Profil Tokoh

Yap Thiam Hien

Yap Thiam Hien
Tokoh Pejuang HAM Indonesia
 
“…tak seorangpun ia tuntut selain dirinya sendiri. Dan tak sedikitpun pamrih ia harapkan untuk dirinya sendiri. Ia berdebat dengan banyak pihak dan yang ia tantang lebih banyak lagi – para pemimpin politik, hakim-hakim, jaksa-jaksa, polisi, rekan-rekan seprofesi, gerejanya, Perjanjian Lama, sebagian isi Perjanjian Baru, dan bahkan, saya kira, Tuhannya.” (Daniel S. Lev: 1989)

Nama Yap Thiam Hien tidak dapat dilepaskan dari isu hak asasi manusia. Keteguhan hati dan semangatnya menentang diskriminasi, ketidakadilan, dan segala bentuk pelanggaran hak-hak asasi manusia mendorong beberapa pihak untuk mengabadikan namanya pada sebuah award. Yap Thiam Hien Award merupakan suatu bentuk penghargaan yang diberikan kepada mereka yang dinilai konsisten dalam memperjuangkan hak-hak asasi manusia. Penghargaan tersebut diberikan oleh Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia (sekarang Yap Thiam Hien Foundation) setiap tahun sejak 1992. Semboyan: Fiat Justitia, Ruat Caelum. Tegakkan keadilan, sekalipun langit runtuh.
 
Asal muasal
Dari namanya kita segera tahu bahwa Yap adalah seorang Indonesia keturunan Tionghoa. Pada masa pemerintah kolonial, golongan Tionghoa diposisikan sebagai perantara, perisai atau “kambing hitam” saat terjadi kerusuhan menentang pemerintah atau saat terjadi kekosongan di pemerintahan. Pola ini muncul berulangkali dalam sejarah Indonesia, antara lain saat kekalahan Belanda dan kedatangan Jepang pada Maret 1942, Peraturan Pemerintah (PP) No. 10/1959, kerusuhan Mei 1963 di Jawa Barat, jatuhnya Presiden Soekarno (1966), peristiwa Malari 1974, Tanjung Priok (1984), Rengasdengklok (1997), Makassar (September 1997), dan peristiwa Mei 1998.
 
Kelompok minoritas perantara tersebut biasanya menduduki ceruk perantara dalam sistem ekonomi. Mereka memainkan berbagai peran sebagai pedagang, pembunga uang, atau profesional independen. Kelompok minoritas perantara ini melayani kelompok dominan dan subordinat sekaligus. Mereka mengerjakan tugas-tugas ekonomis yang bagi golongan di posisi puncak (elit) dianggap sebagai hal yang kurang bermartabat.
 
Keadaan tersebut menempatkan kelompok minoritas perantara pada posisi sangat rentan terhadap permusuhan dari luar kelompok etnisnya, baik dari kelompok dominan maupun subordinat. Karena jumlah dan posisi politis membuat kelompok ini tak berdaya, maka mereka perlu meminta perlindungan dari kelompok dominan yang akan memberikannya sejauh peran ekonomis mereka masih dibutuhkan.
Oleh karena itu, loyalitas sukar diharapkan dari kelompok minoritas perantara yang selalu berada pada posisi “serba salah”. Loyalitas diberikan hanya kepada pihak yang dapat menjamin keselamatan mereka.
 
Dalam situasi seperti itulah Yap dilahirkan di Kutaraja (sekarang Banda Aceh) tanggal 25 Mei 1913 sebagai cucu seorang opsir Tionghoa, atau kepala kelompok komunitas Tionghoa yang diangkat oleh Belanda. Yap dan dua orang adiknya dibesarkan dalam lingkungan perkebunan yang feodalistik. Cucu dari Kapitan Yap Hun Han ini sejak kecil sudah memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap kesewenang-wenangan.
 
Peran ayah Yap Thiam Hien,Yap Sin Eng, lemah dalam keluarga. Ia jarang sekali berada di rumah. Sekalipun demikian, Sin Eng ikut membentuk kehidupan anak-anaknya setelah ia memohon status hukum disamakan dengan bangsa Eropa. Karena itulah, Yap bersaudara bisa mengecap pendidikan di sekolah untuk anak-anak Eropa di Banda Aceh, Europesche Lagere School (ELS), yang dikenal cukup ketat menyeleksi golongan murid. Di lingkungan itu Yap mendapat nama baru, “John”. Sekalipun memperoleh keistimewaan tersebut bukan berarti Yap terbebas dari diskriminasi. Yap sering diejek teman-temannya karena nilai bahasa Belandanya tak pernah lebih dari 6. Peristiwa tersebut membentuk Yap menjadi pribadi yang mencintai pluralisme dan menentang diskriminasi.
 
