Profil Tokoh

Maulwi Saelan

Maulwi Saelan
Benteng PSSI dan Soekarno
 
Sebutan “benteng beton” bagi Maulwi bukanlah mengada-ada. Pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Agustus 1928 ini merupakan pertahanan terakhir tim nasional sepak bola Indonesia saat menghadapi Uni Soviet. Maulwi juga menjadi “benteng” bagi Soekarno ketika terjadi kudeta 30 September 1965. Saat menjabat sebagai Ketua Umum, ia juga berhasil mengantar PSSI meraih berbagai prestasi di ajang internasional.

Maulwi Saelan adalah satu dari tujuh putera-puteri  pasangan Sukanti dan Amin Saelan, tokoh pergerakan Taman Siswa di Makassar dan penasihat organisasi pemuda. Kakak sulung Maulwi, Emmy Saelan, dikenang sebagai pejuang puteri yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda di daerah Kassi-kassi, Makassar, Sulawesi Selatan. Sementara adiknya, Elly Saelan, adalah isteri dari mantan Menhankam dan Panglima ABRI Jenderal M. Yusuf. Keluarga Saelan bukan asli dari Sulawesi Selatan, melainkan Sulawesi Utara.

Suatu waktu, ketika Maulwi berusia 8 tahun (1936) ia menonton film tentang pelari Amerika Serikat, Jesse Owens, yang tampil memukau di Olympiade Berlin. Maulwi cilik sangat terpikat dengan Jesse Owens dan berharap suatu saat kelak ia bisa tampil di pentas internasional melalui olah raga kesukaannya, sepak bola.

Sebelum cita-citanya tercapai, Maulwi muda sempat terlibat dalam berbagai aksi melawan Belanda. Saat ia menjadi pelajar setingkat SMP, Maulwi dan pelajar-pelajar lain mengorganisir penyerbuan Empress Hotel yang waktu itu menjadi markas NICA. Ia sempat ditahan dan di sana bertemu dengan Wolter Monginsidi, yang kemudian dikenal sebagai salah satu pemimpin perlawanan di Makassar.

Bersama Wolter, ia membentuk lascar gerilya yang diberi nama “Harimau Indonesia” beranggotakan para pelajar, termasuk Emmy Saelan. Setelah perjanjian Linggarjati, Maret 1947, Maulwi melanjutkan perjuangan di tanah Jawa. Ia ditunjuk sebagai Wakil Komandan Yon VII/CPM Makassar setelah Konferensi Meja Bundar 1949.

Medan pertempuran tidak menyurutkan cita-cita Maulwi untuk bisa bertanding dalam laga sepak bola internasional. Maulwi bergabung dengan timnas Indonesia di era 1951-1958 dan telah memberikan kontribusi besar dalam keberhasilan timnas Indonesia menembus empat besar Asian Games 1954 dan meraih perunggu pada Asian Games 1958.

Tujuh belas November 1956 impian besar Maulwi terwujud. Ia menjadi penjaga gawang sekaligus kapten tim nasonal Indonesia di Olympiade XVI di Melbourne, Australia. Waktu itu timnas Indonesia, yang lolos seleksi tingkat Asia, maju mewakili Asia berhadapan “beruang merah” Uni Soviet (salah satu tim terkuat Eropa dan dunia). Berulangkali Maulwi berhasil menyelamatkan gawang Indonesia dari serangan Uni Soviet. Pertandingan semifinal tersebut berakhir seri dengan skor 0-0. Pada pertandingan ulang, dalam kondisi letih dan banyak pemain cedera, timnas Indonesia akhirnya menyerah 0-4. Itulah prestasi tertinggi tim sepak bola Indonesia, yang belum pernah terulang lagi. Maulwi adalah anak didik Tony Pogacnick, pelatih dari Yugoslavia.

Sebagai pemain timnas, Maulwi dan kawan-kawan tidak dibayar. Mereka tidur di bawah tribun penonton Stadion Ikada (sekarang Monas). Empat tahun setelah Olympiade tersebut, Maulwi memutuskan pensiun. Ia sudah berada di timnas sekitar 10 tahun.
Saat Olympiade di Melbourne itulah nama Maulwi Saelan terdengar Bung Karno. Bung Karno sempat menanyakan nama ayah Maulwi. Dalam kunjungan ke Pare-pare, Sulawesi Selatan tahun 1958 Bung Karno bertemu kembali dengan Maulwi. Tahun 1962 Presiden membentuk Resimen Tjakrabirawa. Maulwi dipanggil Soekarno untuk mengisi  jabatan sebagai staf, dan kemudian menjadi wakil komandan menjelang peristiwa 30 September 1965.

