Pustaka | 1 Juli 2015 13:20 WIB

Komunikasi Bisu Generasi Maya

Pola interaksi antar manusia dalam konteks komunikasi saat ini mengalami pergeseran akibat kehadiran internet yang diusung berbagai produk gawai dan multimedia. Remaja sebagai kalangan pengguna internet terbanyak di Indonesia menjadi fokus perhatian, mengingat kekhawatiran timbulnya dampak negatif internet terhadap perkembangan identitas sosial remaja, di samping berbagai kemudahan yang diusungnya.
Derasnya arus informasi di era globalisasi mendorong remaja memiliki wawasan serta cara pandang, yang sedikit banyak terbentuk karena interaksi melalui komputer atau computer mediated communication (CMC). Prinsip CMC adalah komunikasi yang dilakukan melalui komputer yang terhubung dengan internet bertujuan membuat publik aktif dan tergugah untuk mengikuti perkembangan informasi.

Melalui CMC mereka mencoba menerjemahkan setiap interaksi melalui interpretasi terhadap bahasa yang digunakan, yakni bahasa simbol seperti tanda seru, titik-titik, atau smiley. Namun, mereka tak pernah tahu secara pasti bagaimana kondisi di sekitar saat interaksi berlangsung. Interaksi melalui CMC berpotensi kehilangan makna karena jauhnya jarak antara komunikan dan komunikator. Berbeda halnya dengan interaksi tatap muka yang menghadirkan wujud ekspresi pelaku komunikasi. Dengan tatap muka mereka bisa melihat dan berinteraksi sepenuhnya, mulai dari kontak mata, gesture, hingga percakapan langsung.

Dalam Berkomunikasi Ala Net Generation (PT Gramedia, Jakarta, 2015), Dian Budiargo menyajikan hasil pengamatan dan analisisnya terhadap 12 orang nara sumber yang berusia antara 16 hingga 22 tahun. Kelompok Net Generation dibatasi sebagai remaja yang sering menghabiskan waktu berinteraksi menggunakan gawai berkoneksi internet. Untuk pengamatan ini, ditetapkan mereka harus memiliki akses internet yang cukup memadai, sehingga bisa mengakses internet 30 jam dalam seminggu.
 
Identitas Sosial Remaja
Komunikasi melalui internet rawan menimbulkan cyberbullying atau pelecehan dan perilaku menyimpang di dunia maya, yang dapat mengganggu mental anak-anak remaja. Ini patut diwaspadai, sebab secara psikologis masa remaja adalah masa kritis, masa penting pembentukan identitas.

Identitas sosial remaja adalah suatu kesadaran akan diri atau konsep diri tentang siapa dirinya, yang tak lepas dari lingkungan sosialnya. Dengan semakin besarnya terpaan media sosial online atau melalui CMC, muncul pertanyaan akankah identitas sosial remaja dapat terbentuk sesuai nilai dan norma yang berlaku di masyarakat?

Proses terbentuknya identitas sosial remaja, dalam penelitian ini, difokuskan pada interaksi di dunia maya. Aktivitas yang sering mereka lakukan di antaranya, mencari informasi melalui mesin pencari Yahoo dan Google, mencari film atau lagu baru melalui You Tube, serta terhubung dengan teman melalui Yahoo Messenger, MSN Messenger, atau Facebook. Rata-rata waktu yang digunakan adalah 20 jam per minggu.

Berbeda dengan tatap muka, komunikasi melalui internet sedikit mengandung konteks sosial (dekonstekstual). Sehingga, meski wawasan mereka bertambah luas, kreatif dan inovatif, identitas mereka makin jauh dari kenyataan sosial yang ada. Menurut Erich Fromm kondisi tersebut dikhawatirkan akan mengarah kepada neurosis, yaitu tak bisa menerima diri apa adanya.
 
Perlu perlindungan
Internet membuat remaja mudah terhubung dan makin akrab dengan dunia luar, termasuk budayanya yang berbeda dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungannya. Di sisi lain, sebagai generasi yang paling tanggap menerima gempuran teknologi, remaja dianggap pasif karena menerima begitu saja berbagai tayangan media. Hal ini dikhawatirkan mempengaruhi perkembangan psikologis remaja.

Karena posisinya yang rawan ini, remaja perlu mendapat perlindungan. Berbagai pihak berkewajiban melindungi remaja dari dampak buruk internet. Yakni pengambil kebijakan, orangtua, pendidik, dan masyarakat. Beberapa cara yang ditempuh sesuai dengan kompetensi pihak-pihak terkait tersebut bermuara pada tujuan bersama untuk melindungi anak dan remaja dalam perkembangan kejiwaan mereka.

Para penentu kebijakan harus mempertimbangkan kondisi dan situasi lingkungan bila memberikan fasilitas internet ke sekolah-sekolah, termasuk sosialisai pengetahuan tentang internet kepada keluarga atau orang tua siswa. Sedangkan orangtua, pendidik, dan masyarakat, berperan dalam pembentukan identitas remaja, sebab perkembangan psikologis remaja berawal dari lingkungan terdekatnya.