Profil Tokoh

Kuntoro Mangkusubroto

Kuntoro Mangkusubroto
Kuntoro Mangkusubroto adalah pakar sumber daya energi dan manajemen bisnis yang dihormati. Pemahamannya yang mendalam tentang peraturan internasional dan praktik-praktik pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, menjadi modal Koentoro saat aktif menjabat di pemerintahan dan sebagai akademisi.

Lahir di Purwokerto, 14 Maret 1947, Kuntoro Mangkusubroto dibesarkan dalam keluarga terpelajar. Ayahnya seorang pengacara dan ibunya dosen bahasa Inggris di Universitas Sudirman, Purwokerto. Kuntoro menjalani pendidikan SD hingga SMA di kota kelahirannya, Purwokerto.

Ia melanjutkan studi bidang teknik industri di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan meraih gelar sarjana S1 tahun 1972. Ia langsung diangkat menjadi dosen di almamaternya. Kemudian Koentoro melanjutkan studi di bidang industrial engineering, Stanfor University (1976). Ia pun mendalami bidang civil engineering di universitas yang sama (1977). Gelar master sudah diraih, lalu ia melanjutkan studi di ITB dan mendapat gelar doktor bidang teknik industri dengan disertasi tentang analisis keputusan (1982).

Kuntoro adalah Profesor Madya pada Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia ikut mendirikan Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB pada tahun 2003.

Pada tahun 1983 Kuntoro direkrut kantor Sekretaris Negara menjadi staf ahli Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (UP3DN) Ginanjar Kartasasmita, dan menjadi Pembantu Asisten Administrasi Menteri Sekretaris Negara RI Safaruddin Husada (1984). Tahun 1988 ia diangkat menjadi Direktur Utama PT. Tambang Batubara Bukit Asam, Tanjung Enim, Palembang.

 Desember 1989 Kuntoro diangkat menjadi Direktur Utama PT Tambang Timah. Jabatan itu diembannya hingga 1994. Di bawah kepemimpinannya PT Tambang Timah yang nyaris karam, untuk pertama kalinya (1991) tidak merugi. Kuntoro berhasil memperbaiki kinerja BUMN tersebut. Ia melakukan kebijakan restrukturisasi besar-besaran meliputi empat aspek, yakni reorganisasi, relokasi kantor pusat dari Jakarta ke Pangkal Pinang, pelepasan aset dan rekonstruksi. Dalam rangka reorganisasi, Kuntoro juga melakukan rasionalisasi. Separuh karyawan "pensiun dipercepat" dan hanya 12 ribu yang dipertahankan.

Keberhasilannya memimpin PT Tambang Timah membuatnya dipercaya untuk memimpin Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Departemen Pertambangan dan Energi (Deptamben), 1993. Pemikirannya mewarnai kebijakan pemerintah dalam mengembangkan industri pertambangan. Namun tanpa diduga, tahun 1996 ia dipecat dari jabatan itu karena kasus tambang emas Busang, Kalimantan Timur.

Kariernya ternyata belum tamat. Pada tahun 1998 Presiden Soeharto mengangkatnya menjadi Menteri Pertambangan dan Energi. Presiden BJ Habibie tetap mempertahankannya pada posisi tersebut. Namun dalam pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, pencinta olah raga mendaki gunung itu harus melepas jabatannya untuk digantikan Susilo Bambang Yudhoyono.

Setelah tidak aktif di pemerintahan, Kuntoro diangkat menjadi Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), 12 Januari 2000, menggantikan Adhi Satriya yang mengundurkan diri Desember 1999. Pada Maret 2001 dia digantikan Eddie Widiono Suwondho, dan kembali mengabdikan diri di almamaternya sebagai Ketua ITB School of Business (2001).

Pada tahun 2005 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengangkatnya menjadi Kepala BP-BRR Aceh Nias (Kepala Badan Pelaksana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara) melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2005, yang ditandatangani 29 April 2005. Presiden SBY  melantiknya di Istana Negara, Jakarta, Sabtu 30 April 2005.

Setelah menyelesaikan masa jabatannya tahun 2009, Kuntoro kembali ke Istana. Presiden SBY mengangkatnya sebagai kepala unit strategis yang disebut Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4). Kuntoro diminta presiden SBY menyusun rencana pembangunan lima tahun. Saat pelantikan, SBY mengatakan bahwa Kuntoro adalah mata dan telinganya.

