Profil Tokoh

Ravik Karsidi

Ravik Karsidi
Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, 2011-2019

Prof. Dr. Ravik Karsidi M.S., kelahiran Sragen 59 tahun silam, terpilih sebagai Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) pada tahun 2011. Setelah masa bakti berakhir (2015), Ravik demikian ia biasa dipanggil, dipercaya kembali untuk menakhodai UNS hingga tahun 2019.

Ravik kecil dibesarkan di sebuah desa yang dikenal sebagai “desa guru”. Ada sekitar 20-an guru di sana, yang jumlahnya meningkat menjadi sekitar 112 guru setelah Ravik tamat SD. Mereka umumnya adalah guru agama tamatan dari PGA (Pendidikan Guru Agama), SGA (Sekolah Guru A), atau SGB (Sekolah Guru B). Orang tua Ravik acap mengatakan kepadanya, “Jadilah seperti guru-guru.” Mereka memang mendorong Ravik untuk menjadi guru.
 
Oleh karena itu, setamat Ravik dari sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di Solo, ia meneruskan studi di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Negeri (IKIP) Solo. Ravik mengambil bidang studi ilmu pendidikan (khusus). Saat mengikuti studi di sana (1976), IKIP Negeri Solo lalu berubah/fusi menjadi Universitas Sebelas Maret (UNS).
 
Sejak muda, Ravik aktif terlibat dalam kegiatan kelompok mahasiswa. Ia adalah aktivis mahasiswa dari menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi, Ketua Majelis Permusyawaratan  Mahasiswa (MPM) Fakultas dan  anggota MPM UNS. Bahkan ia adalah pendiri dan Ketua Umum pertama Perhimpunan Mahasiswa Orthopaedagogik Indonesia (PMOI) sebagai embrio dari Ikatan Senat Mahasiswa Sejenis pada masa itu. Ia sempat mendapat penghargaan dari Rektor UNS atas nama Dirjen Dikti sebagai salah satu perintis ISMS tersebut.  Ia pun tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Solo, periode 1977-1978, juga dalam waktu yang sama sebagai pengurus KNPI Kota Surakarta. Setelah itu Ravik menjadi salah satu ketua HMI Badko Jateng dan DIY 1979-1980. Ia juga tercatat sebagai ketua gerakan pemuda untuk pembatasan pertambahan penduduk (zero pupulation growth /ZPG Surakarta, 1979-1981).
 
Ikatan Ravik dengan organisasi-organisasi sosial tersebut tetap berlangsung hingga sekarang melalui keterlibatannya sebagai anggota Dewan Pakar Korps Alumni HMI (Kahmi) Pusat; Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat, Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Bakat, Wakil Ketua Dewan Pembina Yayasan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) serta beberapa organisasi sosial lainnya di Solo.
 
Merangkak ke posisi puncak
 
Tahun 1980 Ravik berhasil menyelesaikan jenjang strata 1 dan saat itu sudah menjadi asisten dosen. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Peran sebagai dosen tetap digelutinya hingga sekarang.
 
Karier Ravik di bidang pendidikan mulai menunjukkan sinarnya, tidak melulu di lingkungan kampus tetapi juga di luar kampus. Tiga tahun setelah lulus, ia dipercaya menjadi Kepala Biro Pendidikan Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Pusat di Jakarta. Setelah itu, posisi sebagai pemimpin di berbagai lembaga terus diperolehnya, baik di lingkungan akademis maupun non-akademis.
 
Di tengah berbagai kesibukannya, Ravik berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi hingga meraih gelar doktor bidang sosiologi dan pengembangan masyarakat dari Institut Pertanian Bogor (IPB), lulus doktor  Agustus 1999 dengan predikat cumlaude. Ravik memiliki perhatian khusus pada pengembangan masyarakat pedesaan dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
 
Lingkungan masa kecil menjadi salah satu pengarah minatnya untuk melakukan berbagai kegiatan pengembangan pedesaan, terutama industri kecil. Impian sebagai pebisnis belum pernah muncul dalam benak Ravik, karena ia merasa tidak memiliki bakat di bidang bisnis. Harapan orang tuanya saat itu adalah melihat Ravik kecil kelak menjadi guru SD, pagi pergi mengajar, sore hari pergi ke sawah. Ternyata Ravik berhasil melampaui harapan orang tuanya. Ia tidak menjadi guru SD (atau istilah Ravik, “guru kecil”), tetapi malah menjadi Guru Besar dalam bidang Sosiologi Pendidikan FKIP dan Pengajar S2 dan S3  bidang Penyuluhan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Pascasarjana UNS.
 
Sementara itu, perjalanan kariernya di lingkungan UNS menapak mendekati posisi puncak. Tidak lama dari selesai pendidikan doktornya,  pada awal 2000 dipercaya mempimpin jabatan eselon satu di universitasnya sebagai Ketua Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM). Tahun 2003, Ravik terpilih sebagai Pembantu Rektor I (bidang akademik, kerja sama, dan pengembangan UNS). Bersamaan dengan itu, tanggung jawab di luar UNS juga tak pernah surut. Sebagai salah satu asesor program studi dan lembaga perguruan tinggi di Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT) dan menjadi beberapa anggota tim kerja di lingkungan Dirjen Dikti Kementerian Dikbud, karena itu ia pun kerap harus berkeliling daerah.
 
