Pustaka | 1 Juni 2015 19:21 WIB

Duka Bunda, Duka Pertiwi

Awal dan akhir kisah dalam buku ini adalah bagaimana penulisnya, Nurinwa Ki S. Hendrowinoto memaknai  patung Pieta. Pematungnya adalah Michaelangelo, seniman besar dunia asal Italia. Karya-karya seninya terpajang di sudut-sudut bagunan-bangunan antik di Vatikan.
Pieta adalah patung Bunda Maria memangku Yesus putranya yang tergeletak tak berdaya di pangkuannya. Yesus yang mati di kayu salib. Nurinwa tampak terpesona dengan salah satu karya agung itu. Hatinya luluh, matanya berkaca-kaca menatap Pieta. Rupanya kunjungan wisata doktor ilmu sosial lulusan Universitas Airlangga itu di Basilika Santo Petrus, Vatikan punya kesan mendalam.

Pieta membawanya menapaki jejak-jejak kenangan masa lalunya. Peristiwa dari kota satu ke kota lain yang dikunjunginya selama perjalanan wisata berkali-kali menggugah kenangan lama penulis buku semi otobiografi ini. Pusat cerita adapada sosok ibu dan sang putera yang menderita. Dari patung Pieta, Nurinwa memaknai relasi cinta tulus sang ibu.

Bab demi bab dalam buku bukan hanya melukiskan tempat-tempat menarik di Eropa, yang membuatnya tak henti bersenandung. Tapi ilmuwan yang rajin menulis buku ini bercerita tentang relasi dirinya dengan sang ibu tercinta, tentang Indonesia sebagai ibu pertiwi, dan derita Bung Karno, putera fajar yang tergolek tak berdaya di tangan rezim Soeharto.

Sang Ibu selalu hadir dalam imajinasi Nurinwa, dalam mimpi-mimpi yang kadang berujung pada gugatan terhadap isu-isu aktual yang menjadi perhatiannya. Seperti ketika dia berada di Zurich, Swiss, saat Nurinwa tidur di kasur empuk hotel mewah dia bermimpi ditelepon Ibu. Ibu bertanya, benarkah Ruyati, tenaga kerja wanita Indonesia yang bekerja di Arab Saudidipenggal kepalanya. Ibu juga bertanya dengan sedikit berteriak, “Berapa ratus kepala perempuan lagi dipenggal?”.  Mimpi terputus. Penulis terjaga. Wajah Ibu dan patung Pieta muncul di kabul. (hal 70)

Bayangan patung Pieta kembali muncul di kalbu penulis beberapa buku ini. Kali ini menghubungkannya dengan nasib malang sang proklamator Bung Karno, yang dimasa akhir kekuasaannya hidup menderita. Saat itu Nurinwa berada di kota Paris. Pikirannya segera melayang jauh mengenang Bung karno, ketika Tour Leader perempuan yang memnadu rombongan penulis berwisata di Paris berteriak menyebut nama Presiden Sukarno.

Pagi hari, pada 21 Juni 1970, seluruh rakyat Indonesia mencucurkan air mata setelah mendengar lewat siaran radio bahwa presiden Sukarno, meninggal dunia. Setelah siaran radio itu, Nurinwa dibangunkan Ayah. Mata Ayah berlinang. Suara Ayah terdengar bergetar “Bung Karno meninggal dunia. Tolong beli kembang banyon”.  Ketika Ibu mendengar kabar itu, dia nyeletuk “Kualat yang menyiksa Bung Karno.” (hal 96) Letupan emosi Nurinwa tentang derita Bung Karno tertumpah berhalaman-halaman dalam bukunya.

Patung  Pieta, patung duka Bunda, yang memandang derita anaknya mengalami transformasi di tangan Nurinwa. Bunda Maria menjadi Ibu Nurinwa, menjadi Ibu Pertiwi, yang menangisi derita anak-anaknya seperti Bung Karno dan Ruyati. Novel ini mengungkapkan ingatan-ingatan yang sekaligus gugatan, sampai kapan derita anak bangsa berakhir. Dan kapan Bunda berhenti berduka.