubang Hitam

Di mata publik, keberhasilan Stephen Hawking menjadi fisikawan terbesar abad ini lewat teori radiasi lubang hitam atau Radiasi Hawking seolah membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang meraih kesuksesan.
Media selalu mengangkat cerita Stephen, yang meski sejak 1963 divonis hidupnya tinggal dua tahun akibat penyakit saraf motorik, bisa menggapai sukses sebagai kosmolog. Ia meraih gelar profesor di University of Cambridge, bergelimang penghargaan, bahkan dianggap sosok genius penerus Albert Einstein. Segala pencapaian itu seakan menunjukkan bahwa kegeniusannya telah mengalahkan penyakitnya.
 
Namun, Jane Hawking, istri yang mendampinginya selama seperempat abad, tahu betul bahwa meski memiliki pemikiran yang luar biasa, dalam tubuh suaminya itu tersimpan penderitaan yang terbilang dahsyat. Dalam Traveling to Infinity (Gramedia Pustaka Utama, 2015), Jane menceritakan bahwa sesungguhnya penyakit yang menjadi musuh terbesar “si lubang hitam” itu tak pernah kalah. Tak hanya melumpuhkan tubuh suaminya, penyakit itu juga berdampak secara fisik dan emosional pada keluarga, hubungan mereka sebagai suami-istri, hingga pertumbuhan ketiga anak mereka.

Kemustahilan Psikologis dan Fisik
Secara intelektual Stephen adalah raksasa, tetapi secara fisik tubuhnya tak berdaya. Ada kemustahilan bagi pria kelahiran Inggris 8 Januari 1942 itu untuk hadir secara fisik mengurus keluarga. Jane memahami itu dan tak mau suaminya teralihkan oleh hal-hal duniawi seperti memasak, mengurus rumah, dan kebutuhan anak-anak. Keadaannya seperti bayi baru lahir dan Jane lah yang menjalankan peran sebagaimana seorang ibu kepada anak kecil, dan bertanggung jawab atas segala keperluannya.
Meski berusaha keras mengurus semua kebutuhan keluarga, Jane merasa dampak psikologis pada anak-anak tetap tak bisa dihindari. Ketiga anak mereka, terutama Robert, seakan kehilangan masa kecil, harus bersikap dewasa dan memahami kondisi yang rumit. Putra pertamanya itu menjadi pendiam, jarang mengeluh, bahkan sempat sulit bergaul.

Hal yang juga tak bisa dihindari adalah soal rintangan fisik dalam keseharian hidup mereka. Jauh sebelum hak orang difabel mulai diakui sejak 1970, Jane tegar menjalani tahun demi tahun ketika dia harus menggendong anaknya yang masih bayi, membawa anaknya yang masih balita, sambil mendorong kursi roda suaminya.

Trotoar tinggi atau undakan, apalagi tangga curam, menjadi rintangan yang seketika bisa mengubah perjalanan keluarga biasa menjadi sebuah bencana. Berat rasanya bagi Jane dengan bobot tubuh hanya 47 kg, harus melewati rintangan semacam itu tanpa bantuan orang lain. Ada kalanya Jane harus menunggu bantuan perempuan yang bersedia menggendong bayinya, dan meminta bantuan laki-laki yang lewat untuk bersama-sama menggotong kursi roda suaminya melewati rintangan itu.

Sebuah ironi ketika mereka berusaha tampak senang dan normal di depan publik, sementara nyatanya situasi seperti itu terus-menerus mereka hadapi. Jane merasa dirinya, suaminya, dan anak-anak seakan menjadi korban dari kesuksesan mereka sendiri.
 
Cinta yang Mengalah
Cinta adalah penepis keraguan dalam benak Jane untuk berkata “ya” saat suatu malam di Cambridge, Inggris, Stephen membisikkan lamaran untuk menikahinya. Padahal, sebelum resmi menikah pada 14 Juli 1965, ayah Stephen, Frank Hawking berulang kali memperingatkan Jane tentang sisa usia anaknya dan bermacam aspek yang mungkin tak dapat dipenuhi Stephen sebagai seorang suami.

Jane memilih tidak memikirkan rincian segala kemungkinan mengerikan yang bisa terjadi pada pemuda kurus, berambut cokelat yang dikaguminya itu. Fokusnya adalah bagaimana dalam waktu yang katanya singkat itu dia bisa membantu Stephen menggapai apa yang diinginkan dan menemukan kebahagiaan bersamanya.

Cinta juga membuat perempuan kelahiran Inggris 29 Maret 1944 itu mengatasi berbagai situasi, termasuk ketika dia menghadapi pribadi Stephen yang keras kepala dan tak mau menyerah ketika berbeda pendapat. Perawatan suaminya adalah bagian dari hidup dan takdirnya. Penderitaan tak mampu menggoyahkannya. Perasaannya tak pernah diniatkan sebagai bentuk kasihan, meski kadang ada rasa putus asa dan frustasi oleh sikap keras kepala Stephen, cinta selalu membuat Jane mengalah. Semuanya didamaikan dengan rasa cinta dan hormat pada suaminya.

Meski cinta yang mengalah itu harus berujung perceraian karena Stephen memilih hidup bersama Elaine Mason, perawatnya, Jane tetap merasa beruntung pernah berada di dekat Stephen. Jane yang menikah lagi dengan Jonathan pada 1997, selalu menyimpan memori bahagia tentang apa yang dianggap sebagai prestasi terbesar selama hidupnya yakni menjaga Stephen hingga terus bertahan hidup dan membesarkan anak-anaknya yang baik, cerdas, dan menyayanginya.