Dalam pemilihan rektor UNS 2011, Ravik berhasil mengungguli dua kandidat lain. Ia dipercaya oleh Mendikbud dan Senat UNS untuk memimpin UNS hingga 2015 dan pada berikutnya dipilih lagi untuk jabatan rektor yang kedua kalinya sampai 2019.
 
Ketahanan Seorang Pemimpin
 
Ravik menyadari bahwa perguruan tinggi negeri belum sepenuhnya otonom. Sebagai nakhoda sebuah perguruan tinggi dengan keunikan sejarah pendiriannya, tidak jarang Ravik harus menghadapi “politik kampus” yang memengaruhi suasana akademik. Hal tersebut acap dipengaruhi oleh faktor eksternal. “Suhu politik kampus” biasanya meningkat selama masa pemilihan rektor, apalagi kewenangan pemerintah dalam menentukan rektor masih besar. Gesekan antar pendukung kandidat calon rektor, merupakan salah satu contoh.
 
Hal tersebut sangat ia rasakan saat maju dalam bursa pemilihan rektor kedua kalinya. Perbedaan yang kemudian meruncing pada benturan kepentingan, menurut Ravik perlu segera diselesaikan karena jika dibiarkan berlarut-larut akan menimbulkan disintegrasi di lingkungan kampus.
 
Pengalaman meniti karier dari bawah melatih kemampuan Ravik berdialog dan bernegosiasi dengan berbagai pihak. Itulah sebabnya ia sanggup bersikap untuk menghadapi berbagai persoalan.
 
Memimpin UNS yang dibentuk dari 7 perguruan tinggi yang memiliki sejarahnya masing-masing, tidak selalu mudah. Di sana terdapat banyak perbedaan, antara lain agama dan politik serta kepentingan. Belum lagi nama UNS yang kurang popular di masyarakat dibandingkan perguruan negeri tinggi lain di Jawa.  Namun demikian, UNS barangkali satu-satunya perguruan tinggi negeri di Indonesia yang memiliki berbagai tempat ibadah, tidak hanya masjid tetapi juga pura, vihara, dan gereja, sebagai zona pengembangan karakter berdasar Pancasila.
 
Ravik berkeyakinan bahwa kerja sama yang baik dari berbagai pihak di lingkungan kampus merupakan kunci keberhasilan kampus, apalagi tuntutan terhadap UNS menuju universitas global (world class university-WCU) semakin kuat. Dalam mengarahkan UNS menuju WCU, sejak awal masa kepemimpinannya, Ravik mencoba menyusun target dan indikator keberhasilan.
 
Selain berhasil mempertahankan UNS sebagai salah satu PTN unggul (terakreditasi A menurut BAN-PT) dan masuk dalam cluster A (PT Unggul) dari versi Kemenristekdikti, Ravik dan tim juga memperluas jejaring  dengan universitas-universitas terkemuka di luar negeri. Perluasan kerja sama tersebut diiringi dengan pembenahan manajemen akademik, keuangan, SDM, aset, kearsipan dan dokumentasi, kemahasiswaan dan alumni, serta penegakan manajemen kampus yang jujur dan bersih. Dia menegakkan s
entralisasi urusan administrasi dan desentralisasi untuk urusan akademik (SADA). Contoh, manajemen keuangan diterapkan terpusat, diurus oleh satu bagian.
 
Satu hal yang menantang Ravik adalah pembenahan sitem remunerasi. Di UNS terdapat lebih dari 3000 pekerja terdiri dari dosen dan karyawan umum tenaga kependidikan. Perbaikan perhitungan remunerasi harus adil, sebab menyangkut isu yang sangat sensitif. Salah satu akibat dari penerapan sistem remunerasi baru adalah turunnya pendapatan untuk beberapa  jabatan tertentu seperti rektor dan beberapa jabatan lain tertentu. Hujan tidak merata, adalah ungkapan lama untuk menggambarkan distribusi pendapatan  dengan sistim lama. Kini, para pegawai lebih sejahtera dapat menikmati imbalan sesuai yang dikerjakannya. Setelah ditata, disana sini memang masih dirasakan belum sepenuhnya baik tetapi itu hanya dirasakan kurang dari 3 persen pegawai,  misalnya saja dulu ada jabatan tertentu yang imbalannya (take home pay) lebih besar daripada dekan atau rektor, padahal tanggungjawabnya lebih kecil.
 
Penerapan sistem remunerasi baru tersebut awalnya mendapat tentangan dari sebagian pekerja UNS. Evaluasi sistem diadakan setiap tahun dan dilaporkan secara terbuka. Itulah cara Ravik membuka dialog dengan berbagai pihak di lingkungan kampusnya, hingga sistem remunerasi baru dapat diterapkan tanpa gejolak berarti. Kini, UNS menjadi salah satu tempat bagi PTN lain untuk belajar sistem remunerasi PTN.
 
