Profil Tokoh

Luhut Binsar Pandjaitan

Luhut Binsar Pandjaitan
Luhut Binsar Pandjaitan dilantik sebagai Kepala Staf Kepresidenan di Istana Negara, Jakarta, oleh Presiden Joko Widodo pada 31 Desember 2014. Hampir delapan bulan kemudian, tepatnya 12/8/2015, Luhut juga dilantik sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) menggantikan Tedjo Edhy Purdijatno.

Selain dikenal sebagai salah satu orang yang memiliki hubungan dekat dengan Jokowi, Luhut juga masuk sebagai tim sukses pemenangan Joko Widodo-Jusuf Kalla saat Pilpres 2014. Luhut bahkan melepas jabatannya sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar demi mendukung Jokowi-JK.
 
Luhut Binsar Pandjaitan lahir di Simargala, Huta Namora, Silaen, Toba Samosir, Sumatera Utara, 28 September 1947. Putra Batak ini merupakan anak pertama dari lima bersaudara pasangan Bonar Pandjaitan dan Siti Frida Naiborhu. Sebagian masa remajanya ia lewati bersama keluarga di Rumbai, Riau. Perilaku Luhut remaja sempat membuat kewalahan orangtuanya. Oleh karena itu, mereka mengirim sang putera sulung ke Jawa, guna menempuh pendidikan menengah dan tinggi di sana.
 
Luhut pun hijrah ke Bandung tinggal bersama keluarga pamannya. Ia bersekolah di SMA Penabur dengan harapan dapat melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sudah top pada waktu itu.
 
Tahun 1966 Luhut duduk di bangku kelas tiga SMA. Situasi Jakarta yang memanas dengan berbagai aksi demo mahasiswa merembet ke Bandung. Para pelajar di Bandung, termasuk Luhut, berkumpul dan berinisiatif mendirikan kelompok tersendiri tanpa menggunakan kata “pemuda”. Mereka memilih kata “pelajar”. Saat itulah, Luhut dengan gagasannya menjadi salah satu pendiri Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) yang menghimpun pelajar dari berbagai sekolah menengah (swasta/negeri, umum/kejuruan/keagamaan) dan organisasi ekstra sekolah (Pelajar Islam Indonesia, PII, dan Gerakan Siswa Nasional Indonesia, GSNI).
 
Luhut aktif dalam organisasi KAPI dan menjadi salah seorang pemimpin aksi-aksi pelajar. Ia termasuk anggota yang setiap malam merancang “operasi” KAPI keesokan harinya. Salah satu tuntutan KAPI adalah pembubaran PKI.
 
Saat di bangku SMA itu pula Luhut menjalin hubungan dengan seorang gadis pelajar SMA Kristen Bandung, Devi boru Simatupang. Setamat SMA tahun 1967, Luhut memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke Akademi Militer (yang berganti nama menjadi AKABRI) bagian darat. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan militernya dalam 3 tahun. Tahun 1970 ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik.
 
Setahun kemudian, Luhut dan Devi menikah dan pasangan tersebut dikaruniai 4 anak. Luhut meniti karier militernya di Kopassus TNI AD. Di kalangan militer ia juga dikenal sebagai Komandan pertama Detasemen 81 yang sekarang disebut Detasemen Penanggulangan Teror (Gultor) 81.
 
Berbagai medan tempur dan jabatan penting telah disandang oleh penerima penghargaan Adimakayasa, penghargaan terhormat di Akademi Militer, antara lain Komandan Grup 3 Kopassus, Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif) di Bandung, hingga Komandan Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI Angkatan Darat. Saat menjabat Komandan Korem di Madiun, dia meraih prestasi sebagai Komandan Korem terbaik.
 
Ketika menjadi perwira menengah, pengalamannya berlatih di unit-unit pasukan khusus terbaik dunia memberinya bekal untuk mendirikan sekaligus menjadi komandan pertama Detasemen 81  kesatuan baret merah Kopassus, yang kemudian diakui salah satu pasukan khusus penanggulangan terorisme terbaik di dunia. Luhut membangun detasemen ini mulai dari nol, saat Panglima ABRI dijabat oleh Jenderal Benny Moerdani.
 
Pada tahun 1999 Presiden BJ Habibie mengangkatnya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura di era krusial awal reformasi. Luhut dianggap mampu mengatasi hubungan kedua negara yang sempat terganggu akibat kurang selarasnya komunikasi antar pemimpin negara sepeninggal Presiden Soeharto. Dalam 3 bulan pertama masa jabatannya, ia mampu memulihkan hubungan kedua negara ke tingkatan semula.
 
Lalu di masa Presiden Abdurrahman Wahid, Luhut ditarik dari Singapura sebelum masa baktinya berakhir. Gus Dur mempercayakannya sebagai Menteri Perdagangan dan Industri walau dalam periode yang singkat (2000 – 2001), sesingkat usia pemerintahan Gus Dur. Presiden di pemerintahan selanjutnya pun bermaksud untuk memercayakannya kembali sebagai menteri, tetapi Luhut menolaknya karena ia menjaga etika terhadap Gus Dur.
 
Luhut mendapat promosi pangkat jenderal berbintang tiga, kala dipercaya sebagai Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat di Bandung. Kemudian saat menjabat  menteri, Luhut dianugerahi pangkat jenderal berbintang empat purnawirawan.
 