Sekalipun sudah menjadi anggota Resimen Tjakrabirawa dan tidak aktif lagi bermain, Maulwi ikut mengorek “Skandal Senayan” di tahun 1962. Skandal suap tersebut melibatkan sebagian besar pemain penting timnas, sehingga pemain timnas nyaris dirombak total. Akibatnya, timnas Indonesia tersingkir di fase grup Asian Games Jakarta 1962.
Pada tahun 1964 Soekarno menugaskan Maulwi menjadi Ketua Umum PSSI. Kelak ia menduduki jabatan tersebut hingga tahun 1967, diputus karena ia ditahan.

Maulwi tidak ingin timnas hanya numpang lewat di Olympiade, Asian Games, atau ajang sejenis. Ia kemudian menciptakan kompetisi sebagai upaya menjaring bibit-bibit muda, Piala Suratin. Semasa kepemimpinannya PSSI kaya pengalaman melakukan pertandingan uji coba dengan tim-tim bermutu. Ia merombak susunan tim nasional agar tidak diskriminatif, sebab sebelumnya terdapat rentang lebar antara pemain senior dan muda. Melalui ajang Piala Suratin, PSSI semasa kepemimpinannya berhasil menjaring mutiara-mutiara muda, seperti Abdul Kadir, Anjas Asmara, Ronny Pattinasarany.

Tahun 1966 Maulwi Saelan menjadi ajudan Bung Karno dan menjadi penjaga yang setia. Maulwi menemani Bung Karno hingga akhir hayatnya. Setelah Soekarno wafat, para pengawalnya termasuk Maulwi, diperiksa oleh Tim Pemeriksa Pusat (Teperpu). Maulwi menolak menandatangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang isinya memojokkan Soekarno. Karena keteguhannya, Maulwi tidak diperkenankan pulang ke rumah hingga hampir 5 tahun. Ia dan kawan-kawannya, kecuali Bambang Widjanarko yang mau menandatangani BAP, ditahan tanpa pengadilan.

Pada usia menjelang 90 tahun, Maulwi hampir tak pernah datang lagi ke stadion menyaksikan pertandingan secara langsung. Menurutnya, PSSI sekarang terlalu rumit. Ia mengkritik gaya permainan timnas Indonesia yang  bermain tanpa pola karena tidak memiliki karakter permainan. Kepada Tribunnews.com ia mengatakan bahwa sepak bola itu merupakan sistem, formasi, strategi, dan taktik. Saat ini semua hal tersebut tak terlihat lagi.

Dalam suatu kesempatan Maulwi menyatakan: “Sepak bola adalah permainan masyarakat. Semua suka sepak bola. Kekurangan kita ada dalam pengelolaan dan pembinaan. Yang dibutuhkan adalah reorientasi dari berlandaskan materi menjadi nasionalisme. Landasan sepak bola Indonesia saat ini lebih pada materi. Padahal landasan sebenarnya adalah alat perjuangan. Selain itu, penting untuk memperbanyak latih tanding dengan tim dari negara luar. Tingkat IQ pemain juga menjadi hal penting karena mempengaruhi inisiatif.”

Maulwi diangkat menjadi anak ke-13 oleh Buya Hamka. Kini ia lebih banyak berkutat di dunia pendidikan sebagai Pembina Yayasan Syifa Budi, pengelola perguruan  Al-Azhar. (Litbang Kompas/FIS)

Sumber: pemberitaan Kompas, tribunnews.com, intisari-online.com, berdikarionline.com, historia.id, merdeka.com.

(Fransisca Istiyatminingsih/Litbang Kompas)
 
Biodata
 
Nama: Maulwi Saelan
Tempat/tanggal lahir: Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Agustus 1928.
Agama: Islam
Keluarga: Tjitji Awasi  (isteri)
 
Pekerjaan
·        Pemain tim nasional sepak bola Indonesia (sebagai penjaga gawang), 1951-1958
·        Kepala Staf Resimen Tjakrabirawa, 1962
·        Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, 1965
·        Ajudan  Presiden Soekarno, 1966-1967
·        Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, 1964-1967
·        Komisi Teknik Persija dan tim manajer kesebelasan PON IX DKI Jaya
·        Mendirikan Yayasan Syifa Budi (pengelola perguruan Al-Azhar), 1979
 
Pangkat: Kolonel CPM