Saat Yap berusia 9 tahun ibunya meninggal dunia. Ia bersama dua adiknya dibesarkan oleh seorang perempuan Jepang, Sato Nakashima, selir kakeknya. Sato berhasil menghadirkan kemesraan keluarga dalam hidup Yap bersaudara, yang tidak ditemukan dalam keluarga Tionghoa. Sato juga menumbuhkan rasa etis yang kuat dalam diri Yap, yang kelak mewarnai jiwa Yap dewasa.
 
Tahun 1920 sang ayah membawa Yap dan kedua adiknya, Thiam Bong dan Thiam Lian, ke Batavia. Yap berhasil menyelesaikan pendidikannya di MULO, lalu meneruskan pendidikan di AMS A-II di Yogyakarta dan Bandung dengan fokus studi bahasa-bahasa Eropa. Tahun 1933 ia lulus dari AMS A-II dan berhasil menguasai beberapa bahasa antara lain Jerman, Belanda, Perancis, Latin, Inggris.
 
Selama belajar di Yogyakarta, Yap tinggal bersama keluarga Kristen. Pada masa itulah Yap tertarik dan mulai mempelajari agama Kristen. Setelah selesai di AMS, Yap hijrah ke Batavia bersekolah di sekolah guru, Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK) di Meester Cornelis. Setamat dari HCK Yap menjadi guru selama 4 tahun di sekolah-sekolah yang dikelola oleh Zending Kristen, karena ia tidak memiliki biaya untuk melanjutkan studi ke universitas. Ia mengajar di Chinese Zendingschool di Cirebon, lalu menjadi guru di Tionghwa Hwee Kwan Holl, China School di Rembang, dan Christelijke School di Batavia.
 
Setelah dibaptis di Gereja Tionghoa Patekoan Batavia (sekarang GKI Samanhudi) 31 Oktober 1938, Yap
bekerja di kantor asuransi. Kemudian ia bekerja di Balai Harta Peninggalan Departemen Kehakiman pada 1943.
 
Pada awal tahun 1946 Yap mendapat kesempatan bekerja pada kapal pemulangan orang-orang Belanda, yang juga mengantarkannya ke negeri kincir angin tersebut untuk melanjutkan studi di Leiden. Selama masa studi, Yap tinggal di Zendingshuis, pusat gereja reformasi Belanda di Oegsgeest. Gereja reformasi menawarkan kesempatan kepada Yap untuk belajar di Selly Oak College di Birmingham, Inggris, dengan syarat ia kelak bekerja untuk pelayanan gereja di Indonesia. Yap menyetujuinya.
 
Selama di Belanda Yap banyak bergaul dengan mahasiswa Indonesia di sana yang terkait dengan Partij van de Arbeid (Partai Buruh).Tahun 1948 Yap kembali ke Indonesia. Pada tahun berikutnya (1949), ayah dan nenek tirinya meninggal dunia. Sesuai janjinya dengan pihak gereja, ia pun aktif di gereja dan menjadi anggota gereja warga Tionghoa di Jakarta. Kelompok inilah cikal bakal Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat. Yap juga merupakan salah satu pendiri Badan Pendidikan Kristen (BPK) Penabur dan Universitas Kristen Indonesia (UKI).
 
Kritis terhadap penguasa
Pada tahun 1950, Yap bersama John Karwin, Mochtar Kusumaatmadja, dan Komar membuka kantor pengacara. Saat pemilihan anggota parlemen tahun 1955, Yap menjadi anggota parlemen mewakili organisasi Tionghoa Baperki, yang didirikannya bersama Siauw Giok Tjhan. Di kemudian hari Yap keluar dari Baperki karena sudah tidak sepaham lagi dengan Siauw Giok Tjhan. Ia lebih banyak melontarkan gagasan politik yang diwarnai semangat teologi Protestan.
 
Nama Yap mencuat di panggung politik setelah ia menentang Soekarno dan PKI soal UUD 1945, yang menurutnya kurang memberi perlindungan pada HAM. Pasal 6 UUD 1945 tentang jabatan presiden, dinilainya diskriminatif. Yap menilai UUD 1950 lebih baik dalam memberikan perlindungan HAM kepada semua WNI tanpa membedakan agama dan etnis.
 
Semasa kekuasaan Bung Karno, Yap juga pernah menulis sebuah artikel berisi imbauan pembebasan tahanan politik saat itu, antara lain Moh. Natsir, Moh. Rum, Mochtar Lubis, Subadio, Syahrir, dan Princen.
 
Setelah peristiwa 30 September 1965, Yap menyediakan diri untuk menjadi pembela Dr. Soebandrio. Bersama dengan Wiratmo Sukito, Dr Halim, dan Aisyah Amini, mereka meminta tahanan politik dari PKI dibebaskan (1966). Mereka kemudian mendirikan Lembaga Hak-hak Asasi Manusia sekaligus mewakili Amnesty International di Indonesia.
 
Pada era Soeharto Yap menolak kebijakan pemerintah yang memaksa WNI keturunan Tionghoa untuk mengganti nama. Ia juga menolak konsep budaya minoritas harus melebur dalam budaya mayoritas. Baginya, nasionalisme harus diwujudkan dalam bentuk lain.Yap berupaya untuk keluar dari kungkungan label “minoritas perantara”, yang selalu dipaksa tunduk pada penguasa. Yap tampil sebagai sosok advokat yang berani dan kritis terhadap penguasa.
 
