Pustaka | 14 April 2015 12:01 WIB

Bertahan dengan Tradisi Osing

Osing merupakan salah satu komunitas etnis yang berada di daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Dari sejarahnya, mereka adalah masyarakat Blambangan yang tersisa. Keturunan kerajaan Hindu Blambangan ini berbeda dari masyarakat lainnya (Jawa, Madura dan Bali), bila dilihat dari adat-istiadat, budaya maupun bahasanya. Kata “Osing” dalam Bahasa Osing berarti tidak, dan kata “Osing” ini mewakili keberadaan orang Osing yang ada di Banyuwangi. Mereka juga menyatakan bukan berasal dari Jawa atau Bali. Suku Osing biasa disebut Wong Osing, Lare Osing, Tiyang Osing yang berarti “saya orang Osing”.
Dalam Jagat Osing: seni, tradisi, dan kearifan lokal Osing (Rumah Budaya Osing-Lembaga Masyarakat Adat Osing, 2015), disebutkan dari sejumlah lokasi di Banyuwangi, yang paling teguh menjalankan tradisi Osing yang diturunkan leluhurnya adalah warga desa Kemiren di kecamatan Glagah.

Desa Kemiren dikenal sebagai Komunitas Adat Osing yang bercirikan menggunakan bahasa Osing, bersifat homogen karena cenderung melakukan perkawinan dengan orang dari desa yang sama. Mereka masih menjalankan ritual bersih desa, menyakini kepercayaan yang diwarisi dari leluhurnya, dan mayoritas penduduknya bekerja di bidang pertanian atau pertukangan.

Bila ditinjau dari keseniannya, sebagian besar kesenian di Kemiren juga merupakan bentuk ekspresi seni masyarakat Osing yang agraris. Jenis-jenis kesenian tradisional yang masih bertahan hingga saat ini antara lain adalah Gandrung, Barong, dan Mocoan Lontar Yusuf.
 
Sakral dan profan
Gandrung merupakan sebuah seni petunjukan yang menggabungkan tarian dan nyanyian. Diiringi dengan musik khas perpaduan Jawa-Bali, seorang penari perempuan menari bersama-sama tamu, terutama pria. Kesenian ini muncul pertama kali sekitar tahun 1773, tak lama setelah Belanda melantik Mas Alit menjadi bupati pertama. Kesenian ini  mengiringi orang-orang Blambangan membabat hutan untuk dijadikan kota baru yang kemudian menjadi Banyuwangi. Selain untuk menghibur para pembabat hutan, saat itu gandrung juga menjadi pengiring upacara meminta keselamatan berkaitan pembabatan hutan yang dikenal angker. Gending-gending Osing yang dibawakan penari gandrung terkadang berisi petuah-petuah bijak dan kisah perjuangan melawan penjajah. Interaksi antara penari dengan pemaju (pengibing) dan penonton dilakukan dengan berbalas pantun (besanan) menggunakan Bahasa Osing.     

Seperti halnya Gandrung, Barong memiliki dua fungsi sebagai kesenian, yakni fungsi sakral dan profan sebagai pertunjukan kesenian rakyat. Perwujudan fungsi sakral Barong ini karena kesenian ini merupakan unsur terpenting dalam ritual selametan Ider Bumi dan Tumpeng Sewu. Sedangkan dalam pandangan keduniawiannya, Barong Kemiren merupakan sarana hiburan rakyat pada acara hajatan pernikahan, khitanan, dan perhelatan lainnya. Pada konteks duniawi inilah Barong bertransformasi menjadi hiburan, baik dalam bentuk teater tradisional berupa drama tari maupun arak-arakan dan atraksi tari Barong, meskipun unsur spiritual magis masih kental dalam pertunjukannya.

Seperti banyak tradisi tutur lainnya di Nusantara, Mocoan Lontar Yusuf merupakan produk dari proses akulturasi atau silang budaya antara Islam dan kepercayaan serta kebudayaan lokal. Persilangan budaya ini tampak dari karya sastra yang dibaca, isi, bentuk, tembang, cara melagukan, bahasa yang dipakai, dan fungsinya dalam masyarakat. Lontar Yusuf pada dasarnya adalah sebuah kitab beraksara Arab pegon dalam Bahasa Jawa. Namun, di dalamnya juga ditemukan banyak kosa kata Bahasa Osing. Kitab ini disalin dan diturunkan dari generasi ke generasi. Tradisi tutur ini merupakan suatu upaya dan harapan untuk mendapatkan berkat dari kemuliaan Nabi Yusuf. Masyarakat Osing meyakini bahwa dengan pembacaan ini, harapan dan keinginan tersebut dapat terkabulkan. Hingga kini kesakralannya masih tetap diyakini meski pada umumnya mereka tidak mengerti arti bahasa lontar Yusuf ini.
 
Tradisi sebagai komoditas
Sebagai masyarakat agraris, kearifan lokal masyarakat Osing dapat dilihat dari aktivitas di sawah, terutama sistem budidaya padi. Terdapat 9 prosesi dalam proses budidaya padi, yaitu dhawuhan, labuh nyingkal, nyawani ngurit, labuh tandur, ngrujaki, nyelameti sawah, metik, labuh nggampung, dan  ngunjal. Setiap prosesi tersebut berisikan harapan agar aktivitas yang akan dilakukan diberkahi oleh Tuhan dan memberikan hasil maksimal. Serangkaian ritual tersebut menunjukkan bahwa mereka sangat mensyukuri hidup, menyadari bahwa keberadaan mereka di bumi ini atas pantauan dari Tuhan, bahwa mereka tidak hidup sendirian.

Menjalankan pengetahuan warisan (weluri) masyarakat adat Osing di Banyuwangi tidaklah mudah. Lokalitas tarik menarik dengan gencarnya gempuran teknologi dan informasi dari luar. Namun, hingga kini tekad mereka masih kuat untuk menjalankan weluri. Mereka menyakini dengan menjalankan weluri, mereka bisa tetap bertahan dan malah makin berjaya. Namun, yang membuat weluri itu tetap lestari bukan semata-mata karena keunggulannya saja, tapi lebih karena masyarakat Kemiren sendiri mulai paham bahwa konservasi budaya yang mereka lakukan ternyata bernilai jual sebagai komoditas pariwisata. Kemiren berbenah, mengemas secara lebih meriah ritual-ritual adat, menciptakan acara-acara yang berpotensi mendatangkan wisatawan termasuk memberikan pelayanan pendukung terbaik bagi tamunya.