UKP4 adalah sebuah unit kerja yang dibentuk untuk menjalankan tugas-tugas khusus sehubungan dengan kelancaran pemenuhan program kerja Kabinet Indonesia Bersatu II. UKP4 berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada presiden. Dalam melaksanakan tugasnya, UKP4 dibantu oleh Wakil Presiden serta berkoordinasi dengan—serta memperoleh informasi dan dukungan teknis dari—kementerian, lembaga pemerintah non-kementerian, pemerintah daerah (Pemda), dan pihak lain yang terkait.

Kuntoro, seperti halnya Dipo Alam yang menjabat Sekretaris Kabinet, merupakan para pemain kunci Istana yang sangat kuat dan punya akses langsung ke SBY. Mereka pun dekat dengan Ginandjar Kartasasmita sejak era pemerintahan Soeharto.

Kuntoro termasuk dalam jajaran 14 menteri kabinet Pembangunan VII pemerintahan Soeharto, yang secara serempak atas komando Ginandjar Kartasmita sebagai Menko Ekonomi saat itu, menyatakan mengundurkan diri dari kabinet pemerintahan Soeharto (20 Mei 1998). Pada 21 Mei 1998 Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden.

Selepas menjabat Kepala UKP4, Kuntoro  kemudian ditunjuk menjadi komisaris independen di PT Holcim Indonesia Tbk. Penunjukan ini bagian dari hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) PT Holcim Indonesia Tbk di Sasono Mulyo I & II, Le Meridien Jakarta, (19/5/2015).

(Antonius Purwanto/Litbang Kompas)


Biodata
 
Lahir: Purwokerto, Jawa Tengah, 14 Maret 1947
Pendidikan:
·        S1 Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB), 1972
·        Program Master Jurusan Industrial Engineering, Stanford University, AS, 1976
·        Program Master Jurusan Civil Engineering, Stanford University, AS, 1977
·        Program Doktor Ilmu Teknik Bidang Ilmu Keputusan, ITB, Bandung, 1982
 
Perjalanan karier :
·        Dosen Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, sejak 1972
·        Sekretaris Pusat Penelitian Transportasi dan Komunikasi, ITB, 1982-1985
·        Penasihat Kepala Perusahaan Jawatan Kereta Api, 1982-1985
·        Staf Ahli Menteri Muda Urusan Peningkatan dan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (UP3DN), 1983-1988
·        Pembantu Asisten Administrasi Menteri Sekretaris Negara RI Safaruddin Husada, 1984
·        Direktur Utama PT Tambang Batubara Bukit Asam, 1988-1989
·        Direktur Utama PT Tambang Timah, 1989-1994
·        Direktur Jenderal Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi RI, 1993-1997
·        Komisaris Utama PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), 1994
·        Deputi Bidang Perencanaan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), 1997-1998
·        Menteri Pertambangan dan Energi Kabinet Pembangunan VII, masa kerja 14 Maret 1998-21 Mei 1998
·        Menteri Pertambangan Kabinet Reformasi Pembangunan, 1998-1999
·        Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara, 2000
·        Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pembangunan, 2009-2014
·        Komisaris independen di PT Holcim Indonesia Tbk., 2015
 
Legislatif:
·        Anggota MPR dari Utusan Golongan, 1992-1997 dan 1997-1999
 
Kegiatan lain:
·        Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni ITB periode 1987-1992
·        Anggota Kelompok III Dewan Riset Nasional, 1994-1999
·        Anggota Dewan Pembina Persatuan Insinyur Indonesia, 1994-1999
·        National Council Northeastern University, 1995
·        Anggota Center For Strategic Leadership, 1995
·        Ketua Komite Komite Audit Bursa Efek Jakarta, 2002
·        Ketua Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, 2005
·        Ketua Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, 2010
·        Komite Nasional Perumusan Visi dan Agenda Pembangunan Pasca Sasaran Pembangunan Milenium Tahun 2015 (Post-2015 Development Agenda), 2012
·        Salah satu pendiri sekaligus pengajar Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, sejak resmi berdiri 31 Desember 2003
·        Ketua Dewan Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB
 
Penghargaan:
·        ASEAN Engineering Excellence Award ASEAN
·        Satyalancana Dwidya Sistha, 1987
·        Satyalancana Wira Karya, 1991
·        Adhicipta Rekayasa: PII Award for Engineering Excellence, 1995
·        Satyalancana Pembangunan, 1995
·        Penghargaan Dharma Karya dari Departemen Pertambangan & Energi RI, 1995
 
Keluarga
Istri: Tuti Hermiatin
Pasangan ini dikaruniai lima anak.
 
Sumber: Litbang Kompas/PUR, diolah dari pemberitaan Kompas, laman kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id dan sumber lainnya

Update: 10 Agustus 2015