Profil Tokoh

Basuki Tjahaja Purnama

Basuki Tjahaja Purnama
Basuki Tjahaja Purnama adalah putra daerah Manggar, Belitung Timur. Nama Mandarinnya adalah Zhong Wan Xie dan populer dengan panggilan Ahok. Ia merupakan keturunan Tionghoa pertama yang dipercaya warga Belitung Timur untuk menduduki jabatan sebagai Bupati.

Basuki merupakan putera sulung dari  pasangan Indra Tjahaja Purnama (Zhong Kim Nam) dan Buniarti Ningsih (Bun Nen Caw). Keluarga dan tetangga memanggilnya Koh Ahok. Koh adalah sebutan untuk kakak laki-laki dalam bahasa Cina. Menurut cerita lain, ayah Basuki memanggilnya dengan nama khusus Banahok, yang berarti tidak pernah berhenti belajar. Itulah harapan ayahnya. Panggilan itu bergeser menjadi Ahok dan hingga sekarang Basuki sering dipanggil Ahok.

Ayah Basuki seorang kontraktor dan dikenal sebagai pengusaha yang kritis terhadap manipulasi dalam proyek-proyek pemerintah maupun PT Timah. Tidak heran jika usaha sang ayah sering diganggu pihak yang memusuhinya.

Basuki dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mengutamakan kegigihan, kejujuran dan kedermawanan. Orang tua, terutama ayah Basuki, cukup keras menanamkan nilai-nilai tersebut kepada anak-anaknya. Ayah Basuki bahkan tidak segan-segan menolong orang lain sekalipun dirinya berkekurangan.

Pengalaman hidupnya membuat ayah Basuki berkesimpulan, bahwa anaknya perlu menjadi pejabat. Pejabat berwenang membuat kebijakan yang dapat  mendorong pembangunan sosial kepada masyarakat, tidak hanya memberi bantuan sosial.

Basuki menghabiskan masa kecil dan remaja di kampung halaman di Belitung Timur. Ia melanjutkan sekolah ke Jakarta. Lulus SMAK III PSKD, Jakarta pada 1984, Basuki sempat mendaftarkan diri pada Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) sesuai keinginan ayahnya, dan sempat mengikuti kuliah selama seminggu. Namun ia memutuskan pindah ke Fakultas Teknologi Mineral Jurusan Teknik Geologi Universitas Trisakti, Jakarta. Gelar insinyur diraihnya pada tahun 1989.

Basuki terus melanjutkan pendidikannya ke tingkat lebih tinggi. Ia berhasil mendapat gelar Magister Manajemen pada 1993 dari Sekolah Tinggi Manajemen Prasetya Mulya, Jakarta.

Suami dari Veronica Tan ini sempat aktif sebagai ketua majelis Gereja Kristus Jemaat Mangga Besar Rayon II Pluit hingga tahun 2003. Basuki memulai karier di dunia politik pada tahun 2003.

Karier politik berawal dari keterlibatannya dalam partai politik. Basuki menjadi Ketua DPC Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB) Belitung Timur dan langsung sibuk mengurus verifikasi agar PPIB bisa ikut Pemilu 2004. Pada Pemilu 2004, Basuki mencalonkan diri sebagai anggota DPRD dari PPIB.  PPIB kalah telak tetapi masih mendapat sisa pembagian suara dan mengirim Basuki sebagai wakil partai di legislatif untuk periode 2004-2009.

Pada tahun 2005, Basuki mencalonkan diri menjadi Bupati Belitung Timur. Basuki menerapkan kampanye tanpa uang. Ia sudah memupuk modal sosial sejak menjadi anggota legislatif. Basuki menolak praktik KKN, menolak mengambil uang perjalanan dinas (SPPD) fiktif,  dan rajin bertemu dengan warga untuk mendengarkan keluhan mereka.

Basuki tetap mempertahankan strategi kampanye sebelumnya, mengajar dan melayani masyarakat dengan memberikan nomor teleponnya agar mereka dapat tetap berhubungan langsung dengannya. Berpasangan dengan Khairul Efendi, Basuki memenangkan kontestasi politik lokal dengan perolehan suara 37,13 persen, dan menjadi Bupati Belitung Timur periode 2005-2010. Basuki mencatat rekor sebagai bupati Indonesia pertama yang beretnis Tionghoa.

