Profil Tokoh

Megawati Soekarnoputri

Megawati Soekarnoputri
Jabatan: Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, 2015-2020

Wanita yang akrab dipanggil "Mba Ega" atau "Adis" pada masa kecilnya ini  lahir di Yogyakarta pada 23 Januari 1947 dengan nama Dyah Permata Megawati Setiyawati Soekarnoputri. Masa sekolah dasar hingga menengah atas ia lalui di Yayasan Perguruan Cikini(Percik).

Suatu hari...
Suatu hari, tanggal 30 November 1957 di depan sekolah Percik, saat Megawati dan Rachmawati menunggu ayahnya yang akan menghadiri ulang tahun Yayasan Perguruan Cikini, sebuah granat meledak. Mereka berhasil diselamatkan oleh ajudan Presiden.

Di antara putra-putri Soekarno, Megawati yang cenderung pendiam itu ternyata pandai menari, terutama tari Jawa dan Bali. Itulah sebabnya ia sering terpilih menjadi duta kesenian Indonesia ke berbagai Negara. Ia bahkan pernah menjadi anggota delegasi RI dalam Konferensi Tingkat Tinggi I Nonblok di Beograd, Yugoslavia, September 1961.

Pada peringatan hari kemerdekaan RI, 17 Agustus 1964, Megawati mendapat tugas dari ayahnya untuk mengibarkan bendera Merah Putih hasil jahitan Fatmawati, ibunya.

Pendidikan formal Megawati terus berlanjut. Ia pernah kuliah di Universitas Padjadjaran dan Universitas Indonesia, tetapi situasi politik tidak mendukungnya untuk menyelesaikan studi.

Putri Proklamator RI Soekarno dengan Fatmawati ini merintis karier politiknya dengan menjadi Ketua PDI Cabang Jakarta Pusat tahun 1987. Masyarakat yang rindu akan sosok Soekarno menumpahkan dukungannya kepada Megawati. Ia menjadi sosok yang kuat di PDI, meruntuhkan kekuatan Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI saat itu.

Naiknya pamor Megawati dianggap berpotensi mengganggu stabilitas pemerintahan Orde Baru saat itu, sehingga ketika Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya memilih Megawati sebagai Ketua Umum Partai, intrik politik mulai dihembuskan.

Kerusuhan 27 Juli 1996 mencoba mengusir massa pendukung Megawati dari Kantor Pusat PDI Jalan Diponegoro. Penyerangan tersebut semakin mengukuhkan eksistensi Megawati sebagai simbol perlawanan Orde Baru. Sosok Megawati seolah menjadi simbol bangkitnya semangat rakyat yang terpinggirkan oleh Orde Baru.

Di masa reformasi, sikap pemerintah terhadap PDI pimpinan Megawati melunak dengan mengizinkan penyelenggaraan kongres partai di Bali pada 8-10 Oktober 1998. Kongres tanpa kehadiran para pejabat sipil dan militer dari pusat tersebut bertekad mengantar Ketua Umum PDI Perjuangan ke kursi presiden. Pada tahun berikutnya, Megawati meneguhkan kata Perjuangan di belakang nama partainya, sekaligus memperkenalkan lambang baru partai.

Pemilu 1999 menjadi pemilu paling fenomenal sejak Orde Baru berkuasa. PDI Perjuangan menawarkan sosok baru yang menjadi harapan rakyat Indonesia. Kejenuhan akan represi politik Orde Baru menjadikan PDI Perjuangan menjadi pilihan pertama rakyat Indonesia hingga meraih suara 33,36 persen dari total suara pada tahun 1999.

Namun demikian, anggota parlemen lebih memilih  KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden dan Megawati menjadi wakilnya. Perubahan situasi politik kemudian menjatuhkan Gus Dur dari jabatannya dan menempatkan Megawati sebagai Presiden sejak pertengahan 2001 hingga 2004.

