Profil Daerah

Prov. Nusa Tenggara Barat

Prov. Nusa Tenggara Barat
Nama Resmi : Provinsi Nusa Tenggara Barat
Ibukota : Mataram
Luas Wilayah : 18.572,32 Km²
Jumlah Penduduk : 5.155.440 Jiwa
Suku Bangsa : Sasak, Sumbawa, Mbojo
Agama : Islam, Kristen Protestan, Budha, Hindu, Katolik
Wilayah Administrasi : 8 Kabupaten, 2 Kota, 116 Kecamatan, 136 Kelurahan,
826 Desa
Lagu Daerah : Orlen-orlen
Website : www.ntb.go.id

 

 



(Permendagri No.39 Tahun 2015)

 







Arti Logo

  • Perisai, sebagai bentuk luar atau latar belakangnya, melambangkan kebudayaan/ kesenian Rakyat Propinsi Nusa Tenggara Barat dan juga melambangkan jiwa kepahlawanannya.
  • Tulisan berbunyi Nusa Tenggara, ialah nama daerah yang berpemerintahan sendiri yang terdiri dari Pulau Lombok dan Sumbawa.
  • Rantai, yang terdiri dari 4 berbentuk bundar dan yang 5 berbentuk segi empat : melambangkan kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945.
  • Butiran padi sebanyak 58 butir, daun Kapas 17 dan Bunga Kapas 12 kuntum, yang kesemuanya adalah melambangkan kelahiran Provinsi Nusa Tenggara Barat tanggal 17 Desember 1958.
  • Bintang Lima, melambangkan 5 sila dari pada Pancasila.
  • Gunung yang berasap, menunjukkan Gunung Rinjani, Gunung Berapi yang tertinggi di Pulau Lombok.
  • Menjangan, menunjukkan binatang yang banyak sekali terdapat di Pulau Sumbawa.
  • Kubah, melambangkan penduduk Provinsi Nusa Tenggara Barat yang taat dan patuh melaksanakan perintah-perintah agamanya.
  • Warna Biru, melambangkan Kesetiaan Daerah Nusa Tenggara Barat pada perjuangan bangsa Indonesia, serta kesetiaan kepada pemerintah RI.
  • Warna Hijau, melambangkan kemakmuran, cita-cita kita semua dan juga tanda kesuburan dari daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
  • Warna Putih, melambangkan Kesucian, keluhuran rakyat Provinsi Nusa Tenggara Barat yang senantiasa taat, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang langsung pula menjiwai rakyatnya, bercita-cita luhur dan suci serta tindak tanduk baik rohaniah maupun jasmaniah berdasarkan kesucian.
  • Warna Kuning, melambangkan Kejayaan, keberanian berjuang atas dasar kesucian dan akan membawa kita pada kejayaan.
  • Warna Hitam, melambangkan Abadi, kejayaan berdasarkan atas landasan yang luhur akan abadi.
  • Warna Merah, melambangkan Keberanian, kepahlawanan berjiwa hidup dan dinamis untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.


Nilai Budaya

Kepercayaan: Penduduk asli seluruhnya merupakan pemeluk agama Islam, sedangkan penduduk pendatang umumnya pemeluk agama Hindu yang dianut oleh suku bangsa Bali yang banyak tinggal di kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat, sedangkan agama Kristen dan Katolik, Budha relatif kecil penganutnya.