Enam belas bulan menjabat sebagai bupati, Basuki mundur untuk mengikuti pemilihan Gubernur Bangka Belitung. Dia didampingi Eko Cahyono sebagai wakil gubernur. Sekalipun ia berhasil mendapat dukungan 63 persen pemilih di Belitung Timur, namun secara keseluruhan Basuki-Eko  hanya memperoleh 166.561 suara atau 32,60 persen. Perolehan ini berselisih 14.080 suara dari pasangan Eko Maulana Ali-Syamsuddin Basari di peringkat pertama. Basuki kalah.

Pada pemilu legislatif 2009, Basuki terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014 dari Partai Golkar. Pada tahun 2012, Basuki diajukan oleh Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) untuk mendampingi Joko Widodo pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Jokowi-Basuki meraih 2.472.130 suara pada putaran kedua, menguasai 53,82 persen suara dari 4.592.945 suara sah. Pasangan ini dilantik sebagai pemimpin Jakarta periode 2012-2017 pada 15 Oktober 2012.

Perjalanan politiknya yang kerap berpindah partai membuatnya dicibir sebagai “kutu loncat”. Namun Basuki punya pertimbangan lain. Menurutnya, loyalitas ditujukan ke masyarakat, bukan partai. Pada 10 Sepember 2014 Basuki mengundurkan diri dari keanggotaan Partai Gerindra, yang ia anggap sudah tidak sejalan lagi dengan dirinya. Partai Gerindra mendukung pemilihan kepala daerah oleh DPRD, sementara ia tetap mendukung pemilihan langsung oleh rakyat.

Basuki Tjahaja Purnama resmi dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 19 November 2014 menggantikan Joko Widodo yang terpilih sebagai Presiden RI ke-7.
 
 
Biodata

Nama                        : Basuki Tjahaja Purnama
Tempat/tanggal lahir : Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966

Pendidikan
  • SD Negeri III Gantung, Belitung Timur, 1977
  • SMP Negeri I Gantung, Belitung Timur, 1981
  • SMAK III PSKD, Jakarta, 1984
  • Sarjana Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral Universitas Trisakti, Jakarta, 1989
  • Magister Manajemen Sekolah Tinggi Manajemen Prasetya Mulya, Jakarta, 1994
 
Pekerjaan
  • Direktur Eksekutif Center for Democracy and Transparency (CDT 3.1)
  • Direktur PT Nurindra Ekapersada, 1992-2005
  • Staf Direksi Bidang Analisa Biaya dan Keuangan PT Simaxindo Primadaya, 1994-1995
  • Anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur dari Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB), 2004-2005
  • Bupati Belitung Timur, 2005-2006
  • Anggota DPR RI dari Partai Golongan Karya (Golkar), 2009-2012
  • Wakil Gubernur DKI Jakarta (diusung Partai Gerakan Indonesia Raya/Gerindra), 2012-2014
  • Gubernur DKI Jakarta, 2014-sekarang (nonpartai sejak 10 September 2014)
 
Penghargaan
  • Penghargaan 10 Tokoh yang Mengubah Indonesia dari Majalah Tempo, 2006
  • Bung Hatta Anti-Corruption Award, 2006
  • Pin Emas dari Forum Demokrasi (Fordeka), 2006
  • Tokoh Antikorupsi 2006 dari Koalisi Kebersamaan Tiga Pilar Kemitraan, 2007

Karier Kepartaian
  • Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB), 2004-2009
  • Partai Golongan Karya (Golkar), 2009- 20 Maret 2012
  • Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), 2012-10 September 2014
  • Nonpartai, 10 September 2014-sekarang
 
Keluarga
Isteri: Veronica Tan
Anak: 1. Nicholas
          2. Nathania
          3. Daud Albeenner
 
(Yan Syahrial/Litbang Kompas)
 
Sumber:
  • Purnama, Basuki Tjahaja. 2008. Merubah Indonesia. Jakarta: Center for Democracy and Transparency
  • Bua, Piter Randan. 2014. The Ahok Way. Jakarta: PT. Visi Anugerah Indonesia
  • Pemberitaan Kompas
  • http://ahok.org