Saat menjalankan pemerintahan, Megawati mengeluarkan kebijakan yang cukup mengejutkan yang disebut "White Paper". Pada pertengahan tahun 2003 Megawati mengakhiri hubungan kerja sama pemulihan krisis ekonomi dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

Megawati menghadapi situasi krisis ekonomi sosial dan politik. Warisan utang dan kemampuan keuangan negara yang terbatas membuat presiden ke-5 RI ini melepas saham BUMN, menguras simpanan pemerintah, dan menjual aset Badan Penyehatan Perbankan Nasional.

Langkah-langkah yang tidak popular tersebut mengandaskan langkah PDI Perjuangan pada Pemilu 2004. Susilo Bambang Yudhoyono dengan dukungan partai baru, Demokrat, berhasil menduduki jabatan Presiden ke-6 RI.

Selama berada di luar pemerintahan, Megawati menjalankan peran oposisi secara maksimal. Dengan menggunakan strategi mengingatkan jasa dan arti usaha Sang Proklamator yang mencetuskan UUD 1945 dan Pancasila, Megawati aktif mengkritik pemerintahan yang dipimpin SBY.

Keberanian mengambil posisi bertentangan dengan penguasa, dan ketegasan menyampaikan kritik secara lugas, sempat menjadikan Megawati simbol bagi perjuangan melawan ketidakadilan di Indonesia. Tetapi, ketika ia menjadi pemimpin formal, ketegasan dan kelugasan itu jarang muncul.

Ketika menjadi presiden, ia sering menampilkan respons tidak populer dalam menghadapi tuntutan dan kritik. Ia seperti menarik diri dari ruang publik. Oleh karena itu, sebagai presiden ia dianggap sebagian orang sebagai kurang inisiatif.

Kekalahan tahun 1999 tidak menyurutkan niatnya untuk kembali ikut dalam kontestasi pemilihan presiden tahun 2004. Upaya keras Megawati dan PDI Perjuangan untuk dapat meyakinkan dan meraih kembali simpati rakyat dalam pemilihan presiden  berikutnya (2009) juga tidak berhasil.

Keadaan berbalik pada pemilihan presiden 2014. Dengan mengusung calonnya, Joko Widodo, bersama Jusuf Kalla (Partai Golkar), pamor partai berlambang banteng moncong putih ini kembali bersinar. Selain berhasil mendudukkan calonnya pada jabatan Presiden, PDI Perjuangan juga menduduki peringkat pertama dalam jumlah wakil di parlemen (19,46 persen).
 
 
Perjalanan hidup
 
23 Januari 1947
Lahir di Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
 
1965-1967
Aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Bandung sebagai anggota biasa.
 
1987
Megawati bergabung dan kemudian diangkat menjadi ketua Partai Demokrasi Indonesia (PDI) cabang Jakarta Pusat.
 
Pada tanggal 1 Oktober 1987 Megawati dilantik sebagai anggota DPR/MPR dari Fraksi PDI periode 1987-1992. Dia mengulang masa jabatan di DPR pada periode 1992-1997.
 
11 September 1993
Megawati menyatakan diri bersedia dicalonkan sebagai ketua Umum PDI untuk menggantikan Soerjadi.
 
6 Desember 1993
Megawati memproklamirkan diri sebagai ketua Umum PDI secara de fakto dalam KLB PDI Surabaya yang berlangsung 2-6 Desember. Megawati didukung oleh 256 dari 305 cabang, tetapi dihalangi.
 
22 Desember 1993
Dalam Rapat Paripurna I Musyawarah Nasional PDI yang diikuti oleh 27 DPD Megawati terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum DPP PDI periode 1993-1998.
 
Maret-Juni 1995
Megawati mengalami beberapa kali pencekalan di daerah Kediri, Bojonegoro, Pasuruan, Probolinggo, Sumenep, dan Surabaya serta seluruh wilayah Jawa Timur untuk bertemu dengan DPC.
 
