Profil Tokoh

Amran Sulaiman

Amran Sulaiman
Nama Amran Sulaiman mulai sering muncul di media sejak Presiden Jokowi menugaskannya untuk memimpin Kementerian Pertanian. Presiden Jokowi menganggap Amran sebagai orang muda yang berhasil membangun pertanian, dan dinilai mampu memperbaiki kinerja pemerintah di bidang pertanian yang kerap mencatat defisit neraca perdagangan.

Pria kelahiran Bone, 27 April 1968, ini menyelesaikan pendidikan tingginya hingga jenjang doktor di Fakultas Pertanian Universitas Hasanudin, Makasar, Sulawesi Selatan. Sejak masih mahasiswa, Amran melakukan berbagai penelitian berkaitan dengan pembasmian hama tikus. Akhirnya, Amran berhasil menemukan alat pengempos racun tikus yang lebih efisien dan efektif daripada alat yang sudah ada. Penemuan tersebut ia patenkan tahun 1995.

Amran pernah menjadi dosen di almamaternya, lalu beralih pekerjaan sebagai pegawai PTPN XIV. Karier Amran di PTPN cepat menanjak. Selama enam tahun ia mendapat promosi jabatan empat kali.

Menurut catatan, PTPN XIV merupakan lembaga yang acap bermasalah dengan warga di Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Sejak tahun 2009 sengketa lahan antara PTPN XIV dan warga sudah mengorbankan puluhan warga, termasuk mereka yang tertembak aparat keamanan.

Keluar dari PTPN XIV, pria yang masih memiliki darah keturunan Raja Bone itu, kian giat menekuni dunia bisnis sebagai produsen racun tikus. Beberapa catatan menyatakan bahwa Amran pernah menjadi peneliti yang memegang lima hak paten. Salah satu temuannya adalah racun tikus Tiran 58PS dan alat pembasmi tikus, Alpostran. Racun temuannya tersebut kemudian ia produksi dan jual melalui CV Empos Tiran, yang  dibangun sejak 1996. 

Usaha racun tikus ini kemudian berkembang menjadi holding Tiran Group. Tiran itu sendiri merupakan singkatan dari “tikus diracun Amran”. Sedangkan Alpostran adalah singkatan “alat empos tikusnya Amran”. Ada sepuluh perusahaan di bawah bendera Tiran Group: 
1. PT Tiran Indonesia (tambang emas)
2. PT Tiran Sulawesi (perkebunan tebu dan sawit)
3. PT Tiran Makassar (distributor Unilever)
4. PT Tiran Bombana (emas, timah hitam)
5. PT Tiran Mineral (tambang nikel)
6. PT Amrul Nadin (SPBU percontohan Maros, Sulawesi Selatan)
7. CV Empos Tiran (produsen rodentisida/racun tikus)
8. CV Profita Lestari (distributor pestisida)
9. CV Empos (distributor semen Tonasa)
10. PT Bahteramas (pabrik gula di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara)
 
PT Tiran Group bekerja sama dengan perusahaan Timur Tengah akan membangun dua unit pabrik gula di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Tujuannya, memenuhi kebutuhan gula khusus untuk wilayah Indonesia Timur yang mencapai 240 ribu ton per tahun. Saat ini pabrik gula yang ada baru dapat memenuhi 40 ribu ton.

Keberatan Walhi lainnya adalah kepemilikan usaha di bawah PT Tiran Group yang  bergerak di bisnis ekstratif, atau usaha yang kegiatannya mengambil hasil alam secara langsung, seperti PT Tiran Indonesia, PT Tiran Bombana, PT Tiran Mineral.

Karena kegiatan bisnisnya dinilai merusak lingkungan, Walhi menganggap Amran tidak layak menduduki jabatan menteri. Walhi beranggapan aktivitas pertambangan tidak ramah lingkungan dan sering merampas lahan warga. Salah satu contoh adalah pertambangan emas PT Tiran Indonesia, yang mendapat izin kuasa pertambangan seluas 900 hektar di Kec. Rarowatu, Kab. Bombana, Sulawesi Tenggara. Izin kuasa pertambangan tersebut juga meliputi lahan warga seluas 7,5 hektar. Pemilik lahan tidak mengizinkan PT Tiran Indonesia melakukan eksplorasi di lahannya. Namun perusahaan tersebut tetap melakukan pengolahan dengan menggunakan alat berat tanpa izin warga.

Protes warga juga terjadi di daerah Konawe Selatan terhadap PT Tiran Sulawesi. Mereka menganggap perusahaan tersebut tidak pernah melakukan sosialisasi dan amdal sebagai syarat mutlak. Kehadiran perusahaan dinilai telah memicu konflik antara pemilik lahan dan pendatang program transmigrasi di Kabupaten Konawe Selatan. Oleh karena itu, Bupati Konawe Selatan dituntut untuk menghentikan seluruh aktivitas PT Tiran Sulawesi di Kecamatan Moramo, Kecamatan Kolono, dan Kecamatan Wolasi.

Aksi ini juga terjadi pada September 2011. Warga memrotes pembebasan lahan untuk perkebunan tebu oleh PT Tiran Group di Kec. Tinangganea. DPRD Konawe Selatan sempat melakukan hearing dengan pihak perusahaan.  

