Profil Tokoh

M. Azis Syamsuddin

M. Azis Syamsuddin
Politisi Partai Golongan Karya (Golkar), M Azis Syamsuddin, dipercaya memegang posisi sebagai Ketua Komisi III DPR RI periode 2014-2019. Sebelum malang melintang di partai politik dan parlemen, Azis Syamsuddin berkarier sebagai advokat dan bankir di beberapa perusahaan swasta sejak tahun 1994. Ia pun mendirikan Syam & Syam Law Office di Jakarta.

Putera bungsu dari lima bersaudara pasangan Syamsuddin Rahim dan Chosiah Hayum, menjalani kehidupan masa kecilnya dengan berpindah-pindah tempat. Sebagai karyawan BNI, ayah Azis beberapa kali dimutasi ke beberapa daerah, seperti Singkawang, Tanjung Balai, Jember, dan Padang.

Selepas bangku SMA di Padang, Azis sempat melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang, tetapi hanya setahun karena ia pindah ke Jakarta. Di Jakarta, Azis melampiaskan hobi berorganisasi dengan menjadi anggota Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas Trisakti (Usakti) dan Ketua III Dewan Mahasiswa Usakti. Kepiawaiannya berargumentasi membuatnya terpilih sebagai Ketua Senat Fakultas Hukum Usakti. Kemampuan berorganisasi dan memimpin organisasi kian terasah.

Kurun 1993-2003 merupakan fase awal bagi Azis menapak kariernya. Berbekal gelar sarjana ekonomi dari Universitas Krisna Dwipayana, Azis melamar kerja di AIA sebuah perusahaan asuransi asing. Tuntutan pekerjaan telah mengasah kemampuan Azis untuk berkomunikasi dan melobi orang. Belum genap setahun di AIA, Azis mencoba peruntungan di Bank Panin. Namun pekerjaan di belakang meja ini tidak sesuai dengan karakternya. Azis menyukai pekerjaan dengan mobilitas tinggi.

Merasa cukup bergelut di jasa keuangan, ia pun menjajal bidang yang lain, dunia pengacara. Suami Nurlita Zubaedah dan ayah dua anak ini ingin menguji kapasitasnya sebagai pengacara dan bergabung dengan Gani Djemat & Partners (GDP). Azis merasa betah di kantor barunya tersebut, karena kompetisi cukup ketat dan transparan. Kondisi ini kian memacu semangat Azis hingga pada tahun 1999 ia dinobatkan sebagai karyawan terbaik GDP. Pada tahun 2003 ia dipercaya menduduki posisi managing partner, sebuah posisi bergengsi selain chairman.

Sambil bekerja, Azis Syamsuddin terus mempelajari ilmu hukum hingga berhasil meraih gelar doktor bidang hukum pidana internasional dari Universitas Padjadjaran,Bandung, tahun 2007.

Satu per satu tantangan sudah berhasil ia lalui. Azis mencari tantangan lain dengan terjun ke dunia politik. Baginya berpolitik adalah pengabdian bukan pekerjaan. Setelah mempertimbangkan banyak hal, Azis memutuskan untuk bergabung dengan Partai Golkar. Keterlibatan politiknya dimulai dengan menjadi pengurus Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) dan pengurus DPD Golkar Kabupaten Tulang Bawang, Lampung.

Pada pemilihan anggota legislatif 2004, Azis mencalonkan diri sebagai caleg nomor 2 dari daerah pemilihan Lampung II. Pria kelahiran Jakarta, 31 Juli 1970 ini berhasil menjadi wakil rakyat sekalipun baru dua tahun bergabung ke Partai Golkar. Bukan itu saja, tahun 2008 ia pun dipilih menjadi Wakil Ketua Komisi III menggantikan Akil Muchtar yang terpilih menjadi Hakim Konstitusi di Mahkamah Konstitusi. Azis menjadi ketua fraksi termuda di parlemen.

Dalam pemilihan anggota legislatif berikutnya, Azis tetap mewakili daerah pemilihan Lampung II dan berhasil menduduki kembali kursi parlemen dengan dukungan 70.619 suara. Pengalamannya berorganisasi, berkomunikasi dan mempengaruhi orang lain, mendukung karier Azis sebagai politisi. Dalam Partai Golkar Azis berhasil menduduki jabatan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar tahun 2011-2015.

Azis pernah memiliki ambisi lain. Setahun menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta, Azis yang saat itu menjadi Wakil Ketua Komisi III DPR, menyatakan diri bakal maju sebagai calon gubernur dari Partai Golkar. Ia pernah berjanji akan melakukan perubahan dengan jargon "Me-Muda-kan Jakarta". Namun pada saat pilkada tahun 2012, Azis Syamsuddin batal mencalonkan diri.

Karier gemilang Azis tidak selalu mulus. Beberapa tahun lalu namanya sempat disebut oleh Ajun Kombes Teddy Rusmawan sebagai salah satu pihak yang menerima uang dari Djoko Susilo dalam kasus dugaan korupsi pembelian simulator berkendara.
Azis juga diduga terlibat dalam kasus M Nazaruddin.  Dalam dokumen keuangan Permai Grup perusahaan milik M Nazaruddin, tercatat ada pengeluaran untuk Azis dalam membantu Nazaruddin mendapat proyek pembangunan kawasan pusat pengembangan SDM Kejaksaan Agung, atau proyek Adhyaksa Center di Ceger. Dugaan tersebut telah dibantah oleh Azis.

Catatan lain tentang M Azis Syamsuddin adalah keterlibatannya dalam tim Prabowo-Hatta dalam pemilihan presiden 2014 yang lalu. Berita lain yang cukup menghebohkan adalah rekaman video perjalanan Aziz bersama Aburizal Bakrie dan Zalianty bersaudara ke Pulau Maladewa. Video tersebut dipublikasikan 20 Maret 2014.

(Fransisca Istiyatminingsih/Litbang Kompas)

Sumber: disarikan dari Kompas, Antara, dan berbagai sumber lain