27 Juli 1996
Perpecahan dalam tubuh PDI karena PDI kelompok Soerjadi yang didukung Orde Baru tidak mengakui Megawati sebagai ketua partai, berujung pada penyerbuan kantor DPP PDI di Jl. Diponegoro. Saat itu kantor diduduki simpatisan Megawati. Penyerbuan dilakukan oleh sekitar 1.000 orang yang diangkut beberapa truk. Lima orang meninggal, 149 luka-luka, 23 hilang, dan 136 orang ditahan.
 
15 Agustus 1996
Secara sepihak Soerjadi mencoret nama Megawati dari daftar keanggotaan DPR/MPR.
 
22 Mei 1997
Selaku pribadi Megawati memutuskan tidak menggunakan hak politiknya untuk memilih dalam pemilu 29 Mei 1997 dan meminta para pendukungnya untuk menggunakan hak politik sesuai dengan hati nurani masing-masing. Terkooptasinya wadah legal PDI oleh kepengurusan Soerjadi menyebabkan sebagian pendukung Megawati pada Pemilu 1997 mengalihkan suaranya pada PPP yang saat itu terkenal dengan istilah "Mega Bintang".
 
10 Oktober 1998
Megawati Soekarnoputri dan Alexander Litaay terpilih memimpin PDI periode 1998-2003 dalam Kongres V PDI di Bali. Diputuskan pula tidak mengganti nama dan lambang partai.
 
14 Februari 1999
Megawati mendeklarasikan pemakaian nama PDI Perjuangan (PDI-P) dengan lambang barunya di hadapan ribuan pendukungnya di Stadion Utama Senayan.
 
26 Juli 1999
PDI-P memenangi Pemilu legislatif 1999 dengan perolehan mencapai
35.689.073 suara atau 33,76 persen dari total jumlah suara.
 
20 Oktober 1999
Dalam pemilihan presiden ke- 4 RI di MPR RI, Megawati Soekarnoputri hanya meraih dukungan 313 suara atau kalah 60 suara dibanding KH Abdurrahman Wahid yang mendapat dukungan 373 suara. Akhirnya KH Abdurrahman Wahid terpilih sebagai presiden ke-4 RI.
 
21 Oktober 1999
Megawati Soekarnoputri terpilih sebagai Wakil Presiden untuk periode 1999-2004 melalui voting dengan meraih 396 suara.
 
23 Juli 2001
Megawati ditetapkan sebagai Presiden Republik Indonesia melalui Sidang Istimewa MPR menggantikan KH Abdurrahman Wahid.
 
26 Februari 2004
Megawati menyatakan keinginan untuk memenangi pemilihan umum presiden dalam satu kali putaran. Untuk itu dia meminta DPP PDI-P dan para tokoh partai agar menampung aspirasi masyarakat tentang calon wakil presiden yang akan mendampinginya.
 
6 Mei 2004
Megawati mengumumkan pencalonan dirinya sebagai presiden dan menempatkan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi sebagai calon wakil presiden di pelataran Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat.
 
10 September 2007
Dalam penutupan Rakornas PDI-P di Jakarta, Megawati menyatakan kesanggupannya untuk dicalonkan sebagai presiden dalam Pemilu Presiden
2009.
 
22 Juni 2009
Dalam rangka kampanye, Megawati Soekarnoputri menandatangani 11 kontrak politik dengan perwakilan petani di Rawalo, Banyumas, Jateng. Isinya antara lain pencabutan UU No 9/ 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan dan sistem kerja kontrak "outsourcing".
 
 
Keluarga:
Taufik Kiemas (suami, meninggal dunia)
Anak:
1. Mohamad Rizki Pratama
2. Mohamad Prananda Prabowo
3. Puan Maharani Nakshatra Kusyala

Litbang Kompas/FIS, disarikan dari pemberitaan Kompas dan sumber lain