PT Tiran telah mengantongi izin dari Bupati dan berencana untuk menggunakan areal lahan seluas 40 ribu hektar dan 20 ribu hektar untuk Plasma. Dengan izin tersebut, PT Tiran telah melakukan pengukuran lahan yang diizinkan oleh pemerintah, termasuk membebaskan lahan masyarakat. Dalam rangka pembebasan lahan, PT Tiran telah menyiapkan dana ganti rugi antara Rp 1 juta – 2,5 juta per hektar, serta memiliki target mendirikan pabrik tebu di wilayah itu.

Hingga Oktober 2014 Amran Sulaiman masih menjadi Direktur PT Tiran Sulawesi yang bergerak di sektor perkebunan sawit dan tebu di Kabupaten Konawe Selatan. Perusahaan baru melakukan pengaplingan lahan dan belum ada aktivitas produksi (Suara Kendari, 31/10/2014).

Melalui media, Amran menjawab keraguan beberapa pihak terhadap dirinya. Ia menyatakan akan berkomitmen untuk fokus menjalani tugas sebagai menteri. Sejak resmi menjadi menteri, Amran menegaskan tidak akan mengurusi perusahaan dan berjanji tidak memperbolehkan perusahaan dan keluarganya masuk dalam proyek Kementerian Pertanian.

Selain catatan sebagai pengusaha sukses yang ikut membantu petani dengan racun tikusnya, Amran juga dikenal sebagai Koordinator Sahabat Rakyat Indonesia Timur. Kelompok ini merupakan ujung tombak pemenangan Jokowi-JK dan ia dikenal cukup dekat dengan Jusuf Kalla.

Hal lain yang menarik dari bisnis Amran adalah menjadi distributor Unilever untuk Indonesia Timur. Unilever adalah perusahaan modal asing yang memproduksi barang kebutuhan sehari-hari. 

Kepada media Amran sempat menyatakan bahwa ia siap mati demi membela nasib petani. Amran sempat bersilang pendapat dengan Menteri Perdagangan yang dianggapnya gampang mengeluarkan kebijakan impor bahan pangan dari luar negeri. Sementara, Presiden menargetkan swasembada pangan 2018. Apakah pengembangan bahan pangan lokal sungguh menjadi fokus perhatian Amran, mengingat ia adalah distributor produk Unilever?

(F. Istiyatminingsih/Litbang Kompas)


BIODATA

Nama: Amran Sulaiman (bergelar Andi)
Tempat/tanggal lahir: Bone, 27 April 1968
Keluarga: Martati (isteri)
Anak:     1. Amar Ma’ruf
               2. Athira
               3. Muh. Anugrah
               4. Humairah
 
Pendidikan:
S1 - Fakultas Pertanian Universitas Hasanudin, 1993
S2 – Pasca Sarjana Pertanian Universitas Hasanudin, 2003
S3 – Program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Hasanudin, 2012
 
Karier:
·        Dosen Fakultas Pertanian Universitas Hasanudin, Sulawesi Selatan
·        Merintis usaha racun tikus dengan melakukan penelitian selama lebih dari 2 tahun, 1989-1992
·        Amran mulai memasarkan racun tikus hasil penelitiannya (Tiran), yang ia sebut sebagai masa uji coba, 1992-1998
·        Pegawai PTPN XIV:
o   Kepala Field Operation di Pabrik Gula Bone, Sulawesi Selatan, 1994-1995
o   Koordinator Umum Proyek Gula Tinanggea, Kendari, Sulawesi Tenggara, 1997-1998
o   Asisten Manager SBU Gula PTPN XIV, 2007-2008
o   Kepala Bagian Logistik PTPN XIV wilayah Timur, 2008-2009
·        Pendiri dan CEO Tiran Group (dimulai dengan CV Empos Tiran), 1996
·        Instruktur Wirausaha Mandiri dan UKM, sejak 2011
·        Dosen Luar Biasa Wirausaha dan UKM, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin
·        Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional, 2009-2014
 
Amran Sulaiman adalah pemegang:
·        Hak Paten Alat Empos Tikus “Alpostran” dari Menteri Kehakiman RI, 1995
·        Surat Izin Khusus Pestisida Tiran 58PS dari Menteri Pertanian RI, 1997
·        Surat Izin Tetap Pestisida Tiran 58PS dari Menteri Pertanian RI, 1998
·        Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan di Bidang Wirausaha Pertanian dari Presiden RI, 2007
·        Penghargaan FKPTPI Award tahun 2011 di Bali
·        Surat Izin Tetap Pestisida, Ammikus 65PS dari Menteri Pertanian RI, 2011
·        Surat Izin Tetap Pestisida Ranmikus 59PS dari Menteri Pertanian RI, 2012
·        Surat Izin Tetap Pestisida Timikus 64PS dari Menteri Pertanian RI, 2012
·        Hak Paten Alpostran (Alat Empos Tikus modifikasi) dari Menteri Kehakiman, 2014
 
Penghargaan
·        Mendapat anugerah Satyalancana dari Presiden SBY karena dianggap sukses melakukan pengentasan hama pertanian di 168 kabupaten, 2007

Sumber: Litbang Kompas/FIS, diambil dari pemberitaan Kompas, laman antara.com, indonesia.go.id, media lain

Update: 18 Agustus 2015