Profil Tokoh

Prabowo Subianto

Prabowo Subianto
Letnan Jendral (Purn) Prabowo Subianto adalah mantan Danjen Kopassus dan Kostrad. Setelah diberhentikan dari militer, Prabowo menjadi pengusaha dan politisi. Salah satu perusahaan miiknya adalah PT. Kertas Nusantara. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Prabowo yang sempat bergabung dengan Partai Golkar kemudian mendirikan Partai Gerindra pada tahun 2008. Pada Pemilu 2009, Prabowo mencalonkan diri sebagai wakil presiden bersama calon presiden Megawati Soekarnoputri, namun tidak menang. Kemudian pada Pemilu 2014, Partai Gerindra yang berkoalisi dengan PAN, Partai Golkar, PPP, PKS, dan PBB mengusung pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sebagai calon presiden dan calon wakil presiden.

Prabowo Subianto Djojohadikusumo lahir di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 1951. Ayah Prabowo adalah “Begawan Ekonomi” Prof. Soemitro Djojohadikusumo, putra pendiri BNI 46 Raden Mas Margono Djojohadikusumo. Sedangkan ibu Prabowo adalah Dora Sigar, yang berasal dari suku bangsa Minahasa. Prabowo lahir sebagai anak ketiga dari empat putra dan putri pasangan yang sama-sama berpendidikan Belanda tersebut.

Prabowo kecil telah diajak berpindah-pindah oleh ibunya ke lima negara, yaitu Singapura, Hongkong, Malaysia, Swiss, dan Inggris. Perpindahan ini dilakukan untuk mengamankan keluarga Prabowo dari bahaya akibat kegiatan Soemitro di PRRI/Permesta. Saat usia sembilan tahun, Prabowo mulai disekolahkan di Victoria Institution, salah satu sekolah bergengsi di Malaysia. Mengikuti kepindahan keluarganya ke Swiss, Prabowo kemudian pindah sekolah di International School di Zurich. Setelah itu, karena keluarganya pindah ke Inggris, Prabowo pun melanjutkan sekolah menengah atas di American School di London.

Prabowo baru pulang ke Indonesia pada tahun 1967, ketika usianya 16 tahun. Prabowo remaja gemar membaca buku-buku karangan George McTurnan dan Leo Tolstoy, serta mengagumi Che Guevara, Yasser Arafat, dan Gamal Abdul Nasser. Prabowo muda juga membangun jaringan dengan aktivis sosialis, kelompok aktivis anti-Soekarno, dan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). Bersama Jopie Lasut, Prabowo mendirikan Korps Lembaga Pembangunan yang bergerak untuk membantu komunitas bidang ekonomi.

Pada tahun 1970, Prabowo memutuskan masuk ke Akademi Militer Nasional di Magelang atas sponsor Sutopo Juwono, Kepala Intelejen Negara saat itu. Minat Prabowo pada dunia kemiliteran merujuk pada karier kedua pamannya, Letnan Sujono Djojohadikusumo dan Sersan Mayor Subianto Djojohadikusumo. Kedua pamannya ini gugur dalam Peristiwa Lengkong di Tangerang tahun 1946. Setelah menjalani pendidikan militer selama empat tahun, Prabowo lulus dengan pangkat Letnan Dua. Pada tahun 1976, Prabowo bergabung dalam Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha), cikal bakal Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Ia menjabat sebagai Komandan Peleton Para Komando Group-1 dan setahun kemudian ia naik pangkat menjadi Komandan Kompi Para Komando Group-1. Prabowo adalah perwira yang paling sering ikut dalam operasi militer.
 
Karir Prabowo dalam militer semakin melejit  ketika ia menikah dengan Siti Hediati Heriyadi (Mbak Titiek), putri Presiden Soeharto yang sedang menjabat pada saat itu. Setelah resmi menjadi menantu Soeharto pada bulan Mei 1983, jabatan Wakil Komandan Detasemen-81 Kopassus dipercayakan kepada Prabowo. Ia kemudian menjadi jendral pertama di angkatannya pada tahun 1995 ketika ia menduduki jabatan sebagai Komandan Kopassus dengan pangkat brigadir jendral. Lalu pada tanggal 25 Juni 1996, Prabowo menjadi Komandan Panglima Kopassus dengan pangkat mayor jendral. Kenaikan pangkat Prabowo menjadi mayjen selaras dengan pemekaran Kopassus dari tiga menjadi lima grup beranggotakan 8.000 personel yang menuntut jabatan komandan jenderal (danjen). Puncak karir militer Prabowo diraihnya ketika ia menjadi Panglima Komando Cadangan Startegis (Kostrad) TNI Angkatan Darat dan Komandan Sekolah Staf Komando ABRI pada tahun 1998 dengan pangkat letnan jendral.
 