Salah satu tuntutan yang harus dipenuhi UNS agar masuk ke  WCU adalah publikasi hasil penelitian dalam jurnal internasional terakreditasi yang terindex seperti Scopus. Untuk mendorong pemenuhan terhadap tuntutan tersebut, pihak universitas  menilai dan mengapresiasi fakultas dan peneliti yang hasil penelitiannya masuk dalam jurnal internasional. Ravik mengeluarkan kebijakan memberikan insentif 25 juta rupiah per tulisan.
 
Ravik bertekad menjadikan UNS tidak hanya mampu bersaing di arena lokal, tetapi juga global. Bersama segenap pimpinan UNS ia menerjemahkan internasionalisasi UNS sebagai WCU dengan tetap berbasis budaya nasional, yakni menggali nilai-nilai luhur di dalamnya dan memperkenalkannya kepada masyarakat internasional. Salah satu caranya adalah mendirikan Pusat Studi Javanologi bekerja sama dengan KITLV Belanda (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) dan memperluas kerjasama dengan fihak luar negeri. Kini, setidaknya telah ada 43 institusi luar negeri (mayoritas PT) yang telah dijalin kerjasama oleh UNS.
 
Hal lain yang coba dilakukan adalah penanaman enam budi utama: achievement orientation, customer satisfaction, team work, integrity, visionary, entrepreneurship (sikap kemandirian, inovatif, kreatif). Lingkungan sosial Solo, menurut Ravik cenderung bersifat tertutup dan low profile. Oleh karena itu, perlu dorongan untuk siap go internasional dengan slogan “UNS BISA”: Berbudaya (6 budi utama), Internasionalisasi, Sinergi, Akselerasi.
 
Pengembangan Pedesaan dan UMKM
 
Selain mengejar status WCU, UNS tetap menaruh perhatian pada pembangunan desa, penguatan ekonomi lokal dan kerakyatan. Satu strategi yang diterapkan UNS antara lain mengirimkan mahasiswa melalui program kuliah kerja nyata (KKN) yang bersifat tematik-integratif diintegrasikan dengan Program Pengabdian kepada Masyarakat.
 
Latar belakang Ravik sebagai anak desa mendorong Ravik untuk mendirikan Pusat Studi Pengembangan Pedesaan  Lembaga Penelitian di kampusnya. Hal ini pada akbirnya juga sesuai dengan bidang keahliannya dalam Ilmu Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan/Pemberdayaan Masyarakat sektor Pendidikan Non-formal, Industri Kecil dan Mikro.
 
Dedikasinya sebagai pembimbing, pendamping, dan keberpihakannya pada masyarakat pedesaan dan usaha kecil, tampak melekat dalam perjalanan hidup Ravik. Hal tersebut bisa dilihat dari bidang pekerjaan yang ia tekuni dan tema penelitian yang ia pilih.
 
Selain sebagai dosen, Ravik pernah menjadi konselor mahasiswa, menduduki posisi yang berkaitan dengan bidang akademik, dan bergabung dengan berbagai lembaga atau kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan pedesaan/daerah dan usaha kecil dan mikro.
 
Karena perhatiannya terhadap usaha kecil, mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberinya pernghargaan Satya Lencana Pembangunan pada tahun 2013. Pada saat itu, Ravik menyatakan komitmennya untuk terus mendorong pengembangan koperasi dan UMKM di Indonesia.
 
Tantangan Ke Depan
 
Selain memenuhi tuntutan status PTN-BH untuk menjadi WCU, tantangan sesungguhnya adalah memenuhi semua tuntutan tersebut dalam kondisi yang tidak selalu mendorong percepatan pemenuhan tuntutan.
 
Sebagai lembaga pendidikan tinggi negeri, UNS tidak lepas dari berbagai aturan dan kebijakan pemerintah. Menurut Ravik, kepentingan akademik sedapat mungkin harus diminimalisir dari kepentingan politik. Haluan negara sebaiknya bersifat ideologis daripada pragmatis. Melalu Forum Rektor Indonesia (FRI), Ravik sebagai ketua FRI telah mengusulkan perlunya sistem perencanaan yang bersifat holistik dan jangka panjang.
 
Ada beberapa persoalan yang harus dihadapi oleh lembaga pendidikan tinggi, antara lain soal kebijakan keuangan yang berdampak pada kegiatan penelitian. Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjalankan program kerja yang bersumber dari keuangan negara. Sementara, PTN berorientasi pada produk ilmiah yang prosesnya tidak bisa pendek, harus melalui penelitian. Waktu antara cairnya dana penelitian dan laporan pertanggungjawaban penyerapan anggaran sangat pendek. Contoh, dana cair di bulan Juni dan Desember sudah harus membuat laporan keuangan.
 
Menurut Ravik, perlu ada pembahasan mengenai masalah tersebut antara Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti) dan Kementerian Keuangan. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pun perlu memahami persoalan tersebut.