Pada saat muda, Luhut aktif sebagai atlet renang karate, judo dan terjun payung. Bahkan sebagai atlet renang dari Provinsi Riau, dia pernah meraih medali PON di Bandung.
 
Setelah tidak lagi menjabat Menteri, Luhut yang merasa punya banyak waktu dan merasa memahami masalah olahraga, memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum KONI Pusat. Namun, dia harus mengakui dan menghormati pilihan peserta Kongres KONI yang memilih Agum Gumelar.
 
Desember 2000, Luhut mendirikan Yayasan Del, yang berarti “Pemimpin Yang Selangkah Lebih Maju Di Depan”. Bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), Yayasan Del mendirikan Politeknik Informatika (PI) Del . Kerja sama dengan ITB lebih pada perancangan kurikulum. Sekolah tersebut didirikan di kampung halamannya, di tepi Danau Toba sekitar 10 km dari Balige atau 250 km dari Medan. Luhut sengaja memilih lokasi tersebut untuk mempermudah masyarakat di daerah terpencil mengakses ke pendidikan tinggi yang berkualitas. Agustus 2001 diadakan pelantikan mahasiswa angkatan I sebagai penanda diresmikannya kegiatan akademi PI Del. Saat itu Luhut mengundang para duta besar negara-negara sahabat seperti Duta Besar Amerika Serikat, Australia dan Singapura ke Del.
 
Guna menghidupi yayasan dan sekolahnya, Luhut memutuskan terjun ke dunia usaha. Pada tahun 2004 ia merintis bisnis di bidang energi dan pertambangan dengan mendirikan PT Toba Sejahtra, induk usaha PT Toba Bara Sejahtra Tbk (produsen batu bara termal). Toba Bara memegang beberapa konsesi tambang di Kalimantan Timur sejak 2006. Luas keseluruhan konsesi tambang perseroan mencapai 7.087 hektare dengan total estimasi sumber daya 236 juta ton.
 
PT Toba Bara Sejahtra kemudian berkembang dan memiliki anak usaha yang bergerak di bidang produksi batu bara (PT Adimitra Baratama Nusantara, PT Indomining, dan PT Trisensa Mineral Utama), serta satu anak usaha di bidang produksi kelapa sawit (PT Perkebunan Kaltim Utama I).
 
Toba Sejahtra Grup sendiri mengendalikan langsung satu perusahaan pemegang konsesi batu bara, yakni PT Kutai Energi. Toba Sejahtra juga merambah bisnis lain, seperti sektor listrik, migas, hingga perkebunan.

(Antonius Purwanto/F. Istiyatminingsih/Litbang Kompas)


BIODATA

Lahir: Simargala, Toba Samosir, Sumatera Utara, 28 September 1947

Pendidikan:
·        SMA Penabur, Bandung
·        Akademi Militer Nasional (AMN), 1970
·        Master of Public Administration, George Washington University, USA, 1991
·        Sekolah Staf dan Komandan Angkatan Darat (SESKOAD)

Karier:
·        Militer
o   Pendiri Detasemen 81 (DEN 81), 1981
o   Komandan Kesatuan Anti-teror Detasemen 81 Kopassandha, 1983-1985,  1985-1987
o   Asisten Operasi Komandan Komando Pasukan Khusus (Asops Dankopassus), 1987-1992
o   Wakil Direktur Latihan Gabungan (Latgab) ABRI I, 1988
o   Komandan Grup III Pusat Pendidikan Pasukan Khusus, 1991
o   Danrem 081/Dhirotsaha Jaya (DSJ) Kodam V/Brawijaya, 1993-1995
o   Danrem Madiun, 1995
o   Komandan Pussenif, 1996-1997
o   Komandan Komando Pendidikan dan Latihan (Kodiklat), 1997-1999
o   Perwira Tinggi Mabes ABRI, 1999

·        Pemerintahan
o   Duta Besar RI untuk Singapura, 1999-2000
o   Menteri Perindustrian dan Perdagangan Kabinet Abdurrahman Wahid, 2000-2001

·        Dunia usaha
o   Komisaris Utama PT Kiani Kertas
o   Presiden Komisaris PT Toba Sejahtra, sejak tahun 2004
 
Penghargaan:
·        Bintang Nararya III
·        Satya Lencana Kesetiaan XXIV
·        Satya Lencana GOM VII/Dharma
·        Satya Lencana Penegak
·        Satya Lencana Seroja
·        Satya Lencana Garuda VIII
·        Satya Lencana Dwidya Sistha
·        Satya Lencana PBB
·        Bintang Yudha Dharma Nararya
·        Penghargaan Adhi Makayasa, 1970
·        Bintang Kartika Eka Paksi Nararya III/Prestasi, 1987
·        Komandan Korem Terbaik se-Indonesia, 1994
·        Penghargaan Dan Rem Terbaik, Madiun, 1995
·        Jenderal Kehormatan, 2000
 
Keluarga:
Istri: Devi boru Simatupang
Anak:
- Paulina Pandjaitan
- David Pandjaitan
- Paulus Pandjaitan
- Kerri Pandjaitan
 
Sumber: Litbang Kompas/PUR/FIS, diolah dari pemberitaan Kompas, laman luhutpandjaitan.com dan sumber lain