Upacara-upacara Adat
  • Suku Sasak Selamat Tian/Bubus Tian adalah upacara yang dilakukan masyarakat sasak untuk mendoakan bayi yang ada di dalam kandungan pada saat kehamilan umur 7 bulan, agar bayi yang ada di dalam kandungan lahir selamat. Medaq Empat atau Buung Awu adalah upacara kelahiran dan masa bayi.
  • Ngurisan adalah upacara Cukur rambut bayi.
  • Nyunatang adalah upacara Hitanan.
  • Berkikir adalah upacara menghaluskan gigi, membuat lebih baik, lebih halus dan rata.
  • Merariq adalah upacara perkawinan.
  • Bedudus upacara memandikan calon penganten.
  • Sorong Serah upacara mengantar pengantin menuju ke rumah orang tuannya penganten wanita.
  • Suku Samawa Biso Tian adalah upacara yang dilaksanakan pada masyarakat Samawa untuk mendoakan wanita yang sedang hamil pertama pada saat usia kehamilan mencapai 8-9 bulan dengan tujuan agar ibu dan bayinya mendapat keselamatan.
  • Turun Ampar (turun dari tempat tidur adalah upacara yang dilaksanakan pada hari ke 7 setelah bayi dilahirkan pada hari ini untuk pertama kalinya bayi ditidurkan di tempat biasa (kasur/tikar) sebab selama 7 hari 7 malam harus digendong oleh 9 orang wanita secara bergantian. Baterok adalah upacara yang dilaksanakan pada waktu melubangi daun telinga bagi anak-anak wanita. Gunting Bulu adalah upacara mencukur rambut. Basunat adalah upacara Khitanan. Tama Lamong adalah upacara bagi anak wanita yang memasuki usia dewasa. Berasaq adalah upacara bagi anak pria yang memasuki dewasa.
  • Berodak adalah upacara menjelang malam resepsi pengantin (sama dengan malam midodareni jawa).
  • Suku Mbojo Salam Lako (selamatan perut).Qeka (Akikah).
  • Cafi Sari (Menyapu/membersihkan lantai).
  • Boru (potong rambut).
  • Dore (menyentuhkan telapak kaki bayi di atas tanah disimpan pada sebuah piring putih).
  • Mberi Ngara (pemberian nama).
  • Suna Ro Ndoso (khitanan).
  • Compo Sampati (pemasangan baris).
  • Compo Kawari (pemasangan perhiasan yang terbuat dari emas untuk anak perempuan).
  • Ndoso (meratakan dan membersihkan gigi secara simbolik dengan menggigit sepotong kayu, yang bergetah yang dapat menguatkan gigi).
  • Kapanca (penempelan inai di telapak tangan calon penganten putri).
  • Tawori/Pemaco (ramah tamah kedua penganten dan sanak saudara).

Falsafah hidup masyarakat setempat
Dalam kehidupan sehari-hari di Daerah Nusa Tenggara Barat dikenal beberapa ungkapan-ungkapan tradisional antara lain sebagai berikut:
  • Suku Sasak falsafahnya “BARENG ANYONG JARI SEJUKUNG" artinya kita kalau sudah satu perahu biarlah hancur-hancuran dan harus sehidup semati.
  • Suku Mbojo falsafahnya “AI NA KANI ILMU MBIA OO MA ESE DI HANTA MA AWA DI TONDA" artinya jangan pakai ilmu belah bamboo yang diatas diangkat-angkat yang dibawah diinjak-injak. Selain itu mereka punyai nasehat yang baku terhadap siapapun yang akan merantau “Maja Labo Dahu" artinya malu dan takut.
  • Suku Samawa falsafahnya “LAMIN TUTU SAYANG KEMANG JOLO PUIN LEMA TUNGKA MA LEMA BELO MO NYUMPING" artinya bila kamu betul-betul mencintai sekuntum bunga, kalau pohonnya condong harus segera ditopang agar kita abadi menyumping, jadi kita dingatkan untuk segera menyelesaikan berapa derajat condongnya pohon bunga tersebut, angin jenis apakah yang menerpanya dan lain sebagainya tanpa usaha segera menopangnya. Apa sebabnya harus segera diselesaikan agar tidak terjadi krisis kepercayaan dikalangan masyarakat. AI MENENG, TUNJUNG TILAH, EMPA’ BAU yang artinya air tetap jernih, bunga tetap utuh, ikanpun dapat ditangkap. Desa Darat Kita yang Senap semu Nyaman Nyawe yang artinya dalam membangun Nusa Tenggara Barat agar menjadi daerah yang aman, tentram dan damai.