"Peristiwa Mei 1998" yang berakibat pada mundurnya Presiden Soeharto berdampak pula pada perjalanan karir Prabowo. Pada saat itu, Prabowo diduga melakukan kudeta dan memerintahkan penculikan aktivis. Dugaan tersebut menyebabkan Prabowo diperiksa oleh Dewan Kehormatan Militer (DKP) atas kasus penculikan dan penyekapan sejumlah aktivis pada tanggal 3-21 Agustus 1998. Prabowo kemudian diberhentikan dari dinas kemiliteran oleh Wiranto atas perintah Habibie pada tanggal 24 Agustus 1998.
 
Setelah diberhentikan dari militer, Prabowo meninggalkan Indonesia untuk mengasingkan diri di Jerman dan Yordania. Persahabatan Prabowo dengan Raja Abdullah dari Yordania membuatnya mendapat status warga negara Yordania melalui Dekrit Raja (Royal Decree) pada tahun 1998.  Jauh dari tanah air, Prabowo mulai menggeluti dunia bisnis bersama adiknya, Hashim Djodjohadikusumo. Ia sempat menjabat sebagai Chairman of the Board of Directors, Open Joint Stock Company KARAZANBASIMUNAI di Kazakhstan. Selain merintis bisnis, Prabowo turut pula memberi ceramah sekolah komando angkatan bersenjata dan melatih tentara.
 
Prabowo kembali ke Indonesia pada bulan November 2002. Ia kemudian membeli 79 persen saham PT Kertas Nusantara yang dulunya bernama Kiani Kertas milik Bob Hasan dengan pinjaman sebesar 1,8 triliun rupiah dari Bank Mandiri. PT Kertas Nusantara ini sempat diperiksa oleh penyidik Kejaksaan Agung terkait kasus pengambilalihan dan pengelolaan kredit macet pada tanggal  5 Juli 2005. Selain itu, Prabowo juga memiliki grup perusahaan bernama Nusantara Group yang membawahi 27 perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan, tambang, batubara, dan kelapa sawit.
 
Prabowo memulai karir politiknya dengan menjadi kader Partai Golkar. Ia kemudian mencalonkan diri sebagai calon presiden Partai Golkar pada Konvensi Capres Golkar tahun 2004, namun kalah dari Wiranto. Setelah kekalahan tersebut, Prabowo tetap berkiprah di jajaran pengurus Golkar  sembari menjadi ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) pada 5 Desember 2004. Sejak saat itu Prabowo kerap tampil dalam iklan televisi. Pada tanggal 6 Agustus 2008, Prabowo resmi menjadi ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) masa jabatan 2008-2013.

Pada tanggal 6 Desember 2008, Prabowo mendirikan partai yang diberinya nama Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Pada Pemilu 2009, Partai Gerindra mampu menembus parliamentary threshold dengan 4,2 persen suara. Partai Gerindra pun berkoalisi dengan PDI-P untuk mengusung pasangan Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto menjadi calon presiden dan calon wakil presiden. Namun, pasangan Mega-Prabowo tidak berhasil memenangkan pemilu. Pada pemilu selanjutnya yaitu tahun 2014, Partai Gerindra yang berkoalisi dengan PAN, Partai Golkar, PPP, PKS, dan PBB mengusung Prabowo Subianto menjadi calon presiden dengan Hatta Rajasa sebagai calon wakil presiden. (SAP)
 
Sumber:
  • Harian Kompas Senin, 29 Jun 2009  halaman 36, “Prajurit Cijantung yang Menapak Jalur Politik”
  • http://prabowosubianto.info/riwayat-prabowo, “Riwayat Prabowo: Anak yang Keras, Cerdas, dan Tegas”
  • http://partaigerindra.or.id/profil-prabowo-subianto-ketua-dewan-pembina-partai-gerindra, “Profil Prabowo Subianto”
  • Biodata Tokoh, Litbang Kompas