Pustaka

  • Nusantara

    Ironi Sebuah Negeri

    Ria Purwiati S/Litbang Kompas
    Ironi Sebuah Negeri

    Kabar menyedihkan terdengar lagi dari Kawasan Timur Indonesia, NTT. Kasus gizi buruk pada lima bulan pertama tahun 2015 telah menelan korban 11 bayi meninggal dan sekitar 2.000 anak balita penderita gizi buruk. 
    Selengkapnya

  • Kebudayaan

    Komunikasi Bisu Generasi Maya

    Teguh Nurhadi/Litbang Kompas
    Komunikasi Bisu Generasi Maya

    Pola interaksi antar manusia dalam konteks komunikasi saat ini mengalami pergeseran akibat kehadiran internet yang diusung berbagai produk gawai dan multimedia. Remaja sebagai kalangan pengguna internet terbanyak di Indonesia menjadi fokus perhatian, mengingat kekhawatiran timbulnya dampak negatif internet terhadap perkembangan identitas sosial remaja, di samping berbagai kemudahan yang diusungnya.
    Selengkapnya

  • Kebudayaan

    Malioboro, Jalan Untaian Bunga

    Ria Purwiati S/Litbang Kompas
    Malioboro, Jalan Untaian Bunga

    Apakah nama jalan Malioboro di Yogyakarta asalnya dari nama seorang Jenderal Inggris, Duke of Marlborough atau dari Bahasa Sansekerta, malyabharin, yang artinya “berhiaskan untaian bunga”?
    Selengkapnya

  • Seperempat Abad Bersama Si Lubang Hitam

    Putu Agus Adi Suara/Litbang Kompas
    Seperempat Abad Bersama Si Lubang Hitam

    Di mata publik, keberhasilan Stephen Hawking menjadi fisikawan terbesar abad ini lewat teori radiasi lubang hitam atau Radiasi Hawking seolah membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang meraih kesuksesan. Selengkapnya

  • Politik

    Duka Bunda, Duka Pertiwi

    Yohanes Krisnawan/Litbang Kompas
    Duka Bunda, Duka Pertiwi

    Awal dan akhir kisah dalam buku ini adalah bagaimana penulisnya, Nurinwa Ki S. Hendrowinoto memaknai  patung Pieta. Pematungnya adalah Michaelangelo, seniman besar dunia asal Italia. Karya-karya seninya terpajang di sudut-sudut bagunan-bangunan antik di Vatikan.
    Selengkapnya

  • Internasional

    Rohingya, Terusir Dari Negeri Sendiri

    Ria Purwiati S/Litbang Kompas
    Rohingya, Terusir Dari Negeri Sendiri

    Konflik sektarian antara etnis Rohingya yang mayoritas muslim dan masyarakat Buddha di Myanmar telah berlangsung selama lebih dari 7 dekade. Tahun 1942 terjadi pembantaian massal etnis Rohingya oleh Buddha Arakan yang menelan 20.000 korban tewas. Saat ini eskalasi konflik etnis di negara tersebut kian memanas dan menyebabkan eksodus ribuan Muslim Rohingya keluar dari Myanmar. Ada yang menyebar ke berbagai negara Asia lainnya, adapula yang ke Timur Tengah. 
    Selengkapnya

  • Politik

    Ujian Bagi Sejarah Bangsa

    Sintha Ratnawati/Litbang Kompas
    Ujian Bagi Sejarah Bangsa

    Perjalanan bangsa ini tidak luput dari tragedi kemanusiaan. Sangat lekat dalam memori peristiwa penculikan dan pembunuhan para jenderal Angkatan Darat tahun 1965, menandai dimulainya Orde Baru. Hampir setengah abad kemudian, perbuatan keji pengabaian terhadap hak asasi manusia (HAM) itu tak tertuntaskan. 
    Selengkapnya

  • Pendidikan

    Revitalisasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

    Ria Purwiati/Litbang Kompas
    Revitalisasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

    Hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara, 2 Mei, ditetapkan sebagai hari pendidikan nasional. Ini merupakan penghargaan kepada Bapak perintis pendidikan yang telah meletakkan fondasi pendidikan yang berlandaskan pada nilai-nilai keluhuran manusia. Di tengah situasi pendidikan saat ini yang sangat memprihatinkan, terasa betapa pentingnya agar dunia pendidikan kembali mengacu pada nilai-nilai yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara. Penting untuk merevitalisasi pemikirannya, seperti yang terangkum dalam buku karya Bartolomeus Samho berjudul Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Tantangan dan Relevansinya (Kanisius, 2013). Selengkapnya

  • Kebudayaan

    Bertahan dengan Tradisi Osing

    Rendra Sanjaya/Litbang Kompas
    Bertahan dengan Tradisi Osing

    Osing merupakan salah satu komunitas etnis yang berada di daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Dari sejarahnya, mereka adalah masyarakat Blambangan yang tersisa. Keturunan kerajaan Hindu Blambangan ini berbeda dari masyarakat lainnya (Jawa, Madura dan Bali), bila dilihat dari adat-istiadat, budaya maupun bahasanya. Kata “Osing” dalam Bahasa Osing berarti tidak, dan kata “Osing” ini mewakili keberadaan orang Osing yang ada di Banyuwangi. Mereka juga menyatakan bukan berasal dari Jawa atau Bali. Suku Osing biasa disebut Wong Osing, Lare Osing, Tiyang Osing yang berarti “saya orang Osing”. Selengkapnya