Arief Budiman (sosiolog) dan Harry Tjan Silalahi (tokoh politik) menjulukinya triple minority:  Yap adalah keturunan Tionghoa, Kristen, jujur dan berani. Keistimewaan yang melekat pada diri Yap ini menginspirasi Indonesianis, Daniel S Lev, untuk menuliskan buku tentang Yap berjudul No Concessions: The Life of Yap Thiam Hien Indonesian Human Rights Lawyer. Rekan lama Yap, Oey Tjoe Tat (menteri di era Orde Lama) menggambarkan Yap seperti “kerbau”. Yap tak kenal siasat, main tabrak jika yakin pada kebenaran yang diperjuangkannya.
 
Yap adalah seorang multifaset. Ia seorang pengacara sekaligus pejuang hak-hak asasi manusia, politikus dari kalangan Tionghoa dan juga tokoh Kristen, kiprahnya tidak hanya di lingkup nasional tetapi juga internasional. Ia bersedia membela mereka yang mengalami diskriminasi, sekalipun ia berbeda pandangan dengan mereka. Sikap hidupnya dikagumi dan menjadi panutan banyak orang.
 
Yap meninggal di Brussel, Belgia, saat menghadiri konferensi INGI (Inter-NGO Conference on IGGI Matters) pada 25 April 1989.
 
(Fransisca Istiyatminingsih/Litbang Kompas)
 
 
Biodata
 
Nama: Yap Thiam Hien
Tempat/tanggal lahir: Kutaraja, Aceh, 23 Mei 1913
Agama: Kristen Protestan
 
Pendidikan*
1.      Europesche Lagere School (ELS) atau Sekolah Dasar, Banda Aceh, 1926.
2.      Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO ) atau Sekolah Menengah Pertama di Banda Aceh, 1929.
3.      Algemeene Middelbare School (AMS) A-II, atau Sekolah Menengah Atas, Yogyakarta, 1933.
4.      Hollands-Chineesche Kwekkscholl (HCK), Batavia, 1934
HCK adalah sekolah pendidikan guru yang berlangsung satu tahun, yang memberikan kesempatan kepada para pemuda peranakan yang ingin menempuh pendidikan profeisonal tetapi tidak memiliki biaya untuk masuk ke universitas.
5.      Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) Universitas Leiden, Belanda, 1947
6.      Doktor honoris causa dari Vrije Universiteit, Amsterdam, Belanda, 1980
 
Profesi: pengacara (advokat)
Membuka kantor pengacara bersama John Karwin, Mochtar Kusumaatmadja, dan Komar, tahun 1950.
 
Pekerjaan
1.      Guru Chineesche Kweekschool, Jakarta
2.      Guru di Chinese Zendingschool, Cirebon
3.      Guru di Tionghwa Hwee Kwan Holl, China School di Rembang
4.      Pencari langganan telepon bekerja di kantor asuransi, Jakarta, 1938
5.      Pegawai Balai Harta Peninggalan Departemen Kehakiman, 1943
6.      Pengacara bersama John Karwin, Mochtar Kusumaatmadja dan Komar, 1950
7.      Anggota DPR dan Konstituante 1955

Kegiatan lain
1.      Pendiri Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) bersama Siauw Giok Tjhan
2.      Pendiri Lembaga Pembela Hak Asasi Manusia (LPHAM) bersama CJ Princen, 29 April 1966
3.      Pendiri Badan Pendidikan Kristen (BPK) Penabur
4.      Pendiri Universitas Kristen Indonesia (UKI)
5.      Pendiri Persatuan Advokat Indonesia (Peradin)
 
Keluarga
Isteri: Tan Gien Khing No
Anak:    
1. Yap Hong Gie
2. Yap Hong Ay
Orangtua: Yap Sin Eng (ayah), Hwan Tjing (ibu)


*Catatan: Sekolah dasar dan menengah tempat Yap mendapatkan pendidikan, menggunakan Bahasa Belanda sebagai Bahasa pengantar.
 
 
Sumber:
·        Widyatmadja, Josef P (ed), Yap Thiam Hien, Pejuang Lintas Batas, 2013, Jakarta: Libri.
·        Buletin Kasih (Minggu, 6 Oktober 2013)
http://kasih-kespel-gki-kranggan.blogspot.com/2013/10/biografi-yap-thiam-hien.html
·        Kwartanada, Didi. Tripel Minoritas, (yang) Orang Indonesia Sejati: Belajar dari Yap Thiam Hien. 2012
http://www.academia.edu/7649211/Tripel_Minoritas_yang_Orang_Indonesia_Sejati_Belajar_dari Yap_Thiam_Hien
·        http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt51a58634975d6/tiada-kompromi--ketika-yap-thiam-hien-ditantang-seratus-dewa-broleh--imam-nasima-