Pustaka | 29 Juni 2015 13:12 WIB

Malioboro, Jalan Untaian Bunga

Apakah nama jalan Malioboro di Yogyakarta asalnya dari nama seorang Jenderal Inggris, Duke of Marlborough atau dari Bahasa Sansekerta, malyabharin, yang artinya “berhiaskan untaian bunga”?
Banyak yang menduga bahwa penamaan kota Malioboro erat kaitannya dengan nama Marlborough, nama gelar jenderal Inggris terkenal Winston Churchill (1650-1722). Namun etimologi populer ini ditentang oleh Dr. OW Tichelaar pada tahun 1971 yang menyatakan bahwa tidaklah mungkin bagi orang Jawa mengambil nama orang Inggris untuk dijadikan nama jalan yang teramat penting bagi mereka. Jalan Maliboro terbentang dari kompleks Keraton Yogyakarta ke arah utara menuju gunung berapi Gunung Merapi. Keseluruhan jalan ini mempunyai fungsi simbolis yang sangat penting bagi Keraton Yogyakarta. Terlebih nama Marlborough tidak pernah disinggung dalam buku tulisan Raffles berjudul History of Java.

Berawal dari rasa penasaran dengan asal usul nama Malioboro, sejarawan Peter Carey menelusuri asal muasal nama ini. Hasilnya dituangkan dalam buku Asal Usul Nama Yogyakarta & Malioboro (Komunitas Bambu, 2015). Tulisannya ini kemudian ditanggapi oleh Jacobus Noordyn dan MC Ricklefs.

Carey tidak hanya menjelaskan soal asal usul nama, tapi juga arti dan makna serta penggunaannya sebagai simbol identitas. Carey menyebutkan nama Malioboro kemungkinan besar berasal dari kata malyabhara, yang dalam bahasa Sansekerta artinya berhiaskan untaian bunga. Menurutnya, gagasan ini lebih masuk di akal. Ia mengambil kesimpulan bahwa kata Malioboro berasal dari bahasa Sansekerta dengan perkiraan bahwa kata Yogyakarta pun berasal dari bahasa Sansekerta. Ia mengutip tulisan Rikclefs bahwa petunjuk “Ngayogyakarta” sendiri kemungkinan besar berasal dari kata Ayodhya, ibu kota pahlawan India Rama dalam epos Ramayana seperti (hal 10).

Namun menurut Carey, toponimi di atas belumlah meyakinkan hingga kata “Malioboro” ditemukan  dalam naskah Jawa pertengahan abad ke-18 yang berasal dari Yogya. Masih ada kemungkinan lain asal nama ini. Bisa saja nama ini diusulkan AB Cohen Stuart, ahli bahasa Sansekerta yang salah satu tugasnya memberikan masukan kepada Susuhunan Paku Buwono IX soal revisi kalender Jawa.

Tanggapan Noordyn
Mengenai gagasan Peter Carey soal Ayodhya sebagai asal kata Ngayogyakarta, Noordyn memberikan tanggapannya. Ia memperlihatkan kemungkinan lain asal usul nama Yogyakarta. Ia merujuk pada  artikel cendekiawan besar bahasa Jawa Kuno, JLA Branders yang diterbitkan tahun 1894, yang menunjukkan bahwa telah ada sebuah tempat bernama Yogya atau Ayogya di distrik Mataram di atau dekat lokasi tempat Yogkayarta berada beberapa waktu sebelum pembagian Jawa pada 1755 dibuktikan oleh dokumen-dokumen awal Belanda, yang sejauh ini telah dipublikasikan (hal 49).

Lantas Noordyn menunjukkan pula naskah dari Babad Giyanti yang menyebutkan tentang suatu tempat bernama Gerjiwati yang kemudian oleh Sultan Mangkubumi (Hamengku Buwono I) diubah menjadi Ayogya di mana terdapat sebuah kediaman raja (dalem).

Noordyn juga memperlihatkan etimologi kata Yogya yang diungkapkan ahli bahasa Jawa, Wilhelm von Humboldt, yang artinya pas, sesuai, dan layak.  Yogya berarti sebuah tempat yang sesuai untuk pesanggrahan dan juga untuk kediaman seorang pangeran Jawa diungkapkan oleh Wilhelm von Humboldt dalam bukunya tentang bahasa kawi di Java.

Komentar Ricklefs
Ricklefs, seorang Indonesianis ahli sejarah sepakat dengan Noorduyn bahwa mungkin saja kata Yogyakarta berasal dari nama kota dalam buku Ramayana. Ia juga menguatkan pendapat Noorduyn soal adanya desa bernama Garjiwati dan/atau Yogya atau Ayogya. Bahwa nama-nama itu memang ditemukan dalam sumber-sumber Jawa maupun Belanda.

Soal perubahan nama dari Ayogya/Ngayogya menjadi Ngayogyakarta Adiningrat, Ricklefs juga menunjukkan sumber-sumbernya. Salah satunya adalah surat VOC bertanggal 26 Februari 1756 yang melaporkan perpindahan Sri Sultan ke perumahan tetap Yogya (Djokjo) dan surat bertanggal 8 April 1756 yang menyebutkan bahwa keratonnya berganti nama menjadi “Djokjacarta Diningrat”.
Bagi Ricklefs, soal kepastian asal muasal nama Yogyakarta tetap merupakan sejarah yang kabur. Berbagai kemungkinan seperti yang disebutkan oleh Carey maupun Noorduyn “tidak bisa begitu saja dibuang, walaupun sedikitpun tidak ada bukti,” demikian tuturnya di akhir tulisannya.